2013/09/20

tugas cerpen lingkungan



CERPEN HUJAN DI MUSIM KEMARAU
(oleh : Marya Ulfa)

            Matahari merekah di ufuk timur, pertanda dia telah bangun dari tidurnya semalam. Sinarnya yang berwarna putih kemerah-merahan menembus celah-celah dedaunan, membangunkan para burung untuk segera berkicau. Warga lajikaum menyebar, menuai kehidupan di sawah dan ladangnya masing-masing. para pemuda dan orang tua seakan bertanding untuk memenangkan perjuangan hidup hari ini, dengan wajah cerah dan senyum yang cemerlang. Terik sang surya seakan membawa kebahagiaan tersendiri bagi para petani, karena hari ini mereka akan panen di sawahnya masing-masing.
            Sejak pukul 04.00 pagi, Bu Samroh sudah bangun dan memasak untuk acara panen. Dia begitu cekatan mempersiapkan keperluan panen hari ini. Tepat pukul 06.30 Ibu Samroh menyuruh suaminya untuk bersiap ke sawah.
“ pak nuju naon ? Enggal atuh siap-siap ka sawah, pan bade panen ” Bu Samroh mengingatkan.
“ Muhun ibu oge terang. Hayu atuh tos siap sadayana acan ” Ujarnya pelan.
            Tak lama kemudian Bu Samroh dan suaminya segera berangkat menuju sawahnya yang lumayan jauh dari rumahnya menggunakan sepeda motor. Bu Samroh sedikit kerepotan membawa bakul nasi dan ceret untuk acara panen nanti. Sesampainya di sawah Bu Samroh  langsung menyuruh para pekerjanya berkumpul untuk acara sedekahan dan berdoa bersama sebagai wujud syukur atas panen yang berlimpah tahun ini.
“ Ibu-ibu sareng bapak-bapak tos karumpul acan sadayana acan ? sateuacana mulai acara panen, mangga urang sadayana sedekahan sebagai wujud syukur urang ka Gusti Allah “ Pak Edi memberi penjelasan.
“ Muhun...” jawab para pekerja bersamaan.
            Tepat pukul 07.00 pagi, ketika semua pekerja sudah berkumpul di bawah pohon mangga, Pak Edi memulai acara sedekahannya. Sementara istrinya segera mengeluarkan beberapa makanan di dalam bakulnya. Disana sudah tersedia pepes ikan peda, sayur cabe, lepeut, ikan asin, kopi pahit, kopi manis, teh manis, teh pahit, segelas air putih, roko dua batang, nasi sebakul, ayam bakar, lalapan, sambel, dan telor asin.
            Setelah makanan sudah tersaji, Pak Edi langsung memulai acara sedekahannya. Pertama-tama tahlilan, lalu berdoa bersama. Baru kemudian acara dilanjutkan dengan makan bersama di sawah bareng para pekerja. Walaupun sederhana, acara ini sangat ditunggu-tunggu oleh para petani, belum lagi melihat kebahagiaan di wajah para petani lain yang juga panen hari ini. Pagi ini terasa sangat istimewa.

            Acara selanjutnya adalah memotong padi sesuai jatahnya masing-masing. Pagi petani yang panen berlimpah, maka pekerjanya pun mendapatkan padi lumayan banyak (10:1). Jika petani panen padi satu ton maka pekerjanya berhak mendapat padi satu kwintal. Pak edi dan Ibu samroh memperhatikan dari kejauhan, merasa puas karena tahun  ini padinya sangat bagus tanpa terkena hama sedikit pun.
            Tak lama kemudian, hamparan sawah yang menguning itu hanya menyisakan potongan-potongan jerami kecoklatan. Beberapa tumpukan jerami yang sudah dipotong siap dimasukan ke mesin giling. Sementara padi yang sudah digiling langsung dijemur, supaya ketika nanti dijual harganya tinggi.
            Matahari serasa di atas kepala, memberikan panas yang sangat menyengat membakar kulit. Para pekerja mulai beranjak dari sawah, berlindung di bawah pohon mangga. Berharap dedaunan itu bisa melindungi mereka dari sengatan sang surya. Perlahan sebagian pekerja membuka bekal makan siang yang mereka bawa dari rumah, segelas air es mampu membasahi tenggorokan mereka. Sementara beberapa pekerja lain ada yang duduk santai sambil minum kopi, ada juga yang tiduran di atas rumput, dan ada juga yang langsung makan siang.
“ Ngajabur Wa....! Ngajabur heula “ Teriak salah satu pekerja.
“ Muhun Bi ieu oge bade “ Jawabnya enteng.
“ Teu acan garoyang sugan di dinya mah ?” Tanyanya ingin tahu.
“ Teu acan Bi, sakeudap deui “.
            Canda dan tawa segera terdengar dimana-mana, karena pukul 11.30 adalah waktu istirahat para pekerja di ladang dan sawah. Mereka saling bercerita, dan tak jarang mereka saling berbagi makanan dengan pekerja lainnya. Suasana seperti inilah yang membuat para pekerja lebih bersemangat dan tidak mengantuk.
“ Sawah kaler kenging sabara ton wa ?”
“ Alhamdulillah,,sawah Pak edi tahun ayeuna untung ageung, sawahna sae pisan “.
“ Wah..enak atuh ! ari sawah Pak Ahmad mah tahun ayeuna mah teu sae jiga tahun kamar, nya lumayanlah nu penting aya lewihna “.
            Musim Panen tak ubahnya seperti Hari Raya kedua bagi para petani di desa. Masa panen adalah masa suka-cita, masa anak-anak kampung berlomba menaikan layang-layang terindah atau pun bermain perang-perangan di tumpukan jerami. Matahari kian meninggi memanjati langit, dari sinarnya yang terang terlihat pantulan kekuningan bulir-bulir padi. Puluhan pipit-pipit bandel tergoda amat sangat, berkali-kali tangan pekerja terangkat mengusir mereka, berkali-kali pula gerombolan nekat itu datang lagi.

