2013/04/30

DESKRIPSI DENGAN PENGEMBANGAN OBERVASI MENURUT SPASI DAN WAKTU

My Job

Pukul dua belas aku pulang dari kampus, ku langkahkan diri langsung ke tempat kerja. Pancaran sinar matahari yang tajam menyengat di siang hari kini telah ku rasakan di tubuhku, rasanya seperti sedang berjemur di bawah trik matahari, telapak kaki yang ku lapisi dengan kaos kaki pun terasa sekali dengan pancaran sinar matahari.
Setengah jam kemudian aku pun sampai di tempat kerja. Pondok Cabe Ilir empat inilah alamat pekerjaan ku yang letaknya pas di depan panti asuhan. Samping kanan ada foto copyan dan samping kirinya ada Warung Tegal (WARTEG).
Pintu utama berkaca ini pun di tutup, tetapi aku tetap masuk dan ku buka sepatu ku taruh di rak sepatu yang letaknya kira-kira lima meter samping kiri pintu utama. Di ruang depan ada meja resepsionis tetapi siang ini tidak ada yang duduk di kursi resepsionis karena jam istirahat, samping kanan meja resepsionis ada setumpuk kursi plastic, kursi plastic yang biasanya untuk duduk orang tua murid ataupun tamu. Di ruang utama ini pun ada sebuah televise yang biasanya orang tua murid atau resepsionis menontonnya supaya tidak jenuh.
Ku masuki pintu kedua, ruangan inilah yang biasanya untuk flash card tetapi siang ini belum ada satu anak pun yang kelihatan karena anak-anak ini masuk pada jam tiga, empat dan lima sore. Sambil menunggu anak-anak aku pun shalat dhuhur, makan siang di tempat kerja ku ini, terkadang aku sampai tertidur di sini. Ruangan ini yang ku lihat hanyalah lemari, lemari yang berisi berkas anak-anak dan kartu-kartu bahasa Inggris.
Pukul setengah tiga, anak-anak pun mulai berdatangan dan aku pun mulai sibuk. Sibuk flash card bersama anak-anak. Kini aku telah di sekelilingi sama anak-anak kecil yang masih sekolah dasar kelas satu dan dua, berwajah imut-imut yang masih berwajah amat lugu. Karena banyaknya anak-anak yang flash card maka di bagi menjadi dua, sebagian sama saya sebagian sama Mrs. Ety. Mrs. Ety ini seorang resepsionis, beliau bukan saja seorang resepsionis tetapi juga terkadang memainkan flash card bersama anak-anak, begitu juga saya selain resepsionis aku pun terkadang flash card bersama anak-anak.
Anak-anak flash card hanya setengah jam karena satu jam berikutnya mereka harus masuk kelas belajar yang sesungguhnya. Karena jarum panjang sudah menandakan pada angka dua belas anak-anak pun masuk kelas karena jam tiga mereka harus masuk ke kelas masing-masing. Setelah anak-anak masuk ke dalam kelas aku pun tetap duduk di ruang flash card sambil menunggu anak-anak yang masuk di jam empat dan jam lima.

