2014/04/30

Review Novel dan Film

NOVEL DAN FILM

BAB 1
PENDAHULUAN
1. Pengarang Tidak Puas
Motinggo Busye adalah orang yang terdorong untuk terjun ke dunia film karena merasa kecewa dengan skenario (naskah film) yang didasarkan pada lakonnya. Malam Jahanam. Armijn Pane pun pernah mengalami kekecewaan serupa. Dramanya yang berjudul Antara Bumi Langit diangkat ke layar lebar perak oleh sutradara Huyung (1951). Karena pertimbangan komersial, “tidak saja nilai sastra yang terkandung dalam karya Armijn itu tidak terungkap lagi, bahkan jadi rusak sama sekal, oleh karena itu, Armijn Pane tidak bersedia namanya sicantumkan sebagai penulis cerita asli.

2. Penonton Kecewa
Sesungguhnya ketidakpuasan dan kekecewaan tadi tidak hanya datang dari pihak pengarang. Penonton film pun sering kecewa menonton film yang didasarkan pada novel-novel tertentu. Ketika novel Cintaku di Kampus Biru (karya Ashadi Siregar) difilmkan Ami Prijono (1976). Sebagian penonton menyatakan rasa kecewa yang berkisar pada tidak cocoknya jalan cerita film dibandingkan dengan novel aslinya. Begitu pula ketika cerita Lupus (karya Hilman Hariwijaya) difilmkan oleh Achiel Nasrun (1987). Sebagian penonton film Lupus kecewa karena tokon Poppi menjadi agresif dalam film, sedangkan dalam buku asli tidak demikian.

3. Istilah dan Ejaan
Pemindahan atau pengangkatan novel ke film disebut ekranisasi. Istilah yang berasal dari bahasa Perancis ini, menurut penulis lebih tajam daripada istilah adaptasi. Sebab adaptasi bisa berarti hanya mengangkat cerita atau tokoh-tokoh novel, sedangkan ekranisasi berarti pemindahan novel ke layar putih atau dengan kata lain: melainkan novel.

BAB II
NOVEL DAN FILM

1. Cerita
Menurut Foster, cerita adalah pengisahan kejadian dalam waktu dan cerita adalah basis sebuah novel. Tanpa kehadiran cerita, sia-sialah usaha seorang pengarang untuk berkomunikasi dengan orang lain (pembaca), sebab orang tidak akan menemukan apa-apa dalam novel bersangkutan. Tugas pengaranglah merangkai-rangkainya menjadi saut kesatuan utuh yang kemudian bernama novel. Dalam novel merangkai-rangkaikan kejadian-kejadian, unsur waktu memgang peranan penting. Seorang novelis yang berhasil sudah barang tentu harus dapat membangkitkan rasa ingin tahu pembaca. “Apa yang terjadi sesudah itu ?” Pertanyaan ini lah yang harus dijawab dengan cerita.
Dalam cerita-cerita lama, seperti Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Bakhtiar dan sejenisnya, kerap kali rasa ingin tahu akan kelanjutan cerita mampu menyelamatkan pihak yang lemah. Lazimnya cerita dalam novel berkonotasi pada “kelampauan”. Artinya kejadian-kejadian yang dikisahkan biasanya sudah lewat di belakang pembaca. Dengan demikian, orang (pembaca) hanya bisa membayangkan apa yang dikisahkan pengarang, sebagai sesuatu yang terjadi pada masa lampau.
Tugas pengarang ialah membukakan atau mengungkapkan “masa lalu” itu kepada pembaca. Dengan kata lain kejadian-kejadian dalam novel tidak dapat dibayangkan pembaca sebagai “sedang”terjadi, melainkan sebagai sesuatu yang telah terjadi pada masa lalu. Seorang novelis hanya bisa menyampaikan cerita atau amanatnya dengan kata-kata. Seorang novelis membangun alur, penokohan, latar, dan suasana dengan bantuan kata-kata. Pada hakikatnya, film juga merupakan pengisahan kejadian dalam waktu. Tetapi kejadian dalam film tidak berkonotasi pada kemampuan, melainkan berkonotasi pada “kekinian”, pada sesuatu yang sedang terjadi.
Gambar-gambar dalam film bergerak berkelanjutan di layar putih, sehingga merupakan satu keutuhan cerita. Maka itu, gerak adalah salah satu esensi film. Baik gerak yang ditimbulkan kamera, gerak objek-objeknya, gerak yang ditimbulkan penyususnan gambar (editing), maupun pergerakan tokoh-tokoh yang ada dalam film. Film merupakan media audio-visual, suara pun ikut mengambil peranan di dalamnya. Suara manusia tentu karena pelaku film di dalamnya adalah manusia. Sedangkan musik dibutuhkan untuk memperkuat irama film. Film juga merupakan gabungan dari berbagai ragam kesenian: musik, seni rupa, drama, sastra ditambah dengan unsur fotografi. Itulah yang menyebabkan film menjadi kesenian yang kompleks.