            Di langit, matahari sudah mencapai singgasananya. Sementara angin bertiup lembut memberikan hawa kesejukan, para pekerja bersiap melanjutkan aktivitasnya kembali. Hanya tinggal setengahnya lagi, hamparan sawah itu akan menyisakan tumpukan jerami untuk tempat bermain baru bagi anak-anak desa. Rupanya cuaca tak bisa diajak kompromi, di tengah musim kemarau ini tiba-tiba saja langit berubah menjadi sangat gelap, gemuruh petir memecah kesunyian siang itu. Semua pekerja menjadi panik, acara panen kali ini benar-benar di luar dugaan. Baru kali ini ada petir di siang hari pada musim kemarau. Tak lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya, merendam semua ladang dan sawah. Kini hamparan sawah yang luas itu berubah seperti danau dadakan. Para pekerja kebingungan antara rasa senang karena hujan turun dan rasa sedih karena hujan turun di saat mereka panen. Tanpa pikir panjang, para pekerja segera menyelamatkan tumpukan-tumpukan jerami yang belum digiling dan membawa padi yang sedang dijemur ke pinggir jalan.
            Para pekerja itu semakin terlihat panik tatkala petir terus-menerus menggelegar tanpa henti, menyambar apa saja tanpa pandang bulu. Beberapa pohon tumbang mengenai badan jalan, sementara jerami-jerami bekas panen langsung hanyut terbawa arus yang kian deras. Pak Edi dan Istrinya segera datang dan membantu pekerjanya menaikan padi ke atas truk. Bu Samroh hanya bisa menatapnya di atas truk dengan kesedihan mendalam. Meskipun begitu, Ia dan suaminya tak boleh berputus asa dan harus tetap bersyukur karena Ia masih bisa menikmati hasil panen dari setengah sawahnya..
            Kepanikan itu tak berhenti sampai di situ saja, kini jerit ketakutan semakin jelas terdengar bersama isak tangis kesedihan. Rupanya ketika petir menggelegar tadi ada salah satu pekerja dari sawah lain yang tersambar petir hingga tubuhnya kehitaman dan mengeras. Lengkap sudah acara panen hari ini, hujan itu membawa cerita tersendiri yang tak akan terlupakan sampai kapan pun, kini jasad pekerja itu dibawa pulang bersama tumpukan jerami dan karung padi di dalam truk, karena mustahil menunggu ambulance datang. Isak tangis kesedihan menghantar mereka menuju rumah duka.
            Pak Edi dan Istrinya sangat shock dengan peristiwa yang baru saja terjadi, benar-benar seperti mimpi saja. Tak ada yang mengira bakal separah ini kejadiannya, padahal masih segar dalam ingatan tadi siang para pekerja itu berkumpul menikmati waktu istirahat sambil bercanda tawa di bawah pohon mangga. Sekitar 16.30 wib hujan pun akhirnya reda, namun kepiluan itu masih membekas dan tak terlupakan. Setelah hujan benar-benar reda, perlahan air di pesawahan dan ladang pun surut. Kini jalan raya itu dipenuhi jerami-jerami yang berserakan dimana-mana. Ternyata hujan di musim kemarau itu adalah sebuah tanda untuk mengingatkan kita bahwa kematian dan musibah itu bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan kepada siapa saja. Dan kematian bukanlah akhir dari semuanya.


