2013/08/14

Cerpen Bertemakan "Lingkungan" judul cerpen "Gerobak Rina Rini"

“Gerobak Rina Rini”


Suatu pagi menjelang siang terlihat tiga orang pemulung yang terdiri dari ayah, serta dua orang anak kembarnya yang bernama Rina dan Rini. Rina dan Rini baru menginjak usia delapan tahun, tapi sayang dalam usia yang seharusnya mereka sudah mulai masuk sekolah dasar, mereka tidak dapat bersekolah karna keterbatasan biaya.  Mereka hanya tinggal di sebuah gubuk tua di perkampungan pemulung, dan sebuah gerobak untuk menampung barang-barang hasil pulungan mereka.
Mereka merupakan pemulung barang-barang bekas dan plastik yang  sedang melakukan rutinitasnya seperti biasa. seperti biasanya Rina Rini dan ayahnya selalu memulung di kawasan Bintaro sektor tujuh sampai Bintaro sektor sembilan. Hari ini mereka mengitari sebuah perkampungan  yang mempunyai banyak kos. Ya, di kampung tersebut  ada sebuah universitas negeri ternama. Wajar jika banyak kos disana.
Di deretan kos yang banyak, mereka memulai peruntungannya, barangkali terdapat banyak plastik-plastik disana. Ketika Rina, Rini dan ayahnya berada di suatu halaman belakang dari deretan beberapa kos, terdapat banyak plastik. Ayahnya  mulai mengais-ngais menggunakan tongkat besi yang setia menemani dan sebuah gerobak kesayangannya yang bertuliskan nama anaknya yaitu “RINA DAN RINI”. Sungguh mengharukan, melihat seorang anak kembar yang begitu setia menemani ayahnya untuk memulung.
Hari pun semakin sore, saatnya Rina, Rini dan ayahnya pulang kerumah. Sesampainya dirumah ibu dari dua anak kembar itu sudah menyiapkan makanan untuk suami dan anak kembarnya. Tersaji di bawah lantai yang beralaskan koran-koran bekas terdapat nasi dan kerupuk kaleng.
Melihat makanan itu, Rani terlihat cemberut. Melihat wajah Rani yang cemberut,
 Ibunya pun bertanya,  “ Kamu kenapa cemberut saja nak... ayoo dimakan nanti cepat dingin”
Rani menjawab, “ Kapan si bu, kita bisa makan enak ...?”
Ibunya tersenyum sambil mengelus kepala Rina, dan berkata “Sabaar yah nak makan saja yang ada, masih banyak orang yang lebih merasa kekurangan dari keluarga kita.....”
Ayah dan Rini hanya menatap Rina yang masih tetap cemberut. Ke esokan paginya  Rina, Rini dan ayahnya bergegas untuk memulung. Ketika dalam perjalanan, Rini dan Rina melewati Sekolah Dasar Negri yang bernama “SDN Pelangi” mereka melihat anak-anak yang sedang bermain di depan gerbang sekolahnya.
Rina berkata: “Pak, kapan yah.. aku sama Rini bisa sekolah seperti mereka. Ayahnya menjawab : “Sabar ya nak, insya Allah tahun depan” Sebenarnya sang ayah berbohong, ia hanya ingin menyenangkan kedua anak kembarnya agar tidak bersedih. Karna ayahnya tidak memiliki uang yang cukup untuk biaya masuk sekolah Rina dan Rini. Mendengar hal tersebut Rina dan Rini nampak gembira.
 Di sepanjang pinggiran jalan Rina, Rini dan ayahnya mulai mengais sampah-sampah yang ada. Selesai mencari rongsokan mereka menjual rongsokannya di pengepul. Hasil hari ini cukup untuk makan Rina, Rini dan sekeluarga. Lalu mereka membeli makanan dan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah mereka beristirahat.
  Sore harinya Rina dan Rini bersama dengan teman-temannya sedang bermain petak umpet. Saat mereka bermain, Rini bersembunyi di balik dinding rumah kontrakan, sedangkan Rina bersembunyi di pinggir perumahan tetangganya yang dekat dengan jalan raya. Tak sadar Rina menginjak sebuah dompet, ia pikir hanya sebuah batu kerikil yang menumpuk. Rina pun terkejut,  “Yaaa ampuuun, ini dompet siapaa??....” Rina sangat kebingungan. Kemudian ia kembali ke tempat teman-temanya yang sedang bermain. Ia berkata kepada Rini,  “Rinii, aku menemukan dompet  Rin, tapi tak ada pemiliknya”. Rini menjawab, “Wah ada uangnya tidak?? Kalau ada kita ambil saja uangnya” . “ Ada sih, tapi kan kita tidak boleh mengambil barang yang bukan milik kita. Kita harus kembalikan,”. Kata Rina.