2013/04/29

DESKRIPSI DENGAN PENGEMBANGAN OBSERVASI MENURUT SPASI DAN WAKTU


 FAJAR DI ALUN-ALUN KOTA BOGOR

            Pukul lima, eloknya fajar di alun-alun kota Bogor. Matahari mengintip tanda akan segera terbit ke timur yang perlahan mulai tampak pancaran sinarnya. Dinginnya embun pagi belum tergantikan dengan panasnya matahari ketika tepat di atas kepalaku.
Pada saat cahaya kemerah-merahan di langit sebelah timur menjelang matahari terbit ini, puluhan pedagang kaki lima bersiap menghamparkan terpal mereka dengan meja-meja kecil tersusun rapi di atasnya. Diiringi suara hentakan kaki, lompatan kecil pejalan kaki yang sedang joging, melintas.
Gemericik air mancur yang letaknya di depan jajaran puluhan pedangang itu tak pernah terhenti hingga saat seperti ini. Sepanjang jalan Pajajaran mulai dipenuhi oleh orang-orang yang sudah kelihatan capek setelah berolahraga sejak pukul empat tadi sambil menunggu waktu berangkat bekerja.
Peristiwa dimana sisi teratas Matahari muncul di atas horizon di timur ini disekelilingku terlihat wajah-wajah semangat pedagang memulai mengais rupiah dari ramainya alun-alun ketika fajar tiba. Ricuh terdengar di sisi kiriku antara suara gaduhnya mesin pemotong rumput petugas kebersihan kota Bogor di taman air mancur yang tepat di depan alun-alun dengan celotehan percakapan kumpulan orang yang berdatangan.
Aku pun telah selesai sekedar berkuliner setelah berolahraga karna matahari pun sudah hampir sepenuhnya muncul di balik pohon beringin besar yang letaknya kira-kira tiga puluh meter di sebelah kananku, tepat di hadapan air mancur. Sebentar lagi tempat ini akan ramai oleh suara hilir-mudik kendaraan orang-orang yang berbelanja sayuran segar, berangkat ke sekolah, dan bekerja.
Pukul tujuh nanti pedagang akan berkemas tenda-tendanya sambil menghitung penghasilan hariannya dan bersiap pulang, beristirahat, atau menyiapkan dagangan untuk fajar di esok hari. Aku pun sudah akan bersiap berangkat kuliah, sementara orang-orang yang ku lihat di alun-alun tadi akan melakukan aktivitas di pagi hari seperti biasanya.


2013/04/28

Deskripsi dengan pengembangan observasi menurut waktu dan spasi




Tengah Malam di Warnet Angkasa


   Tengah malam aku meninggalkan rumah untuk pergi ke warnet angkasa sepanjang aku berjalan masih terlihat warung yang masih buka dan beberapa gerobak nasi goreng yang masih siap menanti para pembeli, sehingga aku memberanikan diri untuk pergi ke warnet (warung internet) yang melayani para pencinta sosial media, game online, dan dunia maya meski mata tak semangat di siang hari tetapi para pelanggan tetap nyaman dan damai di tempat duduknya masing-masing dengan mata terfokus ke layar komputer meskipun sesekali terlihat lalu lalang untuk sekedar ke toilet atau telah usai bermain dan bergegas pulang. Hanya terdengar suara alunan musik kelasik dan percakapan beberapa anak muda di teras depan warnet angkasa ini, walaupun tengah malam warnet ini tetap di penuhi para pencinta hiburan dunia maya.
   Udara yang menusuk tulang malam hari ini memang tidak begitu terasa di dalam ruangan berbeda sekali pada saat aku keluar dari rumah menuju warnet angkasa ini. Aku pun duduk di bagian pinggir kanan tepat samping pintu masuk utama, yang terlihat selain monitor, keyboard dan mouse, terlihat  juga di atas dinding AC yang diam tak menyala seolah sedang beristirahat, dan di sampingnya terdapat jam dinding berwarna hitam dengan angka-angka putih menunjukan tepat pukul 23:45, udara pun semakin lama semakin mulai terasa masuk ke ruangan terlihat dari ayunan gorden berwarna biru yang melambai-lambai tepat di balakang aku duduk.
   Entah apa yang harus aku lakukan dan harus memulai dari mana untuk memainkan komputer ini yang terpikirkan hanyalah tugas penulisan populer yang belum aku kerjakan. Sesekali aku menengok kanan dan kiri dan merasakan suasana mulai terasa sepi dan lebih tenang karena hanya beberapa saja yang terlihat masih memainkan komputer nya, sebagian sudah pulang dan mungkin akan tidur karena waktu sudah semakin larut. Aku pun masih tetap bertahan meskipun beberapa kali mata mulai kelelahan, sesekali aku melihat jam di layar komputer dan terkejut waktu sudah menunjukan pukul 1:55, lalu aku pun langsung menengok ke atas dan melihat jam dinding yang semenjak tadi memperhatikanku, ternyata benar waktu sudah pagi dan menunjukan pukul 2:00, hanya berbeda lima menit dari waktu yang terdapat di komputer.
   Akupun masih semangat untuk memainkan komputer, hingga tak terasa angin mengganggu ku masuk dari belakang membuat tubuh ku kedinginan. Aku pun berbalik dan menutup jendela rapat-rapat. Suara pun menjadi lebih tenang dan sunyi berbeda sekali dengan waktu aku pertama kali masuk ke warnet angkasa ini, alunan musik telah dimatikan menandakan waktu sudah larut dan ke bisinganpun mulai dialihkan dengan ke sunyian. Anak-anak muda pun yang tadi berbincang di teras depan sudah tidak ada hanya terlihat puntung rokok dan kulit kacang yang berserakan,  Aku merasa seperti sendirian karena sudah tidak terdengar lagi adanya kehidupan, lalu aku mulai merasa gelisa dan melihat jam kembali ternyata jarum pendek jam dinding menunjukan setengah tiga, tampaknya ini waktu yang tepat untuk mensudahi kumputer yang aku mainkan ini. Lalu aku bergegas untuk ke kasir dan membayar.
   Dan ternyata suasana pun sepi seperti perumahan yang tidak berpenghuni sudah tidak terlihat lagi adanya kehidupan, berbeda sekali seperti tadi aku berangkat masih terlihat warung yang buka, dan beberapa tukang nasi goreng yang mangkal. Aku berjalan dan jalanku mulai aku percepat walaupun sesekali aku jumpai binatang malam yaitu tikus hitam yang berlalu lalang di jalanan mungkin mereka seperti menyambut ku dan berkata selamat beristirahat.