Selesai

2013/09/18

Tugas akhir Cerpen



Nama               :  Ari Purwoko
NIM                :  2011070054

Cinta Tak Mengenal Berat Badan

Selalu tujuh putaran. Setiap hari, hanya tujuh putaran berlari mengelilingi kampus pada pukul enam lewat empat puluh lima pagi. Kalo kurang dari itu saya malu, kalo lebih pun saya tak mampu. Terus terang aja, saya bukan tipikal pria yang suka olahraga, tapi bukannya tidak suka. Saya juga suka main bola semasa sekolah, dan sering mencoba voli dan juga basket.
Namun saya hanya duduk dibangku cadangan dan hanya menonton aksi teman-teman sekelas sambil memberi semangat bersama anak perempuan. Kala itu saya selalu mencoba, namun saya selalu lebih rendah dari temen-teman saya yang lebih dari saya. Saya pun sudah mulai kehilangan rasa percaya diri jika berada pada semua bidang yang saya tidak kuasai.
Akan tetapi saya selalu mencoba untuk berbaur dan menunjukan kemampuan diri, ya walaupun selalu hasil yang saya dapat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Selalu tersingkir, tersisih ke belakang, dikarenakan ada yang lebih dari saya atau pun saya yang menarik diri. Entahlaah, mungkin aja saya tidak berbakat dibidang olahraga.
Saya iri dengan mereka.
Saya tidak merokok, saya juga benci asap rokok, tapi bukan saya tidak pernah mencoba, saya juga pernah mencicipi yang namanya rokok pada saat kelas enam SD. Waktu itu saya sedang bermain bersama di salah satu rumah teman. Total kami berlima, dua orang kelas 2 SMP, 2 orang lainnya duduk dikelas 2 SMA. Orang tua teman saya sedang pergi keluar kota, Lalu mulailah kami “berpesta”. Kami hanya merokok saja. Hanya saya sendiri aja yang tidak ikut menghisap.
Mereka tampak asik menghisap batang-batang tembakau itu, akan tetapi saya sama tidak tertarik, walaupun agak sedikit penasaran bagaimana cara dan rasa dari rokok itu. Tau sendiri kan rasa penasaran anak itu kaya apa ??  Lalu salah satu teman saya yang udah SMA menawari saya untuk menghisap rokok, “eh sini, ayo ikut cobain, enak tau...” ucapnya. Saya menggeleng dengan cepat. Saya takut, takut ketauan ayah. Tapi dia terus membujuk dan merayu, lalu timbullah bisikan “ah, mungkin sedikit aja gak apa-apa kali yaa..”. Saya pun menggapai salah satu rokok dari tangan teman saya dan menghisapnya. Baru satu hisapan pendek aja dada saya langsung sesak dan napas seakan tersangkut di leher. Saya batuk-batuk dan mau muntah.
Mulai sejak saat itu saya semakin tidak suka rokok dan tidak pernah mau lagi mencoba lagi. Meski saya tidak merokok, entah kenapa saya tidak kuat berlari. Kalo kata orang yang tidak merokok itu lebih kuat daripada yang merokok. Tapi kenyataannya itu tidak terbukti pada saya. Selam SD, SMP, bahkan sampai saya lulus SMA saya selalu kalah berlari dengan teman-teman. Mulai dari stamina, teknik saya kalah segalanya. Saya malu.
Beberapa bulan lalu ketika saya masih tenggelam dalam ketegangan Ujian Nasional, pesan singkat dari Ibu yang tinggal di kampungpun kembali menyadarkan saya akan hal tersebut.
“Mamas sehatkan ? jangan lupa shalat sama olahraga yaa.. jangan sampe gakk..”
 Pesan itu sangat memukul hati saya, karena syaya sadar akan pentingnya kesehatan dan memang berat badan saya semakin hari makin bertambah. Pergerakan saya pun semakin lamban, saya juga jarang sekali bergerak, ya walaupun itu untuk ke kamar mandi saja. Jika perut saya lapar barulah saya keluar kamar. Pergi keluar rumah juga saya sellu menggunakan sepeda motor, saya jarang sekali berjalan kaki, mungkin karena saya memiliki motor, jadi buat apa saya harus berjalan kaki ???
Sebenarnya isu kesehatan tidak akaan pernah membuat saya khawatir, karen saya tidak gemuk-gemuk amat, tinggi saya seratus enam puluh tiga senti berat badan saya enam puluh tujuh kilo. Memang stelah saya konsultasi dengan ahli gizi berat badan saya lebih berat daripada orang normal seharusnya. Hal ini lah yang memacu saya untuk berolahraga lagi, karena saya memiliki seorang teman yang sangat gemuk, hingga dia tidak memiliki leher. Dia tampak bahagia dan sangat baik keadaannya. Namun saat dia naik motor tak bisa berboncengan dengan orang lain, karena jok sudah penuh dengan tubuhnya sendiri. Mungkin saat berbelanja pakaian ia selalu kesulitan untuk mendapatkan pakaian yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Saya sering melihat dia susah untuk bernapas. Mungkin menurut saya lemak yang ada didalam tubuhnya berlebihan, sehingga menghambat jalur pernapasannya.
Saya tidak mau seperti dia...
Dan disinilah saya mulai terengah-engah ditengah komplek perumahan disekitar sekolah pada pukul enam lewat empat puluh lima pagi. Hanya mampu berlari tujuh putaran. Selalu tujuh putaran, lebih dari itu saya tidak mapu, kurang dari itu saya malu. Akan tetapi saya bertemu dengan seorang wanita. Dia menghampiri saya sambil tersenyum, dia berkata
“Cuma tujuh putaran ?”