       “Baiklah kita kembalikan saja. Tapi, kita kan tidak tahu alamat pemilik dompet ini, bagaimana dong?”, kata Rini. “ Ya kita lihat saja pada KTPnya”, kata Rina. Akhirnya mereka berdua menuju alamat pemilik dompet itu. Ternyata alamat itu tidak jauh dari kedua rumah mereka.
Sesampainya di alamat pemilik dompet itu mereka mengetuk pintu. “ Assalamu’alaikum warahmatuallahhi wabarakatu”, kata Rini. “Wa’alaikummusalam warahmatuallahhi wabarakatu, mari-mari silahkan duduk”, kata pemilik rumah itu. “ Ya pak terima kasih”, kata Rina. “ Maaf ada keperluan apa ya adik berdua datang kemari? “ , kata pemilik rumah itu.
      “ Kenalkan pak saya Rina dan ini saudara kembar saya Rini, Pak apakah ini dompet Bapak? “ , kata Rina sambil menunjukkan sebuah dompet. “ Wah benar dik itu dompet saya yang hilang, oh ya kenalkan saya  Suprianto. Terima kasih banyak ya dik sudah mengantarkan dompet saya “ , kata Pak Suprianto. “ Oh iya pak sama-sama “ , kata Rina. “ Adik rumahnya dimana dan sekolah di mana? “ , kata Pak Suprianto. “ Wah, rumah kami di perkampungan pemulung Pak, ya maklumlah kami hanya seorang pemulung, saya tidak bersekolah Pak karena masalah biaya “ jawab Rini dengan menunduk karena sedih.
            Pak Suprianto merasa iba. Tiba-tiba ia berfikir untuk menyekolahkan Rina dan Rini. “ Bagaimana kalau kalian berdua saya sekolahkan? “ , kata Pak Suprianto. Dengan perasaan senang mereka menjawab kompak “ Ya pak kami mau “. Akhirnya mereka pamit pulang dengan perasaan yang sangat senang.
   Setibanya di rumah Rina dan Rini memberitahukan  orang tuanya bahwa mereka akan disekolahkan oleh seorang pengusaha kaya bernama Pak Suprianto. Dan kedua orang tuanya setuju-setuju saja. Orang tua mereka senang karena ada yang mau menyekolahkan anak-anak mereka.
   Saat Rina Rini dan keluarganya sedang beristirahat tiba-tiba datang Pak Suprianto. Beliau di sambut baik oleh keluarga Rina Rini. Tujuan Pak Suprianto ke rumah mereka adalah untuk mengajak Rina Rini untuk membeli seragam.
 Sampainya di toko,  Pak Suprianto berkata “Silahkan pilih seragam yang muat dan alat-alat sekolah yang bagus”. Rina Rini menjawab dengan kompak “ Iya paaak “. Selesai memilih seragam dan alat-alat sekolah Pak Suprianto membayar itu semua di kasir.
   Setelah selesai berbelanja semuanya,  Rina Rini diantarkan pulang oleh Pak Suprianto. Di jalan Pak Suprianto berkata agar mereka besok siap-siap untuk berangkat sekolah dan akan diantarkannya. Mereka pulang dengan hati yang senang. Sebentar lagi keinginan mereka untuk bersekolah akan terwujud.
   Keesokan harinya pagi-pagi sekali, Rina Rini sudah siap brangkat sekolah. Pak Suprianto sudah datang dan siap mengantarkan mereka berdua. Sampainya mereka di sekolah, jantung mereka berdebar-debar. Setelah bel sekolah berbunyi mereka diantarkan ke dalam kelas oleh seorang guru.
   Guru tersebut memperkenalkan Rina dan Rini. Murid-murid di sekolah itu  sangat senang menyambut kedatangan mereka. Bahkan baru dua minggu saja mereka sudah sangat akrab. Mereka berdua tak lupa mengucapkan terima kasih terhadap Pak Suprianto yang telah berjasa menyekolahkannya.
            Suatu hari ada kabar, bahwa Pak Suprianto meninggal dunia, dikarenakan sakit jantung. Mendengar berita itu Rina dan Rini sangat sedih dan  merasa kehilangan. Mereka beserta orang tuanya langsung berangkat melayat ke rumah Pak Suprianto. Mereka cemas jika Pak Suprianto meninggal, lalu siapa yang akan membiayai keberlangsungan sekolah mereka.
  Tetapi mereka tak berputus asa untuk mencari ilmu. Akhirnya mereka tetap sekolah dan sepulang sekolah Rina Rini tetap memulung untuk mencari uang dan untuk kebutuhan sekolah mereka. Dengan usaha keras, mereka berhasil mengumpulkan uang untuk membiayai sekolah mereka. Mereka senang karena mereka bisa membayar uang sekolah dengan hasil keringat sendiri.

            Walaupun Rina dan Rini hanyalah seorang anak dari pemulung. Mereka tetap bersekolah demi meraih keinginan, dan  cita-cita mereka.