2013/04/27

deskripsi dengan pengembangan observasi menurut wakktu dan spasi


GERSANG DI PAMULANG

-          Mia Pratiwi -

Pukul sebelas, suatu terik di Pamulang. Matahari begitu tepat berada di atas kepalaku  memancarkan sinar dan panas menyengat kulitku yang begitu terasa gersang ketika aku sedang di luar. Rasanya berbeda sekali dengan ketika aku berada di ruangan berAC yang rasanya sejuk dan segar seperti sedang menenggak minuman yang didalamnya berisikan es.
Pada waktu seperti sekarang ini, biasanya perjalanan macet karena bertepatan dengan waktunya bubar sekolah atau jam makan siang mahasiswa bahkan orang kantoran. Paling hanya terlihat beberapa ojek yang mangkal dan angkot yang ngetem (menunggu penumpang) sambil kipas-kipas kegerahan. Bukan hanya karena panas teriknya matahari tapi juga karena padatnya kendaraan yang membuat cuaca terasa gersang.
Bunderan pamulang yang tepat berada di depan kampus yang selalu padat merayap dikelilingi motor dan mobil juga angkutan umum yang lalu lalang pun membuat keadaan menjadi semakin pengat dan sangat menyengat karena saut menyaut suara klakson dan ocehan ocehan kasar dari supir angkot yang membuat panas telinga. Beda sekali dengan saat sore tiba atau sekitar jam dua, jalanan begitu teratur sepi dan terasa sejuk dengan hembusan angin sore.
Di depan gerbang kampus dan di depan polsek sudah siap ojek yang mangkal untuk mengantarkan mahasiswa atau anak sekolah, begitu juga dengan angkot yang mengantre yang tidak mau kalah dengan ojek yang siap mengangkut anak sekolah ataupun mahasiswa yang hendak pulang. Begitu jelas terasa panasnya siang itu karena asap-asap kendaraan dan suara-suara klakson menandakan kesabaran orang-orang.