2. Alur
Alur merupakan pengisahan kejadian dalam waktu hanya saja harus ditambahkan sebab akibat. Alur adalah pengisahan kejadian dengan tekanan pada sebab-musabab. Dari segi kuantitatif, alur dalam novel dapat dibagi menjadi dua, yakni alur tunggal dan alur ganda. Pada alur tunggal hanya terdapat satu jalinan cerita, sedangkan pada alur ganda terdapat lebih dari satu jalinan cerita. Lazimnya, alur mempunyai bagian-bagian yang secara kenvensional dikenai sebagai permulaan (beginning), pertikaian atau perumitan (rising action), puncak (climax), peleraian (falling action), dan akhir (end).
Pada permulaan, biasanya pengarang memperkenalkan tokoh-tokohnya. Tokoh yang satu dihubungkan dengan tokoh lainnya. Dari perhubungan ini akan terjadi pelbagai persoalan yang makin lama makin memuncak. Walau demikian, seorang novelis tidak selamnay mengikuti urutan-urutan: permulaan, pertikaian atau perumitan, puncak, peleraian, dan akhir cerita. Novel Belenggu (Armijn Pane) misalnya justru dimulai dengan pertikaian, sedangkan novel Atheis dimulai dengan akhir cerita, yakni kematian Hasan.
Satu hal yang perlu diperhatikan seorang novelis adalah unsur tegangan (suspanse). Unsur ini penting untuk memancing rasa ingin tahu pembaca akan kejadian-kejadian selanjutnya. Novelis yang baik tentu amat menyadari hal ini. Sebab kalau tidak, novelnya akan ditinggalkan orang (pembaca) sebelum hasil dibaca.
Dalam film pun ditemukan alur. Seorang novelis dapat melukiskan apa saja yang dimauinya. Ia bisa mengungkapkan segala segi kehidupan para pelakunya: sikap hidupnya, perasaanya, pikirannya, masa lalunya, dan lain-lain. Oleh sebab itu, seorang novelis bisa saja memakai alur ganda dalam novelnya.
Tidak demikian halnya dengan film. Film mempunyai keterbatasan ruang dan keterbatasan teknis. Jangka putar film biasanya berkisar antara satu setengah hingga dua jam. Walau demikian, bukan berarti film tidak bisa mengungkapkan persoalan-persoalan yang kompleks. Bisa saja asal kompleksan itu diabaikan pada satu jalan cerita atau tema-plot sebagai pusatnya. Di samping itu sebuah cerita beralur ganda juga mungkin difilmkan, dengan catatan: waktu putar film itu akan bertambah panjang. Meskipun begitu, hal ini tidak selalu bisa dilaksanakan, mengingat daya tahan mata penonton sudah mulai jemu, terutama bila filmnya buruk atau jelek.
Seorang novelis dan sutradara film harus memperhatikan unsur tegangan (suspense), sehingga bisa memancing rasa ingin tahu penonton untuk mengikuti cerita film secara keseluruhan. Mengawali film dengan tegangan bukanlah jaminan berhasil tidaknya sebuah film. Ada juga film yang berhasil, sekalipun memakai alur penceritaan “konvensional”: permulaan, pertikaian, puncak, peleraian dan akhir.

3. Penokohan
Tokoh dalam novel biasanya manusia. Tetapi kadang-kadang ada juga yang tokohnya binatang. Menurut Rene Wellek dan Austin Warren cara paling sederhana untuk mengenali tokoh-tokoh novel adalah dengan pemberian nama. Penokohan berfungsi untuk menunjang cerita dan alur atau dengan kata lain penokohan bertugas menyiapkan atau menyediakan alasan bagi tindakan-tindakan tertentu yang terjadi dalam keseluruhan novel. Penokohan dapat dicapi dengan dua cara, cara analitik atau langsung dan cara dramatik atau tidak langsung. Pada cara analitik, pengarang mengisahkan secara langsung: sifat-sifat, tabiat, latar belakang, pikiran dan perasaan seorang tokoh.
Film pun mempunyai tokoh-tokoh, sebagai pelaku dalam sebuah film. Berlainan denngan cara penampilan tokoh-tokoh dalam novel, film menampilkan tokoh-tokohnya secara langsung dan secara visual. Dengan demikian penokohan secara analitik (langsung) yang dikenal dalam novel, tidak dikenal dalam film. Seperti yang dikatakan Pudovkin yang penting bagi penulis skenario bukanlah kata-kata yang ditulisnya, melainkan imaji visual (visual image) yang ditimbulkan kata-kata itu.
Dari penampilan tokoh-tokoh film secara langsung (visual) itulah penonton mengetahui sifat (watak), sikap-sikap, dan kecendrungan-kecendrungan sang tokoh. Seperti dalam novel, sifat seorang tokoh dalam film juga dapat diungkapkan melalui benda-benda atau lingkungan sekitarnya. Orang menonton film tidaklah seperti membaca novel, bila ada hal kejadian yang terlupa, pembaca novel masih bisa kembali ke halaman-halaman yang terlupakan. Tidak demikian halnya menonton film. Orang menonton film hanya satu kali. Bila ada yang terlupa, orang tidak mungkin kembali ke bagian atau adegan yang terlupa itu.

4. Latar
Sebuah kejadian tentu saja terdiri pada suatu ruang, tempat dan kurun waktu tertentu. Kapan dan dimana kejadian itu terjadi ? Inilah pertanyaan yang berkaitan dengan latar. Latar adalah tempat berpijak atau bertumpunya cerita, alur dan tokoh-tokoh novel. Latar dapat menunjang penokohan. Misalnya menerangkan di mana seorang tokoh berada, bagaimana keadaanya kini dan seterusnya.
Latar dalam film ditampilkan secara visual melalui gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan, sehingga apa yang kelihatan di layar putih seolah-oleh sedang terjadi dalam kehidupan sesungguhnya (kehidupan nyata). Apabila dalam novel orang (pembaca) hanya bisa membayangkan tempat tinggal seseorang, keadaan satu keluarga, keadaan masyarakat, dalam film orang (penonton) meyaksikannya di depan mata.
Seorang penulis skenario harus hati-hati dalam mencari dan memilih barang-barang atau benda-benda yang paling ekspresif, jelas, dan tepat diantara sekian banyak barang-barang atau benda-benda yang ada dalam kehidupan ini.