“Aku saja yang perempuan bisa berlari lebih jauh daripada pria manapun disekolah ini”. Tidak pernah sampai tujuh putaran, itu merupakan suatu hal yang sangat memalukan. Belakangan ini aku sering melihat pria itu berlari di area sekolah. Pada awalnya sih aku tidak terlalu memperhatikan si dia, namun iseng-iseng aku mengikuti jalur larinya, aku baru sadar ternyata dia hanya mampu berlari tujuh putaran saja.
Selalu tujuh putaran.
Aku tidak suka berlari hanya tujuh putaran, karena tujuh putaran tidak cukup bagiku untuk berlari dari apa yang ingin aku tinggalkan.
Masa lalu...
“Pengkhianatan adalah hal yang sangat menyakitkan daripada maraton bertelanjang kaki, kau tau itu” ??
Aku masih belum bisa percaya dengan apa yang aku lihat saat suatu pagi yang segar aku menemukan dia yang sedang lari pagi santai di taman kota dengan seorang perempuan. Aku pun mengikuti mereka dari belakang dan mereka tidak meyadari kehadiranku. Mereka berhenti beberapa kali, lalu mereka lanjut berlari santai sambil berpegangan tangan. Ketika aku memicingkan mata dan berusaha menyingkirkan rasa curiga  justru mengejutkanku, ternyata perempuan yang sedang bersama sepatu kesayanganku itu adalah sahabatku sendiri.. “Katakan padaku, apa yang lebih buruk dari seorang sahabat yang merebut kekasihmu” ?? maka aku menghampiri mereka saat itu juga dan menampar keras keduanya.
Sejak saat itu, aku butuh lebih dari tujuh putaran di sekolah untuk berlari dari sakit hati. Semakin hari aku berlari semakin jauh dan napasku semakin panjang. Kedua kakiku seolah tidak pernah mengenal lelah. Jika setiap tujuh putaran aku membutuhkan tujuh ptuaran lagi, begitu seterusnya. Jadwal sekolahku setiap pagi yang mampu membantuku menahan diri.
Aku belum pernah ngeliat pria yang cuma mampu berlari tujuh putaran , sepertinya baru seminggu belakangan ini dia berlari disini. Ia payah, tubuhnya gemuk tapi sebenarnya tidak begitu gemuk juga. Dari tampangnya sii dia bukan seorang perokok, tapi bekas sepatu kesayanganku itu seorang perokok berat, tapi dia bahkan bisa lari lebih lama dari pada pria tujuh putaran. Jadi kesimpulan yang aku dapat adalah pria tujuh putaran ini memang jarang olahraga.
Pagi hari ini dia sangat payah, pada putaran pertama aku melihat dia sudah terengah-engah. Pada putaran ketujuh, dia tampak hampir pingsan, tapi entah kenapa tiba-tiba aku khawatir makaa aku menghampirinya.