DESKRIPSI RUANGAN, POLA OBSERVASI MENURUT PENGEMBANGAN SPASI




RUANG PERPUSTAKAAN YANG INDAH

Saat kubuka pintu perpustakaan disebuah Universitas Pamulang, udara sejuk serta segar seketika yang aku rasakan. Rasa sejuk ini berasal  dari sebuah alat pendingin yang bernama AC. Siapa pun orang yang masuk pasti mereka akan merasakan udara yang sejuk dan tenang yang tergambarkan suasana di perpustakaan. Ruangan ini begitu rapi,  bersih, dan indah, ruangan yang berlantaikan dua ini memiliki luas kira-kira sepuluh kali lima belas meter ini dipenuhi  dengan berbagai macam buku-buku. Disetiap sudut ruangan perpustakaan ini terdapat rak buku untuk menempatkan buku-buku disana, buku-buku tersebut disusun dengan sangat rapi  berdasarkan kategori  buku atau pelajaran. Dan diatas ruangan ini terdapat lampu-lampu yang indah yang dapat menerangi dan mempercantik ruangan ini.
Disamping tembok terdapat berbagai foto-foto pahlawan, peta Indonesia, Dunia dan tempelan tempelan peringatan, seperti dilarang bicara keras-keras, dilarang makan di area perpustakaan dan dilarang merokok. Disetiap ruangan ini terdapat juga beberapa bangku dan meja yag biasa dipakai oleh para mahasiswa untuk belajar dan membaca buku yang mereka pinjam. Ada juga beberapa fasilitas disana seperti seperangkat komputer yang sudah terkoneksi dengan internet.
Ketika ku arahkan pandangan kedepan perpustakaan, aku melihat sesosok lelaki muda yang sedang mencatat nama mahasiswa yang meminjam buku diperpustakaan, terlihat diatas meja kerja lelaki itu sangat rapi dan tertata keraoihan meja kerh=ja itu mungkin mencerminkan bahwa sang penja perpustakaan itu sosok orang mencintai kebersihan dan kerapihan.
Tepat dipinggir tembok jendela yang dihiasi gorden dengan warna senada dengan waran cat perpustakaan. Dari balik gorden itu kita bisa melihat aktivitas para mahasiswa diluar kelas. Disebelah jendela terdapat beberapa majalah, artikel, koran dan lain-lain yang tergantung dengan rapi berdasarkan namanya. Didalam perpustakaan juga terdapat loker yang bisa digunakan para mahasiswa untuk menaruh sesuatu, dan terdapat sebuah ruangan kecil yang biasa dikatakan toilet.
Dua lemari besi abu-abu tepat disebelah badanku yang menempel didinding perpustakaan ini adalah tempat penyimpanan semua surat-surat dan buku-buku yang penting. Walaupu lemari besi itu sudah cukup tua tapilemari ini masuih terlihat bagus. Disetiap pintu rak buku bertuliskan buku apa saja yang tersimpan didalamnya

DESKRIPSI SPASI DAN WAKTU "PAGI HARI DIPUNCAK"


PAGI HARI DIPUNCAK

Pagi sebelum fajar, suasana yang damai dan tenang disebuah Villa kawasan Puncak Bogor.Matahari yang masih terselimuti embun pagi masih membuat suasana disini semakin dingin. Pancaran sinar matahari yang biasanya menerangi daerah Puncak kini menjadi begitu sangat dingin dan sejuk, rasanya seperti sedang berada di dalam lemari es.
Pada saat sekarang ini, kebanyakan masyarakat sudah terbangun dari tidur. Yang masih tersisa rasa dingin menemani tubuh ini. Tak terdengar suara kendaraan , yang ada hanya ketenangan dan udara segar  yang aku rasakan saat ini.
Pintu gerbang yang terletak kira-kira seratus meter di depanku, yang malam tadi tak pernah terbuka, karena banyaknya binatang dan orang-orang yang mencurigakan masuk kedalam rumah.
Di sekelilingku yang jelas terdengar adalah suara jangkrik serta gemerisik suara tetesan air hujan yang mengguyur kawasan Bogor. Mang Karta adalah salah satu penjaga Villa sekaligus tukang kebun. Mulai melakukan aktifitas pada pagi-pagi sekali.
Burung-burung gereja berterbangan di antara dedaunan poho ncemara dan angsana, sesekali terdengar suara binatang disela-sela keheningan ini.
Dari sebelah kiri , di pelataran villa terdengar sayup-sayup suara percakapan  yang mirip suara Mang Karta dan Bi Minah. Ternyata mereka semua sedang membereskan dan membersihkan villa berserta halamannya.
Mang Karta dan Bi Minah telah selesai membersihkan pelataran villa tempatku menginap. Mataharipun mulai memancarkan sinarnya dari sela- sela daun, seketika rasa hangat menyeruak ditubuhku. Sebentar lagi tempat ini akan ramai hiruk-pikuk oleh suara teman-temanku.
Pukul sepuluh nanti semua teman-temanku termasuk aku sendiri akan pulang.  Para pedagang akan berkumpul di sekitar villa untuk menjajakan barang dagangnya. Aku pun sudah akan tiba di rumah. Semantara tempatku menginap akan terlihat sepi dan hening sepanjang malam terkecuali ada orang-orang luar yang menginap disana dan tempat ini akan terlihat ramai kembali.