5. Suasana
Sebuah novel tentu mempunyai suasana tertentu. Tindakan tokoh-tokohnya akan memberikan petunjuk bagaimana suasananya pada saat itu. Latar pun dapat menunjukkan suasana tertentu, sehingga cerita terasa lebih hidup. Perabotan rumah serba sederhana memberi petunjuk penghuninya miskin, perabotan serba lux memberi petunjuk, penghhuninya adalah keluarga kaya. Dalam membangun suasana cerita, seorang pengarang perlu memperhatikan unsur situasi. Yaitu cocoknya situasi pada saat itu dengan suasana yang diungkapkan. Suasana adalah jiwa dalam sebuah novel. Ia berfungsi menunjang cerita, alur, penokohan dan latar, sehingga novel terasa hidup. Dengan kata lain suasana adalah roh sebuah novel. Tanpa roh tersebut sebuah novel akan terasa kering, kaku dan tidak hidup.
Seperti dalam novel suasana dalam film pun harus diselaraskan dengan situasi tertentu. Walaupun sukar diraba dan sulit diukur, namun suasan dalam film bisa dirasakan. Seperti dalam novel, suasana dalam film pun adalah jiwa atau rohfilm secara keseluruhan. Suasana dalam film berfungsi menunjang cerita, alur, penokohan, daln latar film secara keseluruhan.


6. Gaya
Gaya seorang pengarang bisa diketahui dari karyanya. Seperti yang dikatakan Caryle, “Gaya bukan hanya baju, melainkan kulit pengarang itu sendiri”. Pernyataan ini diperkuat lagi dengan pendapat Buffon, “Gaya adalah orangnya sendiri”. Gaya bahasa eufimisme adalah gaya bahasa dalam kehidupan sehari-hari, tidak selamnya orang bisa mengatakan sesuatu secara terus terang dan orang mengatakannya dengan kata-kata yang lebih halus namun makna atau maksudnya sama saja. Untuk menyatakan sesuatu secara berlebihan lazim dipakai hiperbola. Untuk mengejek secara halus dipergunakan ironi. Kadang-kadang sifat manusia dipindahkan ke benda-benda mati, gaya bahasa ini disebut personifikasi. Di samping itu, masih ada gaya bahasa inversi, perifrase, pleonasme dan lain-lain.
Kadang-kadang seorang tokoh dalam novel ditampilkan tidak sedang berbicara dengan tokoh lain, melainkan berbicara pada diri sendiri melalui pikiran-pikiran, angan-angan, lamunan, atau yang lain. Pembicaraan macam inilah yang dimaksudpenulis dengan cakapan batin. Cara pengisahan otobiografi ditemui dalam novel Achidiat, Atheis. Sebagian besar novel ini adalah otobiografi Hasan, yang diserahkannya pada “aku” untuk dibaca.
Cara pengisahan sorot balik (flashback) adalah salah satu cara yang efektif untuk menarik dan memancing perhatian pembaca. Film mengutarakan cerita, ide, atau maksudnya dengan plastic material. Penulis skenario tidak bergulat dengan kata-kata melainkan bergulat dengan plastic material yang berbentuk, yang visual, dan yang bisa dipotret. Manusia objek-objek, dan barang-barang ditempatkan di muka kamera, kemudian juru kamera membidiknya. Gambar-gambar inilah yang nanti akan disaksikan penonton di layar putih setelah melalui proses penyusunan (editing). Menurut Peter Wollen dalam bukunya Sings and Meaning in the Cinema, gambar-gambar sebagai alat pengucapan film mempunyai tiga dimensi. Pertama gambar sebagai indeks, gambar sebagai ikon (icon) dan ketiga gambar sebagai simbol (lambang).
Dibandingkan dengan novel, film lebih banyak memakai perlambang sebagai alat pengucapannya. Dalam novel mungkin hal ini memerlukan penjelasan panjang lebar dan berhalaman-halaman. Dalam novel dialog menduduki posisi penting. Ia dapat berdiri sendiri secara utuh dan mampu menyampaikan maksud atau pesan pengarang, sehingga dialog merupakan salah satu variasi cara pengisahan dalam novel. Tidak demikian kedudukan dialog dalam film. Alat utama film adalah gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan. Dialog dalam film juga mempunyai fungsi tersendiri. Dua orang yang terlibat dalam satu percakapan misalnya, bisa memberikan informasi bagi penontondari mana asal kedua orang itu. Sorot balik (flashback) dalam film digunakan untuk menunjukkan latar belakang sesuatu.

7. Amanat
Amanat adalah sesuatu yang menjadi pendirian, sikap atau pendapat pengarang mengenai inti persoalan yang digarapnya. Dengan kata lain amanat adalah pesan pengarang atas persoalan yang dikemukakan. Besar kecilnya tema yang digarap tergantung pada pengarang yang bersangkutan. Yang jelas tema yang luas atau besar sudah barang tentu membutuhkan penggarapan atau pengungkapan yang luas dan besar pula. Sebaliknya dengan tema kecil atau sederhana relatif pengarang lebih mudah menggarapnya.
Film pun mempunyai tema tertentu, yakni inti-persoalan yang hendak diutarakan atau disampaikan pembuat film kepada penontonnya. Tema itulah yang harus dituangkan dalam gambar-gambar, sehingga penonton dapat menagkap pesan atau ide pembuatan film. Keterbatasan tema (lebih tepat tema plot) dalam film dapat dipulangkan pada keterbatasan teknis film. Kalau tema yang hendak difilmkan cukup besar atau luas, mau tidak mau dituntut pula waktu putar yang lebih panjang lebih dari dua jam misalnya.