“Cuma tujuh putaran ?” kataku
Tak ada maksud untuk menyinggungnya, aku hanya bermaksud baik, aku ingin dia berlari lebih jauh lagi. Lebih jauh dari yang aku tempuh, aku melihat ada semangat yang besar dari matanya, aku tak pernah melihat mata seperti itu lagi sejak aku patah hati. “itu dulu”
Dulu sebelum sepatu kesayanganku direbut sama sahabatku, aku masih punya sorot mata penuh semangat itu. Namun sekarang yang ku punya hanya sepasang kaki yang ingin berlari lebih jauh dan napas yang membuang lebih banyak. Aku ingin meninggalkan kenangan pait itu sejauh mungkinyang aku mampu.
Kujulurkan tangan kepadanya dia menyambutku.
“Terima kasih” katanya. “Iya, saya tidak bisa lari lebih jauh lagi, aku capek”. Aku menepuk lengannya, “ayo dong, masa kalah sama cewek ?”
Dia mengangkat pundaknya, seperti pasrah dan tidak mau melawan pernyataanku. Untung dia tidak tersinggung. “Kamu sering lari pagi disini yaa ?”, btanyanya sembari mengatur napas. “Kamu baru kali ini ya lari dsini ?” aku membalas pertanyaannya.
Dia hanya tersenyum mendengarku, ia mengusap muka dan lehernya yang basah. Baru tujuh putaran, tapi keringatnya sudah seperti air bah, banyak sekali, sedangkan aku butuh berbelas-belas putaran untuk mengeluarkan keringat, itu juga baru sedikit.
Lalu alih-alih menjawab pertanyaanku, dia malah memperkenalkan diri. Ia menyebutkan namanya, aku jugu aku memperkenalkan diriku. Kalo ku perhatikan kok wajahnya gak asing yaa, seakan-akan aku sudah mengenal dia bertahu-tahun. Raut wajahnya begitu akrab dan membuat sesuatu yang ada didalam dadaku terasa nyaman, kemudian setelah ia berhasil menguasai diri dan berhenti melamun dia menoleh kearahku dan menatap mataku dengan tajam.
Mata itu, seperti mataku yang dulu.
“Mulai hari ini mau menemani saya berlari pagi ?”
Begitu ucapnya, seperti permintaan saat melamar seorang perempuan saja, Cuma dia hanya mengajak aku berlari saja. Tapi entah kenapa, aku ngerasa senang sekali.
“Kenapa hanya tujuh putaran ?”tanyanya kepada saya, seperti orang yang penasaran. Ini merupakan minggu keempat sejak kami berkenalan pertama. Saat itu saya mampu berlari lebih jauh dari pada biasanya, mulai sejak itu saya menambah satu atau dua putaran, bahkan dalam tiga minggu terakhir saya mampu berlari hingga dua puluh putaran, sungguh mengejutkan untuk saya, mungkin akan masuk rekor pribadi...
Saya tidak percaya dengan kaki saya sendiri.
Kemudian saya tersenyum, “saya bisa berlari lebih jauh dari ini, tapi tapi hanya butuh tujuh putaran untuk membuat kamu tertarik dan terpesona kepada saya. Benar bukan ?”. Lalu perempuan itu tersipu malu dan memukul bahu saya, saya nekat untuk menggenggam dan meraih tangannya, untunglah dia tidak menghindar, malah dia merespon dan mengggenggam tangan saya dengan erat. Setelah kejadian itu, kami berdua hanya berjalan kaki dan tidak sampai satu putaran. Kami begitu capek memikirkan dimana dan bagaimana setelah ini waktu hendak kami habiskan.