tangisan taman matahari



Tangisan Taman Matahari

Pukul 15.30 WIB. Aku dan teman-teman baru sampai di tempat rekreasi. Ketika ku baru keluar dari mobil, terdengar suara ributan angin yang hebat membuat rasa dingin menjadi-jadi dan hujan-hujan kecil  menyerbu mengarah kepada aku dan teman-teman. Sorakkan anak-anak  dari arah timur, semakin asyik bercanda ria bersama teman-temannya bermain air di kolam.
ketika kami berjalan berlarian mencari dan mengejar tempat loket, untuk mendaftarkan diri bermain di tempat rekreasi tersebut. Ternyata bukan kami saja yang tergesah-gesah tapi masih ada orang orang disekitar kami berlarian. Ada yang berlari untuk berangkat pulang ke rumahnya, ada yang berlari mencari tempat untuk tidak kebasahan pakaiannya dan ada juga yang berlari untuk membeli tiket masuk ke tempat rekreasi tersebut.
Di perjalanan masuk, masih saja hujan-hujan kecil menyerbu dan membasahi pakaian kami. Cuma kami saja yang berjalan memasuki tempat permainan, orang lain hanyalah sebagai penonton diluaran. Ketika kami berhenti di bawah pohon besar yang memang muat dan pas dengan tubuh-tubuh kami. Diskusi bersama, untuk yang mana yang harus dimainkan. Setelah berdiskusi banyak perbedaan pendapat yang satu ingin renang dan yang satunya lagi ingin main di atas air. Berdiskusi bersama lagi dan kami sepakati 6 orang main air  sedangkan aku dan 1 temanku bermain di atas air. Dan kami juga sudah menyepakati pulangnya.
Setelah usai diskusi, maka kami pun berpencar mencari apa yang akan kami mainkan yang tadi kami diskusikan. Sudah ketemu permainannya, dan mulailah kami memainkan. Senyum, tawa, canda, ria menyatu di dalam perasaan kami. Walaupun berpencar dan tak tau bagaimana kondisi hati masing-masing tetapi kami berniat ke tempat ini untuk bersenang-senang.
Jam sudah menempatkan pukul 18.00 WIB. Tak terasa hari sudah gelap, mataharipun menyelinap ke awan untuk beristirahat semalaman. Kami pun berkumpul kembali di luar tempat rekreasi. Duduk-duduk bersama di samping mobil kami, yang memang kami sedang berada di tempat parkiran khusus mobil. Setelah beristirahat, kami lanjutkan bersiap-siap untuk pulang. Dan tempat rekreasi pun beristirahat, mengumpulkan stamina untuk pengujung yang datang keesokkan hari.