Review Novel dan Film

Nama : Noerma Ningsih
Nim    :2011070011
Tugas : review novel film bab I & bab II


BAB I
PENDAHULUAN 
1.Pengarang Tidak Puas 
Motinggo Busye adalah orang yang terdorong untuk terjun ke dunia film karena merasa kecewa dengan scenario (naskah film) yang didasarkan pada lakonnya, malam jahanam. Armijn Pane pun pernah mengalami kekecawaan yang serupa. Achdiat K.Mihardja pernah pula menyatakan kesan-kesannya setelah menyaksikan film Atheis yang didasarkan pada novelnya. Achidat menganggap bahwa amanat novel Atheis belum sepenuhnya tertangkap/tertuang dalam film Atheis.
2. Penonton Kecewa
Penonton film pun sering kecewa menonton film yang didasarkan pada novel-novel tertentu. Dalam novel kita dapat membaca bagian-bagian yang sangat halus, sedangkan dalam film tidak aku jumpai hal itu. Begitu pula ketika cerita lupus (karya Hilman Hariwijaya) difilmkan oleh Achiel Nasrun (1987).
3. Tentang Buku Ini 
Mula-mula akan dibahas unsure-unsur yang menjadi tulang punggung sebuah novel, seperti: cerita, alur, penokohan, latar, suasana, gaya, dan tema/amanat. bab III mencoba membicarakan hal-hal yang menyangkut pemindahan novel ke film, yang dalam buku ini disebut ekranisasi.
4. Istilah dan Ejaan 
Untuk kepentingan buku ini, penulis tidak merasa perlu mempertentangkan istilah roman dalam novel. Penulis menafsirkannya sama dengan istilah Novel dalam buku ini.


BAB II
NOVEL DAN FILM 

1.Cerita 
Seorang novelis ingin menyampaikan cerita kepada pembacanya, demikian juga seoranng sutradara film. Menurut Foster, cerita adalah pengisahan kejadian dalam waktu dan cerita adalah basisi sebuah novel tanpa kehadiran cerita, sia-sialah usaha seorang pengarang untuk berkomunikasi dengan orang lain (pembaca), sebab orang tidak akan menemukan apa-apa dalam novel bersangkutan. Cerita adalah hakikat novel.
Dalam hal ini merangkai-rangkaikan kejadian-kejadian, unsur waktu memegang peranan penting. Harus terlihat adanya perkembangan cerita dari A ke B, ke C, ke D dan seterusnya. Sebab kalau tidak, pembaca akan dilanda kebosanan. Seorang novelis yang berhasil, sudah barang tentu harus dapat membangkitkan rasa ingin tahu pembaca.
Cerita diulur-ulur sedemikian rupa, sehingga acara hukuman (pembunuhan) terpaksa ditunda oleh raja/ penguasa, sampai akhirnya si pencerita yang kebetulan si terhukum pula dibebaskan sama sekali. Lazimnya, cerita dalam novel berkonotasi pada “kelampauan”, artinya kejadian-kejadian yang dikisahkan biasanya sudah lewat di belakang pembaca.
Demikian pula dengan penjajahan jepang dalam novel-novel Pramoedya Ananta Toer (perburuan), Achidat K. Mihardja (Atheis), Idrus (Hati Nurani Manusia), dan Harijadi S. Hartowardojo (perjanjian dengan Maut) dibaca orang setelah kejadian itu berlalu. Tugas pengarang ialah membukakan atau mengungkapkan “masa lalu” itu kepada pembaca. Hanya bisa dibayangkan terjadi pada abad ke-19.
Kata-kata menempati kedudukan paling peting adalam novel. Seorang novelis membangun alur, penokohan, latar, dan suasana dengan bantuan kata-kata. Hemat penulis, kata-kata adalah bagian integral dalam novel dan tidak mungkin memisahkannya dari sastra. Pada hakikatnya, film juga merupakan pengisahan kejadian dalam waktu. Gerak adalah salah satu esensi film. Karena film merupakan medium audio-visual, suara pun ikut mengambil peranan di dalamnya. Sampai di sini nampak jelas, film merupakan gabungan dari berbagai ragam kesenian: music, seni rupa, drama, sastra, ditambah dengan unsur fotografi.

2. Alur 
Contoh klasik dari Foster mengatakan: “Raja mati dan kemudian permaisuri pun mati adalah sebuah cerita". Contoh ini menunjukkan betapa dekatnya pengertian cerita dan alur. Dari segi kuantitatif, alur dalam novel dapat dibagi menjadi dua, yakni alur tunggal dan alur ganda. Berakhirnya sebuah cerita dalam novel tidak pula berarti adanya penyesalan. Salah satu cara yang efektif untuk memancing rasa ingin tahu pembacaitu adalah dengan menaruh bagian akhir atau bagian pertikaian atau bagian puncak di awal novel. Cara ini juga dipakai Nasjah Djamin dalam novelnya, Gairah untuk Hidup dan Untuk Mati. 

3. Penokohan 
Biasanya tokoh-tokoh dalam novel adalah manusia. Walau demikian, tentu tidak semua tokoh-tokoh novel mempunyai nama. Melalui sifat atau watak yang dimiliki tokoh-tokoh novel, pembaca dapat mengerti mengapa suatu tindakan atau kejadian terjadi. Penokohan berfungsi untuk menunjang cerita dan alur. Menurut cara pengungkapannya, penokohan dapat dicapai dengan dua cara: cara analitik atau langsung dan cara dramatic atau tidak langsung.
Tokoh kompleks mempunyai lebih dari satu sifat (watak), sehingga sukar menduga tindakan atau perbuatannya. Dengan demikian, penokohan cara analitik (langsung) yang dikenal dalam novel, tidak dikenal dalam film. Dengan kata lain, penulis scenario tidak “bergulat” dengan kata-kata, melainkan “bergulat” dengan plastic material, dengan barang-barang atau benda-benda nyata yang visual, yang bisa dipotret kamera.
Orang menonton film hanya satu kali. Bila ada yang terlupa, orang tidak mungkin kembali ke bagian atau adegan yang terlupa itu. Karena orang menonton film hanya satu kali dan Karena prinsip ekonomis tadi, maka tugas penulis scenario dan sutradaralah untuk menampilkan hal-hal yang gampang dikenali dan mudah
diingati.