2013/09/15

Tugas akhir membuat cerpen

Desa Berpenyakit

Dingin seperti menusuk tulang, begitu lah yang aku rasakan ketika menginjakkan kaki di kota Bandung. Sekitar pukul enam lewat  sepuluh menit aku sampai di Bandung setelah melewati begitu banyak pemandangan yang sangat indah di kota ini, udaranya sungguh berbeda dengan di kota ku berasal, yaitu kota Tangerang.
“Sunguh sangat indah pemandangan di sini?”. Tanyaku kepada kelima teman-teman  yang kebetulan satu rombongan dengan aku.
“Iya rin sungguh sangat indah pemandangan di sini begitu asri dan menenangkan jiwa!!”. Jawab temanku Santi.
Kami menginjakkan kota Bandung untuk melakukan praktik salah satu mata pelajaran yang ada di kampus  kami, kebetulan kami ditempatkan di kota Bandung, kota sejuta kenangan.
Kami berlima langsung bergegas menghampiri para warga yang sedang menyambut kedatangan kami sejak tadi, maklum mungkin kami satu-satunya calon dokter yang masuk ke desa meraka yang sangat terpencil. Begitunya kami menghampiri mereka kami di sambut sangat baik dan kami disediakan tempat tinggal, walaupun tempat tinggal ini tidak cukup besar tapi tempat ini terlihat sangat rapi, mungkin para warga telah menyediakan serta membersihkan ini semua untuk menyambut kedatangan kami.
“Rasanya perjalanan kali ini sangat melelahkan tapi begitu mengasyikan, aku kira kedatangan kita ke sini akan menimbulkan polemik”. Kataku
“Pikirku juga seperti itu rin maklum di sini kan belum pernah ada dokter sebelumnya, yang ada hanya Mantri itupun letaknya di belakang gunung itu” . Timbal Yuni
Setelah kami menempati rumah yang sudah disediakan kami langsung membereskan barang-barang kami lalu kami mulai istirahat. Baru saja kami istirahat terdengar suara ketukan pintu. Tuk,,tuk, saya pun langsung membukakan pintu itu dan ternyata seorang anak kecil.
“Bu Dokter tolong ibu saya di rumah, ibu saya sedang sakit keras kalau ibu saya batuk keluar darah kental”. Kata anak perempuan itu dengan suara gemetar.
Aku pun langsung menjawabnya “iya dik kakak akan tolong ibu mu di rumah, sekarang kamu duduk dulu tenangkan diri mu kakak mau siap-siap dulu sebentar”.
Setelah aku siap-siap, aku pun langsung bergegas pergi ke rumah anak itu. Setelah sampai rumah anak itu sungguh iba hati ku melihat kondisi rumah yang begitu tidak layak huni serta letak rumah yang sangat jauh dari perkampungan serta lingkungan yang begitu sangat kotor seperti tidak terawat.
Permisi bu??”. Sapa ku
“Terima kasih bu dokter sudah mau kerumah saya”. Jawab sang ibu dengan suara lemah.
Aku langsung memeriksa keadaan ibu tersebut, aku binggung penyakit apa yang ada di dalam tubuh ibu ini sungguh aku tidak pernah tahu penyakit apa ini. Karena aku panik aku menghubungi teman-teman ku agar mereka ikut memeriksa ibu ini.
Tak lama teman-teman ku pun datang dan langsung masuk ke dalam rumah lalu memeriksa kondisi ibu itu. Teman-teman ku pun binggung penyakit apa yang di derita ibu ini.
“Rin aku binggung penyakit apa ini, mengapa aku belum pernah menemukan penyakit seperti ini”. Tanya Susan kepadaku
“Aku juga sungguh gak ngerti penyakit apa ini, tapi menurut ku kita harus membawa ibu Hartati ke rumah sakit sebab kita harus menindak lanjuti masalah ini”. Jawab ku
“Tapi harus pakai kendaraan apa kita ke rumah sakit, sedangkan di sini tidak ada kendaraan yang memadai, lalu jarak dari sini ke rumah sakit memerlukan waktu 10 jam dan sedangkan kondisi ibu Hartati sudah tidak memungkinkan lagi untuk berpergian jauh. Bagaimana kalau kita rawat saja, kita kan lumayan banyak bawa obat-obatan serta alat medis”. Kata Susan
“Ya sudah kalu begitu kita rawat bu Hartati di rumah”. Jawab ku dengan nada lemas
Kami pun meminta batuan beberapa warga untuk membawakan alat medis yang ada di puskesmas dan di rumah singgah kami. Setlah peralat di rasa cukup kami langsung menangani bu Hartai.
Seminggu kemudian setelah kami merawat bu Hartati dengan kemampuan yang kami punya, kondisi bu Hartati tidak menunjukan perubahan, malah bisa dikatakan kondisinya semakin memburuk karena setiap kali kami beri obat tubuh bu Hartati selalu menolak. Kami pun menjadi sangat khawatir, karena belum sepuluh hari kami di sini kami sudah menangani penyakit yang aneh ini. Kami pun selalu memberikan yang terbaik untuk bu Hartati tapi keadaanya tidak juga kunjung baik.
Dari arah belakang terdengar suara tangisan anak kecil, suara tersebut adala suara anaknya bu Hartati.
“Kamu kenapa Sari, menangis seperti ini?”. Tanyaku dengan
“Aku takut bu dokter, takut kalau ibu Sari gak bisa disembuhin. Sari takut bu dokter, Sari sayang sama ibu, Sari mau ibu Sari sembuh seperti dulu”. Jawab Sari sambil menangis
Aku pun memeluk Sari lalu menjawab “Kamu sabar Sari kamu harus berdoa agar ibu kamu cepet sembuh, kakak akan bantu kamu sebisa kakak, kamu tenang yah”.
Waktu pun terasa begitu cepat, sudah satu bulan kami tinggal di desa ini dan menangani seorang ibu yang entah apa penyakitnya. Karena sudah hampir satu bulan kami merawat bu Hartati tapi tak kunjung sembuh. Kami pun berniat akan nekad membawa ibu Hartati ke rumah sakit walaupun kami tahu keputusan yang kami buat akan mencelakakan nyawa bu Hartati sendiri.
Kami pun meminta para warga untuk meminjam mobil dinas yang ada di kecamatan yang letaknya delapan jam dari sini. Setelah mobil sampai kami pun  langsung membawa bu Hartati kerumah sakit dengan membawa beberapa obat-obatna untuk di jalan.
Kami pun langsung pergi ke rumah sakit. Ditengah-tengah perjalanan ternyata mobil yang kami kendarai ternyata mogok dan kondisi bu Hartati semakin parah dan detak jantungnya semakin menurun. kami pun panik lalu kami langsung melakukan pertolongan sebisa kami, tapi apa daya ternyata nyawa bu Hartati tidak tertolong. Kami pun membawa bu Hartai pulang ke rumah untuk menguburkannya.
Setelah penguburannya bu Hartati selesai waktu dinas kami pun berakhir dan kami langsung siap-siap pergi dan meninggalkan desa ini dan membawa sejuta cerita yang akan kami ceritakan kepada teman-teman di Tangerang.  Kami pun berpamitan dengan para warga dengan hati sedih karena sudah gagal menolong warga.
Sesampainya kami di kampus, kami semua berniat akan menanyakan penyakit apa yang di derita bu Hartati kepada dosen kami yang kebetulan dosen kami adalah salah satu dokter di rumah sakit ternama di Jakarta.
Kami pun langsung bergegas bertemu dokter dan langsung menanyakan. Kami semua memberi ciri-ciri penyakit yang di derita bu Hartati. Setelah kami menceritakan semuanya kepada dosen kami dan dosen kami pun menjawab bahwa b Hartati mengalami penyakit yang langka, hanya ada 100 orang di dunia yang terserang penyaki ini dan bu Hartati salah satu korban dari keganasan penyakit iini. Penyakit ini bernama “Flu Burung”.