kosanku



KOSANKU


Pukul 10:30 ,siang itu aku keluar atau pulang dari kampus,tidak terlalu jauh keberadaan kosanku dari kampus hanya 5 atau 10 menit saja perjalananku dari kosan kekampus,sebelum pukul 12:00 siang hari yang sangat menyengat tiap harinya apabila aku pulang dari kampus.
Akupun tiba dikosan,setibanya dikosan akupun bergegas mengambil nasi dan lauk-pauknya akupun menyantapnya dengan lahap karena sedari tadi dikelas atau dikampus perutku sudah keroncongan minta diisi ,makanya pulang kuliah aku langsung makan.
Tepat pukul 12:00 kosanku terasa panas sekali seprti matahari berada diatas kepalaku begitu dekatnya,padahal dikosanku lubang anginpun ada dan akupun menyalakan ac atau kipas angin yang ada dalam kosanku akan tetapi tetap saja siang itu sungguh terasa panas sekali,dan padahal kosanku cukup besar kalau hanya ditempati oleh dua orang saja akan tetapi apabila siang itu aku masuk kedalam kosanku terasa amat sangat panas sekali akupun sebenarnya tidak tahan merasakan panas apabila aku berada dikosan akan etapi bukan hanya aku yang merasakan panas dikosan pada siang hari itu,penghuni lainpun ternyata merasakanya,dan tidak hanya siang hari saja panas itu terasa bahkan pada malam haripun terasa panas.
Dan kadang apabila hujan turun lebat sekali kosanku bisa kebanjiran,walaupun memang banjirnya tidak separah yang biasa ibu kota jakarta kebanjiran,dikosanku kalau kebanjiran hanya semata kaki saja,kalaupun begitu aku tetap saja  kerepotan karena harus membersihkan bekas banjir.

deskripsi tengah malam



Tepat Tengah Malam

Sudah tengah malam, tepat pukul 01.19, aku merasakan suasana yang sepi dan sunyi. Yang aku dengar saat ini hanyalah putaran jam yang selalu berputar memutari waktu, dan suara kipas angin yang selalu berputar memeberikan udara yang sejuk dan dingin.
Pukul tengah malam ini suasana tenang baru kurasakan, karena sejak tadi aku hanya mendengar suara-suara bising dari kendaraan yang melewati depan rumahku. Karena rumahku tepat berada di pinggir jalan raya, kendaraan yang berlalu-lalang membuat aku merasakan ketidak nyamanan berada di rumah. Karena yang kudengar hanya suara mesin-mesin dari kendaraan yang berisik berbagai jenis kendaraan yang melintas di depan rumahku, dari yang beroda dua hingga kendaraan-kendaraan besar seperti truk-truk yang lewat di depan rumahku.
Di dalam kamarku, aku merasakan kenyamanan, tidur di kasur yang empuk. Kipas angin yang selalu berputar memberikan kesejukan bagiku. Aku tidur ditemani oleh beberapa boneka yang ada di atas kasur tempat tidurku, ada boneka tedy bear, pisang, angry bird dan doraemon.
Di samping kiriku ada sebuah lemari besar yang berdiri kokoh. Menyimpan berbagai jenis pakaianku. Dari pakaianku sejak kecil hingga pakaian yang saat ini selalu ku pakai untuk pergi bekerja dan pergi kuliah. Di depanku berjarak 3 meter yang tertempel bebrapa foto-foto diriku dengan keluarga dan seseorang yang spesial dalam kehidupanku.
Setiap hari aku selalu tidur di kasur ini dengan beberapa boneka ini. Di pojok kiriku ada meja rias dimana aku selalu merias diri jika aku hendak keluar dari kamar dan beranjak dadri tempat tidurku.
Di tengah-tengah kamarku tepatnya di belakang pintu ada meja belajar yang berisikan map-map, buku-buku mata kuliah dan arsip-arsip penting lainnya. Selain dokumen-dokumen ini juga ada laptopku yang tersimpan rapih di atas meja belajar yang selalu siap untuk ku pakai. Lantai kamarku pun penuh dengan helaian rambutku yang rontok.
Tepat di ujung pojok kananku ada pintu,  pintu yang bisa menuju ruang tamu maupun ruang kamarku. Di balik pintu kamarku tergantung pakaian, kerudung, dan rok-rok yang bekas ku pakai dan belum kusimpan di kamar mandi untuk dicuci bersih.
Waktu pun terus berjalan dan aku pun mulai merasakan ngantuk yang sangat dahsyat, aku segera beristirahat dengan lelap dan nyaman di kamar tidurku. Rumahku pun menjadi sepi karena orang-orang di rumahku sudah tertidur lelap untuk menyambut mentari esok yang cerah.