4. Latar 
Sebuah kejadian tentu saja terjadi pada suatu ruang, tempat, dan kurun waktu tertentu. Latar berusaha menerangkan apakah kejadian itu terjadi di rumah, di gubuk, di hotel, di kereta api, di desa, di kota, di kolong jembatan, atau di tempat lain. Latar pun dapat menunjang penokohan. Akan tetapi, sudah barang tentu seorang novelis tidak melulu memakai latar-material atau latar-sosial saja. Walaupun demikian, latar mana pun yang lebih dominan dalam sebuah novel, kedua ragam latar tadi  (material dan sosial) sama-sama berfungsi untuk menunjang cerita. Oleh sebab itulah, seorang penulis skenario harus hati-hati dalam mencari dan memilih barang-barang atau benda-benda yang akan ditampilkan dalam film. Seoranng penulis novel bisa leluasa melukiskan latar sampai pada hal sekecil-kecilnya.

5. Suasana
Sebuah novel tentu mempunyai suasana tertentu. Menurut pendapat penulis, suasana dalam kutipan tadi tidak dimanfaatkan pengarang dengan efektif untuk lebih menghidupkan cerita. Bukan tidak jarang, hal atau informasi kecil pun kadang-kadang mampu menghidupkan suasana cerita. Seorang novelis harus menyesuaikan situasi tertentu dengan suasana yang hendak diungkapkan.
Sampai di sini dapat disimpulkan, suasana adalah jiwa sebuah novel. Ia berfungsi menunjang cerita, alur, penokohan, dan latar sehingga novel terasa hidup. Seperti dalam novel, suasana dalam film pun harus diselaraskan dengan situasi tertentu.

6. Gaya
Ketika pada suatu kali membolak-balik naskah yang  hendak diterbitkan, Ajip Rosidi tertarik pada sebuah naskah berjudul koong karya kebo kenanga (nama samaran). Dengan contoh ini hendak ditunjukkan, gaya seorang pengaranng bisa diketahui melalui karyanya. Karena seperti dikatakan Carlyle, “gaya bukan hanya baju, melainkan kulit pengarang itu sendiri. Gaya adalah orangnya sendiri. Sudah barang tentu gaya ini tak lepas dari pemakaian bahasa dan lebih khusus lagi menyangkut gaya bahasa dan cara pengisahan atau cara bercerita.
Cara pengisahan atau cara bercerita menyangkut cara apa yang dipakai pengarang untuk mengutarakan atau menyampaikan cerita atau maksudnya. Dibandingkan dengan novel, film relative lebih banyak memakai perlambang sebagai alat pengucapannya. Dalam novel, mungkin hal ini memerlukan penjelasan panjang lebar dan berhalaman-halaman. Dalam novel, dialog menduduki posisi penting. Tentu saja tidak semua informasi bisa divisualkan. Walau demikian, dialog dalam film juga mempunyai fungsi sendiri.

7. Tema / Amanat
Seorang pengarang (novelis) tentu saja mempunyai persoalan tertentu yang hendak dikemukakan atau diutarakan kepada pembaca. Ia mempunyai inti persoalan, inti inilah yang penulis maksud dengan tema. Amanat adalah sesuatu yang menjadi pendirian, sikap atau pendapat pengarang mengenai inti persoalan yang digagrapnya.
Walau begitu, besarnya tema bukanlah ukuran mutlak bagus tidaknya sebuah novel. Film pun mempunyai tema tertentu, yang inti nya persoalan yang hendak diuatarakan/disampaikan pembuat film kepada penontonnya. Keterbatasan tema (lebih tepat: tema, plot) dalam film dapat dipulangkan pada keterbatasan teknis film. Seperti halnya novel, kadang-kadang dalam film pun ditemui juga amanat pembuat film.

2014/04/29

Review Novel dan Film dari BAB I s/d BAB II



NOVEL DAN FILM
BAB I
PENDAHULUAN
1.      Pengarang tidak puas
Pengarang amerika Ernest Hemingway, sering dikutip orang sebagai pengarang yang sering kecewa jika novel-novelnya diangkat ke layar putih. Malahan pemenang hadiah nobel ini bersedia membayar biaya yang dikeluarkan produser film, asalkan salah satu film yang didasarkan pada novelnya tidak diedarkan.         
Motinggo Busye dan Armijn Pane pun pernah mengalami kekecewaan serupa. Nama para pengarang yang kurang puas atau kecewa pada film yang didasarkan pada novel atau karyanya ini tentu masih bisa kita perpanjang.
2.      Penonton kecewa
Sesungguhnya ketidakpuasan dan kekecewaan tadi tidak hanya datang dari pihak pengarang. Penonton film pun sering kecewa menonton film yang didasarkan pada novel-novel tertentu. Seorang kawan penulis, misalkan menyatakan kekecewaannya.
Begitu pula ketika cerita lupus (karya Hilman Hariwijaya) difilmkan oleh Achiel Nasrun  (1987), sebagian penonton film lupus kecewa karena tokoh poppi menjadi agresif dalam film, sedangkan dalam buku asli tidaklah demikian.
3.      Tentang buku ini
Sebuah novel seperti cerita, alur, penokohan, latar, suasana, gaya, dan tema/amanat. Unsur-unsur ini kemudian dibandingkan dengan unsur-unsur serupa dalam film.
4.      Istilah dan Ejaan
Istilah-istilah asing yang lazim dijumpai di dunia film sedapat mungkin penulis alihkan ke bahasa indonesia. Bila sulit ditemukan padanannya, akan dipakai bentuk aslinya.
Kutipan-kutipan dari novel akan ditulis menurut ejaan bahasa indonesia yang disempurnakan (1972), termasuk kutipan dan novel yang terbit sebelum tahun 1972.

BAB II
NOVEL DAN FILM
1.      Cerita
Menurut Forster, cerita adalah pengisahan kejadian dalam waktu dan cerita adalah basis sebuah novel. Tanpa kehadiran cerita, sia-sialah usaha seorang pengarang untuk berkomunikasi dengan orang lain (pembaca), sebab orang tidak akan menemukan apa-apa dalam novel bersangkutan. Lebih jauh lagi, seseorang tak mungkin menulis novel dengan mengabaikan unsur cerita.
Adanya kejadian-kejadian saja belumlah menjamin apa-apa. Kejadian-kejadian itu sendiri baru sekadar bahan mentah. Maka itu tugas pengaranglah merangkai-rangkaikannya menjadi satu kesatuan utuh yang kemudian bernama novel. Dalam hal merangkai-rangkaian, kejadian-kejadian, unsur waktu memegang peranan penting.
Novel menyampaikan cerita, ide, amanat atau maksudnya dengan pertolongan kata-kata. Oleh sebab itu, kata-kata menempati kedudukan penting dalam novel.
Pada hakikatnya film juga merupakan pengisahan kejadian dalam waktu, tetapi kejadian dalam film tidak berkonotasi pada kelampauan melainkan berkonotasi pada kekinian, pada sesuatu yang sedang terjadi.
2.      Alur
Dari segi kuantitatif, alur dalam novel dapat dibagi dua yakni alur tunggal dan alur ganda. Pada alur tunggal hanya terdapat satu jalinan cerita, sedangkan pada alur ganda terdapat lebih dari satu jalinan cerita. Lazimnya alur mempunyai bagian-bagian yang secara konvensional dikenal sebagai permulaan (beginning), pertikaian/perumitan ( rising action), puncak (climax), peleraian ( falling action) dan akhir (end).
Pada permulaan, biasanya pengarang memperkenalkan tokoh-tokohnya. Tokoh yang satu dihubungkan dengan tokoh lainnya, dari penghubungan ini akan terjadi perbagai persoalan, yang makin lama makin memuncak, kemudian cerita melaju pada peleraian, tokoh-tokoh dalam cerita menempuh jalan atau sikap sendiri-sendiri sampai pada suatu akhir cerita.
Satu hal yang perlu diperhatikan seorang penulis adalah unsur tegangan (suspense). Unsur ini penting untuk memancing rasa ingin tahu pembaca akan kejadian-kejadian selanjutnya.
Disamping itu, sebuah cerita beralur ganda juga mungkin difilmkan dengan catatan waktu putaran film itu akan bertambah panjang, meskipun begitu, hal ini tidak selalu bisa dilaksanakan, mengingat daya tahan mata penonton yang amat sangat terbatas pula.
Seperti seorang novelis seorang sutradara film pun harus memperhatikan unsur tegangan (suspense), sehingga bisa memancing rasa ingin tahu penonton untuk mengikuti cerita film secara keseluruhan. Tetapi yang jelas, keberhasilan film banyak tergantung pada keharmonisan berbagai unsur pendukung film seperti pengambilan gambar, penyusunan gambar, permainan aktor/aktris, dan lain-lain.
3.      Penokohan
Menurut Rene Wellek dan Austin Warren, cara paling sederhana untuk mengenali tokoh-tokoh novel adalah dengan pemberian nama. Tidak semua tokoh-tokoh novel mempunyai nama. Misalnya tokoh-tokoh tidak memakai nama, tokoh utama sendiri hanya disebut tokoh kita. Penokohan berfungsi untuk menunjang cerita dan alur.
Film pun mempunyai tokoh-tokoh sebagai pelaku dalam sebuah film. Berlainan dengan cara penampilan tokoh-tokoh dalam novel, film menampilkan tokoh-tokohnya secara langsung dan secara visual. Dari penampilan tokoh-tokoh film secara langsung (visual) itulah penonton mengetahui sifat (watak), sikap-sikap dan kecenderungan-kecenderungan sang tokoh. Disamping itu, orang menonton film tidaklah seperti membaca novel. Bila ada hal yang terjadi dengan terlupa, pembaca novel bisa kembali ke halaman–halaman yang terlupakan itu, tidak halnya demikian menonton film, orang yang menonton film hanya satu kali, bila ada yang terlupa, orang tidak mungkin kembali kebagian atau adegan yang terlupa itu.
4.      Latar
Latar dalam film ditampilkan secara visual melalui gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan, sehingga apa yang kelihatan di layar putih seolah-olah sedang terjadi dalam kehidupan sesungguhnya (kehidupan nyata). Apa bila dalam novel orang (pembaca) hanya bisa membayangkan tempat tinggal seseorang, keadaan satu keluarga, keadaan masyarakat, dalam film orang ( penonton) menyaksikannya di depan mata.
5.      Suasana
Sebuah novel tentu mempunyai suasana tertentu. Tindakan tokoh-tokoh akan memberikan petunjuk bagaimana suasana pada saat itu. Latar pun dapat menunjukan suasana tertentu, sehingga cerita terasa lebih hidup.
Dalam membangun suasana cerita, seorang pengarang perlu memperhatikan unsur situasi yaitu cocoknya situasi pada saat itu dengan suasana yang diungkapkan. Sampai disini, suasana dapat disimpulkan, suasana adalah jiwa sebuah novel, ia berfungsi menunjang cerita, alur, penokohan dan latar. Sehingga novel terasa hidup. Dengan kata lain suasana adalah roh sebuah novel. Tanpa roh tersebut, sebuah novel akan terasa kering, kaku dan tidak hidup.
Suasana pun memegang peranan penting dalam film seperti dalam novel suasana dalam film juga berfungsi menunjang cerita, alur, penokohan, dan latar.
6.      Gaya
Menurut Peter Wollen dalam bukunya signs and meaning in the cinema, gambar-gambar sebgai alat pengucapan film mempunyai tiga dimensi. Pertama, gambar sebgai indeks, kedua gambar sebagai ikon (icon), dan ketiga gambar sebagai simbol (bilangan).
Gambar-gambar sebagai indeks menunjukan masih adanya hubungan objek yang bersangkutan dengan gambar yang ditampilkan di layar putih. Gambar-gambar sebagai ikon menunjukan gambar yang kelihatan di layar putih adalah perwujudan dari objek yang bersangkutan. Gambar-gambar sebagai simbol menunjukan tidak adanya hubungan gambar yang nampak di film dengan objek yang diwakilinya.
Sorot balik (flashback) dalam film digunakan untuk menunjukan latar belakang sesuatu.
7.      Tema/Amanat
 Seorang pengarang (novelis) tentu saja mempunyai persoalan tertentu yang hendak dikemukakan atau diutarakan kepada pembaca. Berkaitan dengan tema adalah amanat atau pesan, amanat adalah sesuatu yang menjadi pendirian. Sikap atau pendapat pengarang mengenai inti persoalan yang digarapnya. Dengan kata lain, amanat adalah pesan pengarang atas persoalan yang dikemukakan.
Film pun mempunyai tema tertentu yakni inti soal yang hendak diutarakan/disampaikan pembuat film kepada penontonnya. Tema itulah yang harus dituangkan dalam gambar-gambar, sehingga penonton dapat menangkap pesan atau ide pembuatan film.







2014/04/28

ULFAH JULIANTI (NOVEL DAN FILM)


ULFAH JULIANTI (NOVEL DAN FILM)

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Pengarang Tidak Puas

Armijn pane pernah mengalami kekecewaan, dramanya yang berjudul Antara Bumi dan Langit diangkat ke layar perak oleh sutradara Huyung (1951). Karena pertimbangan komersial, “tidak hanya nilai sastra yang terkandung dalam karya armijn itu tidak terungkap lagi, bahkan jadi rusak sama sekali”. Oleh karena itu Armijn tidak bersedia namanya dicantumkan sebagai penulis cerita asli.
Nama pengarang yang kurang puas atau kecewa pada film yang didasarkan pada novek atau karyanya itu tentu masih bias kita perpanjang. Namun nama pengarang tersebut sudah disebut tadi agaknya sudah cukup untuk menunjukkan adanya persoalan jika sebuah novel dipindah ke film.

2.      Penonton Kecewa

Penonton film pun sering kecewa menonton fiml yang di dasarkan pada novel-novel tertentu. Ketika cerita Lupus karya Hilman Hariwijaya difilmkan oleh Achiel Nasrun (1987). Sebagian penonton film lupus kecewa karena tokoh poppi menjadi agresif dalam film, sedangkan dalam buku asli tidak demikian.

3.      Tentang Buku Ini

Mula-mula akan dibahas unsur-unsur yang menjadi tulang punggung sebuah novel, seperti : cerita, alur, latar, suasana, gaya, dan tema/amanat. Unsur-unsur ini kemudian diperbandingkan dengan unsur-unsur serupa dalam film.




4.      Istilah dan Ejaan

Seperti telah disinggung diatas, pemindahan atau pengangkatan novel ke film dalam buku ini disebut ekranisasi. Istilah-istilah asing yang lazim dijumpai di dunia fim sedapat mungkin penulis alihkan ke bahasa Indonesia.

BAB II
NOVEL DAN FILM

1.      Cerita

Menurut Forster, cerita adalah pengisahan kejadian dalam waktu dan cerita adalah basis sebuah novel. Tanpa kehadiran cerita sia-sialah usaha seorang pengarang untuk berkomunikasi dengan orang lain (pembaca), sebab orang tidak akan menemukan apa-apa dalam novel dengan mengabaikan unsur cerita.
Adanya kejadian-kejadian saja belumlah menjamin apa-apa. Kejadian-kejadian itu sendiri baru sekadar bahan mentah. Maka itu, tugas pengaranglah merangkai-rangkaikannya menjadi satu kesatuan utuh yang kemudian bernama novel. Dalam hal merangkai-rangkaikan kejadian-kejadian, unsur waktu memegang peranan penting.

Lazimnya, cerita dalam novel berkonotasi pada “kelampauan”. Artinya, kejadian-kejadian yang dikisahkan biasanya sudah lewat di belakang pembaca. Dengan demikian, orang (pembaca) hanya bisa membayangkan apa yang dikisahkan pengarang, sebagai sesuatu yang terjadi pada masa lampau. Contohnya Revolusi Oktober yang dikisahkan dalam novel Dokter Zhivago dibaca orang jauh setelah revolusi itu usai. Pada hakikatnya, film juga merupakan pengisahan kejadian dalam waktu. Tetapi kejadian dalam film tidak berkonotasi pada “kelampauan”, melainkan berkonotasi pada “kekinian”, pada sesuatau yang sedang terjadi. Melihat adegan pembunuhan atau pemerkosaan dalam film, penonton serasa ikut cemas dan ngeri, sebab kejadian itu disajikan langsung di depan mata.
Berbeda dengan novelis yang bergulat dengan kata-kata, penulis scenario bergulat dengan apa yang disebut pudovkin plastic material.

2.      Alur

Satu hal yang perlu diperhatikan seorang novelis adalah unsur tagangan (suspense). Unsur ini penting untuk memancing rasa ingin tahu pembaca akan kejadian-kejadian selanjutnya. Novelis yang baik tentu amat menyadari hal ini. Sebab kalau tidak, novelnya akan ditinggalkan orang (pembaca) sebelum habis dibaca. Salah satu caraefektif untuk memancing rasa ingin tahu pembaca itu adalah dengan menaruh bagian akhir atau bagian pertikaian di awal novel.

Tidak demikian halnya dengan film. Film mempunyai keterbatasan ruang dan teknis. Jangka putar film biasanya berkisar antara satu setengah hingga dua jam.
Seperti dalam novel, mengawali film dengan tegangan bukanlah jaminan berhasil tidaknya sebuah film. Ada juga film yang berhasil sekalipun memakai alur penceritaan “konvensional” : permulaan, pertikaian, puncak, peleraian dan akhir. Tetapi yang jelas, keberhasilan film banyak tergantung pada keharmonisan berbagai unsur pendukung film, seperti pengambilan gambar, penyusunan gambar, permainan actor/aktris dan lain-lain.

3.      Penokohan

Biasanya tokoh-tokoh dalam novel adalah manusia. Menurut Rene Wellek dan Austin Warren, cara paling sederhana untuk mengenali tokoh-tokoh novel adalah dengan pemberian nama. Melalui sifat atau watak yang dimiliki tokoh-tokoh novel, pembaca dapat mengerti mengapa suatu tindakan atau kejadian terjadi. Watak yang dipunyai seseorang, juga merupakan motivasi untuk kejadian-kejadian atau peristiwa selanjutnya yang terjalin dalam cerita dan alur.

Film pun mempunyai tokoh-tokoh sebagai pelaku dalam sebuah film. Berlainan dengan cara penampilan tokoh-tokoh dalam novel, film menapilkan tokoh-tokohnya secara visual. Dengan demikian, penokohan secara analitik (langsung) yang dikenal dalam novel tidak dikenal dalam film.

4.      Latar

Latar dalam film ditampilkan secara visual melalui gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan, sehingga apa yang kelihatan di layar seolah-olah sedang terjadi dalam kehidupan sesungguhnya (kehidupan nyata). Apabila dalam novel (pembaca) hanya bisa membayangkan tempat tinggal seseorang, keadaan satu keluarga, keadaan masyarakat, dalam film orang (penonton) menyaksikannya di depan mata.

Latar dalam film juga mempunyai fungsi dramatic oleh sebab itulah, seorang penulis sekenario harus hati-hati dalam mencari dan memilih barang-barang atau benda-benda yang akan ditampilkan dalam film. Ia harus bisa memilih barang-barang atau benda-benda yang paling ekspresif, jelas, dan tepat di antara sekian banyak barang-barang atau benda-benda yang tersedia dalam kehidupan sehari-hari.

5.      Suasana
Sebuah novel tentu mempunyai suasana tertentu. Tindakan tokoh-tokohnya akan memberikan petunjuk bagaimana suasananya pada saat itu. Latarpun dapat menunjukan suasana tertentu, sehingga cerita terasa lebih hidup. Agak sukar memang merumuskan suasana secara ketat sebab hal tersebut hanya bisa dirasakan pembaca.
Seorang novelis harus menyesuaikan situasi tertentu dengan suasana yang hendak diungkapkan. Kalau tidak, akan terlihat kejanggalan-kejanggalan yang bukan tidak mungkin dapat merusak keseluruhan cerita/novel. Sampai disini dapat disimpulkan, suasana adalah jiwa sebuah novel. Ia berfungsi menunjang cerita, alur, penokohan, dan latar, sehingga novel terasa hidup. Dengan kata lain, suasana adalah roh sebuah novel. Tanpa roh tersebut novel akan terasa kaku, kering dan tak hidup.
Suasana pun memegang peranan penting dalam film, seperti dalam novel, suasana dalam film juga berfungsi menunjang cerita, alur, penokohan dan latar, seperti dalam novel suasana dalam film pun harus diselaraskan dengan situasi tertentu.
6.      Gaya

Gaya seseorang pengarang bisa diketahui melalui karyanya. Karena seperti dikatakan Carlyle, “Gaya bukan hanya baju, melainkan kulit pengarang itu sendiri”. Pernyataan ini diperkuat lagi dengan pendapat Buffon “Gaya adalah orangnya sendiri” ada juga anggapan mengatakan, gaya seseorang pengarang menyangkut pemilihan tema, pemilihan tokoh-tokoh, pemilihan latar, dan seterusnya. Akan tetapi, pengertian gaya dalam buku ini penulis pakai dalam arti sempit. Yakni hanya menyangkut cara khas seseorang pengarang untuk mengutarakan/mengemukakan cerita, ide, maksud dan pesannya.

Salah satu gaya bahasa dan cara pengisahan yang dilakukan oleh pengaarang Pramoedya Ananta Tour membandingkan buah dada amilah yang sudah kemps itu demikian : “buah dadanya jatuh pada kulit dadaseperti juga halnya dengan [egunungan kendeng lengket pada bumi Bojonegoro”.
Cara pengisahan atau cara bercerita menyangkut cara apa yang dipakai pengarang untuk mengutarakan maksud. Maka itu oengarang harus mencari variasi pengisahan yang lain, seperti : cakapan, cakapan batin, surat, catatan/buku harian, biografi, hikayat, sorot balik, dan sebagainya.

7.      Tema/Amanat
Seorang pengarang tentu saja mempunyai persoalan tertentu yang hendak dikemukakan atau diutarakan kepada pembaca. Ia mempunyai inti persoalan, yang nanti dijabarkan melalui unsur-unsur novel : alur, penokohan, latar, suasan, dan gaya. Inti persoalan inilah yang penulis maksud dengan tema. Dengan demikian dalam sebuah novel akan dijumpai tema ini. Berkaitan dengan tema amanat atau pesan adalah sesuatu yang menjadi pendirian, sikap atau pendapat pengarang mengenai inti-persoalan yang digarapnya. Dengan kata lain, amanat adalah pesan pengarang atas persoalan yang dikemukakan.

Filmpun mempunyai tema tertentu, yakni inti-persoalan yang hendak diutarakan/disampaikan pembuat film kepada penontonnya. Tema itulah yang harus dituangkan dalam gambar-gambar, sehingga penonton dapat menangkap pesan atau ide pembuat film. Seperti dalam novel, besar kecilnya tema film bukanlah jaminan berhasil tidaknya sebuah film. Keberhasilan film tergantung pada factor, sekenario, pengambilan gambar, permainan para pelaku, penyusunan gambar dan lain-lain.

Seperti halnya novel, dalam film pun ditemui juga amanat pembuat film untuk penonton. Contohnya dalam film Si Doel Anak Modern, misalnya tersirat amanat “Orang jangan terlalu mudah tergila-gila pada hal-hal yang berbau modern karena yang modern itu tidak selalu enak”. Tetapi tidak semua sutradara ingin menjejelkan amanatnya kepada penonton.