2013/09/14

CERPEN TEMA LINGKUNGAN

MBAH DAKEM

Di Desa Wanarata hiduplah seorang nenek tua yang rambutnya sudah putih jalannya pun sudah membungkuk. Orang-orang di desa ini biasa memanggilnya mbah Dakem. Mbah Dakem sekarang ini tinggal bersama anaknya yang kedua sedangkan suaminya Mbah Dakem meninggalkan Mbah Dakem dan kedua anaknya begitu saja tanpa sebab dan akibat.
Pada  jam dua belas siang orang-orang di desa Wanarata ini baru pulang dari sawah ada yang bekerja di sawahnya sendiri dan ada juga yang bekerja di sawahnya orang lain, sedangkan Mbah Dakem pada siang ini baru berangkat ke sawah entah itu sawah siapa, sawah orang lainkah atau sawah sendiri. Masyarakat desa Wanarata ini pulang dari sawah pun langsung tiduran ada yang tidur di bawah pohon, ada yang tidur di teras depan rumah masing-masing, dan ada juga yang shalat dhuhur. Tapi di desa ini sangat sedikit yang mementingkan shalat hanya beberapa saja, ya.. mungkin karerna desa Wanarata ini tidak mempunyai mushala yang terdekat. Seperti Mbah Dakem ini tidak pernah menjalankan shalat sama sekali mungkin karena orang tua juga dulu tidak mengajarkan yang namanya shalat.
Pada siang hari mbah Dakem yang sedang berjalan ke sawah dengan menggunakan pakaian lengkap memakai topi kerucut, memakai baju sawah dan ditangannya ini membawa golok dan keranjang kecil. Di pertengahan jalan mbah Dakem bertemu dengan Turiyah. Turiyah  ini tetangganya mbah Dakem.
“mau kemana mbah siang-siang begini?” tanya Turiyah
“mau ke sawah” jawab mbah Dakem
“siang-siang begini mau dhuhur juga ko ke sawah mbah?” tanya Turiyah
Mbah Dakem pun tidak menjawab pertanyaan dari Turiyah ini, beliau melanjutkan perjalannya ke sawah. Sesampainya di sawah, mbah Dakem istirahat di gubuk sambil makan pisang yang beliau bawa dari rumah. Sawah ini dinamakan sawah patoman, sawah patoman ini bukan sawahnya mbah Dakem tapi sawah orang lain. Mbah Dakem ini selalu menanam pohon-pohon atau sayuran di sawah orang lain, anak atau tetangganya mbah Dakem pun menganggap mbah Dakem ini sedikit gila karena tanah orang lain selalu ingin dimilikinya. Siang ini mbah Dakem menanam pohon singkong di sawah patoman milik muji. Tidak lama anaknya mbah Dakem pun mencari-cari mbah Dakem karena sudah maghrib.
Bu…bu…bu… kemana ini si ibu gumam anak mbah Dakem dalam hati, anaknya mbah Dakem pun bertanya-tanya sama tetangganya apakah ada yang melihat mbah Dakem?. Tetangganya pun tidak tahu kemana mbah Dakem pergi hanya Turiah yang tahu tapi saat ini Turiyah tidak ada di rumah.
“Biasanya tidak dicariin?” tanya tetangga
“iya, ibu pergi dari siang sampai maghrib belum pulang juga biasanya kalau sudah maghrib sudah ada di rumah”. Jawab anak mbah Dakem
“Coba cari di sawah-sawah kan beliau selalu di sawah?” tanya tetangga
Anak mbah Dakem pun langsung pergi ke sawah, ke sawah mbaron, sawah legok, sawah galing di cari-cari tidak ada orang yang ada di sawah pun tidak melihat mbah Dakem dan akhirnya di carilah ke sawah patoman, sawah yang paling jauh dari rumah mbah Dakem. Bu…ibu…ibu… mbah Dakem pun tidak menjawab karena sudah tua pendengarannya pun sudah tidak jelas, dan anaknya pun tidak melihat mbah Dakem yang sedang jongkok sambil menanam singkong, anaknya kini sudah putus asa tidak tau harus cari ibunya kemana lagi karena langit pun sudah mulai gelap. Untuk melapas rasa lelah anak mbah Dakem pun istirahat di gubuk sambil melihat-lihat kanan kiri siapa tau ada mbah Dakem, dan tidak lama anak mbah Dakem melihat topi kerucut warna hijau seperti topinya mbah Dakem. “Mudah-mudahan itu ibu” dalam hati anak mbah Dakem, akhirnya anak mbah Dakem berjalan menuju topi hijau itu sambil membaca basmallah, sudah mulai dekat dan sudah keliatan jelas bahwa topi hijau itu benar bahwa beliau adalah ibunya
“ibu…sedang ngapain” tanya anak mbah Dakem
“nanam pohon singkong” jawab mbah Dakem
“langit sudah gelap bu hujan pun mau turun, ayo pulang!”
Mbah Dakem bersama anaknya pun segera pulang, dan ditengah jalan pun anaknya menasehati ibunya, itu sawah orang bu.. tidak usah ditanamin pohon apapun kan yang punya sawah tidak suruh ibu untuk nanam pohon itu.
mbah dakem pun menjawab kata siapa tanah orang itu kan tanah ku dulu, jadi terserah saya dong mau nanam apa saja.
 Tanah ibu? duit dari mana ibu beli tanah orang dari dulu itu tanah milik muji. Dan akhirnya mbah dakem pun marah-marah sendiri.
Mbah Dakem emang orangnya selalu begitu kalau di bilangin selalu marah-marah sendiri. Anak mbah Dakem pun diam karena sudah tau watak dari sifat ibunya seperti orang setengah gila tanah orang pun ingin dimilikinya.
            Karena perjalanan dari sawah patoman sampai rumah, mbah Dakem dan anaknya kini sampai pada pukul delapan malam. Sesampainya di rumah anak mbah dakem pun bertanya “kenapa si bu selalu menanam pohon atau tanaman di sawah orang?”
“aku ingin kerja, tapi tidak ada satu orang pun yang ngasih kerjaan ke aku” jawab mbah Dakem
“tapi kan ibu sudah tua?” tanya anak
“ya, emang kenapa kalau sudah tua? Apakah orang tua itu tidak boleh bekerja?” tanya mbah Dakem
“orang tua boleh bekerja, tapi kan ibu sudah tidak ada tenaganya lagi” kata anak
Percakapan pun mulai hening dan tiba-tiba anak mbah Dakem bertanya “kalau ibu kerja di mushala suruh bersih-bersih mushala, nanam pohon di mushala apakah ibu mau?”
“tentu saja saya mau, dari pada tidak bekerja apapun”
            Anak mbah Dakem pun meminta kepada ketua RT maupun RW untuk membangun mushala dan nanti yang akan membersihkan mushala itu mbah Dakem dan supaya masyarakat desa Wanarata ini pun mementingkan untuk shalat.