2013/06/17

modifikasi cerita Sangkuriang dengan gaya kilas balik


Modifikasi Cerita Sangkuriang dengan gaya Kilas-Balik
                                                                                       Oleh : Ika susilarini


             Kini aku , Tumang suamiku, dan sangkuriang anakku hidup bersama disebuah hutan belantara, jauh dari daerah keraton kerajaan ayahku dulu. Sudah lama aku meninggalkan kerajaan, dan memilih hidup bersama suamiku Tumang dihutan ini. Tak ada yang mengetahui keberadaanku sekarang, begitu pula ayahku Raja Sungging Perbangka yang mengusirku dari kerajaan. Satu tahun silam aku memutuskan pergi meninggalkan istana karena ayahku tak merestui hubunganku dengan Tumang suamiku. Ayahku merasa kecewa pada ku karena aku lebih memilih Tumang dibandingkan dengan calon suami yang sudah dipilihkan oleh ayahku.
         Aku masih ingat saat ayahku mengusirku dari keraton kerajaan karena aku lebih memilih seekor anjing untuk menjadi suamiku dibanding dengan calon suami yang sudah ayah siapkan untukku yang rata-rata adalah seorang keturuan bangsawan. Waktu itu banyak para raja yang meminangku, tetapi seorang pun tidak ada yang aku terima. Akhirnya para raja saling berperang di antara sesamanya. Aku pun merasa jadi bahan pertaruhan para raja-raja itu, dan aku memutuskan untuk mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yaitu Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang tengah digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah sampai berulang-ulang kali. Aku merasa lelah dan merasa malas untuk mengambil teropong yang jatuh kelantai,  karena merasa malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, 
“ Aku berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh bila berjenis kelamin laki-laki, akan dijadikan suamiku, dan bila berjenis kelamin perempuan akan kujadikan saudraku“   Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada ku. Karena aku telah berjanji seucap kata, maka aku harus memenuhi janjiku. Dan akhrinya aku menikah dengan Tumang, seeokor anjing yang kini menjadi suamiku.
Dan setelah satu tahun pernikahan ku dengan Tumang, aku memepnyai seorang anak laki-laki yang kuberi nama Sangkuriang.
    Suatu hari aku rasa perutku terasa perih dan entah mengapa lidahku mendambakan daging rusa. Tanpa pikir panjang aku menyurh Sangkuriang pergi berburu rusa di hutan.
“ Sangkuriang, pergilah kau berburu ke hutan, ibu ingin makan daging rusa yang sepertinya lezat untuk santapan makan malam nanti “
tanpa banyak kata lagi, sangkuriang langsung berkata “ Iya bu, aku pergi dengan Tumang ke Hutan berbru rusa. Ibu tunggu saja di rumah nanti aku pulang bawa daging rusa “,, sangkuriangpun pergi menuju hutan dan tak lama sosok sangkuriang tak terlihat oleh aku seperti dimakan dedaunan yang rindang.
“ Daging rusanya terasa beda, baunya juga kurang sedap. Kau tangkap rusa di hutan mana sangkuriang”
“ Di hutan keramat bu..” ( jawab sangkuriang pendek)
Aku baru sadar ternyata saking senangnya mendapat buruan rusa yang didapat oleh Sangkuriang, Tumang suamiku terlupakan. Aku beranjak dari kursi tempat makan, aku melihat disekitar rumah tak kulihat keberadaan suamiku.
“ Mana Tumang , Sangkuriang ???? “
“ aa aaa aaa annu... anuu buu, Tumang,, tumang,,tumang “
“Apa maksud mu Sangkuriang, ibu tak paham”
“ Tumang aku bunuh di hutan, karena aku tadi tak mendapatkan rusa saat berburu. Aku takut ibu marah padaku karena aku tak mendapatkan rusa. Dan daging ini bukan daging rusa, melainkan daging si Tumang bu, anjing kita yang aku bunuh di hutan. “
Mataku terbelakak kaget mendengar apa yang diceritakan oleh anakku Sangkuriang. Aku marah dan sangat murka kepada Sangkuriang. Ku lemparkan sebatang kayu ke arah wajah Sangkuriang, tapi Sangkuriang langsung menutupi wajahnya dengan tangannya. Seketika aku berkata “ Pergi kau dari sini, aku tak sudi mempunyai anak seorang pembunuh seperti kau. Tumang adalah ayah mu... “
Sangkuriang pergi mengembara mengelilingi dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur akhirnya sampailah di arah barat lagi dan tanpa sadar telah tiba kembali di tempat Dayang Sumbi, tempat ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi - ibunya. Terminological kisah kasih di antara kedua insan itu.
     Tanpa sengaja aku  mengetahui bahwa Sangkuriang adalah puteraku, dengan tanda luka di tangannya, yang dulu pernah aku pukul dengan sebatang kayu. Aku pun langsung meberitahu Sangkuriang bahwa aku adalah ibunya. “ Aku ibu mu nak,,yang dulu mengusirmu dari rumah” .
Walau demikian Sangkuriang tetap memaksa untuk menikahiku. Aku meminta agar Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
“ Buatkan aku perahu dan telaga dalam waktu satu malam, kalau samapai terbit fajar kau tak bisa memenuhi persyaratanku, aku anggap kau gagal, dan tak bisa meminangku “
“Akan ku lakukan untuk mu permaysuriku”
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan bantuan para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Aku bermohon kepada Sang Hyang Tunggal agar maksud Sangkuriang tidak terwujud. Lalu aku menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Lalu Sangkuriang terus mengejar aku, aku pun berlari kearah Gunung Putri.Sangkuriang pun kehilangan jejakku, dan di gunung itu aku bersembunyi dari kejaran Sangkuriang dan Sang Hyang Tunggal mengutukku menjadi setangkai bunga jaksi.


Tidak ada komentar: