2013/06/15

Modifikasi Dongeng Malin Kundang




Malin Kundang 2
Oleh : Friyansyah




  Ada sebuah desa di pesisir pantai pualu Sumatra. Hidup keluarga nelayan yang sederhana keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang dan Malin Suning mereka berdua adalah anak yang kembar. Kundang dan Suning dibesarkan oleh sang ibu dari kecil, karena sang ayah telah meninggal dunia akibat penyakit yang dideritanya.

Sang ibu bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Demi menghidupi ke dua anak laki-lakinya. Sang ibu sebagai orang tua tunggal berusaha untuk selalu berlaku adil kepada kedua anaknya, Kundang dan Suning. Mereka  memiliki prilaku yang sangat berbeda, Kundang merupakan seorang yang pendiam sedangkan Suning merupakan orang yang aktif dan nakal. Meskipun begitu mereka adalah anak laki-laki yang banyak disukai oleh masyarakat desa nelayan dimana tempat mereka tinggal.

  Kundang dan Suning memiliki ketampanan yang menjadi perbincangan di kalangan anak gadis di desa tempat mereka tinggal, dan pada saat remaja Kundang yang selalu ramah tamah dan sikapnya yang lemah lembut banyak yang menyukainya, tetapi Kundang mempunyai perinsip dalam hidupnya, apabila dia bulum mendapatkan uang yang banyak dia tidak akan mendekati wanita mana pun. Berbeda dengan Suning yang selalu berganti-gantin wanita. Suatu hari Kundang sebagai kakak menasihati adiknya Suning meskipun mereka hanya berbeda beberapa menit dalam peroses kelahirannya, tetapi jiwa sebagai seorang kakak memang telah dimiliki Kundang. Kundang menasehati Suning agar ikut membantu sang ibu berjualan di pasar atau ikut melaut mencari ikan bersama Kundang. Tetapi Suning menolak ajakan Kundang untuk mencari uang. Dia berfikir asalkan di rumah tersedia makanan maka mereka masih berkecukupan.

  Kundang pun tidak bisa berbuat apa-apa dan memang sudah menjadi tugasnya sebagai pengganti ayahnya untuk bekerja membantu sang ibu. Pada suatu hari sang ibu terkena penyakit yang membuat badannya terasa lemas apabila ingin berdiri. Akhirnya sang ibu menyuruh Suning menggantikan ibu berjualan di pasar, tetapi Suning menolaknya dan menyuruh kakaknya si Kundang yang berjualan. Kundang pun melakukannya dengan senang hati demi sang ibu, karena baginya ini tidak adil, dia yang mencari ikan dan dia juga yang berjualan sedangkan Suning hanya bermain dan bermain saja bersama teman wanitanya.

  Setelah beberapa bulan Kundang mencari ikan dan berjualan, dia merasa kebutuhan keluarganya tidak mencukupi karena harus membelikan obat untuk ibunya yang sedang sakit. Akhirnya Kundang pun meminta izin untuk pergi bekerja di negara Singapura yang berdekatan dengan pulau Sumatra tempat mereka tinggal. Sang ibu pun dengan berat hati mengizinkan dengan persyaratan agar anaknya Kundang selalu memberi kabar setiap minggu kepada ibu nya. Seminggu sudah Kundang meninggalkan desa nya dan kabar pun telah datang. Di negara Singapura Kundang sudah mendapat pekerjaan sebagai pelayan hotel. Ibu dan adiknya Suning pun merasa senang dan bahagia bahwa Kundang telah bekerja di negara tetangga. Sang ibu pun sudah dapat berjalan dan berjualan di pasar kembali.

  Satu tahun kemudia sudah dilalui Kundang di negara Singapura dan dia pun mendapatkan seorang kekasih yang cantik dan kaya raya. Wanita itu adalah tamu hotel di tempat Kundang bekerja dan dari pertemuan pertama wanita tersebut suka dengan Kundang yang tampan dan ramah tamah. Dan akhirnya mereka berdua menjalin kisah cinta, hingga ingin menikah. Kundang pun merasa belum siap untuk menikah tetapi karena paksaan dari sang kekasih Kundang pun mengikutinya. Kundang berfikir prinsipnya telah tercapai karena sudah bekerja dan mendapatkan uang. Di kirimnya surat ke pada ibunya bahwa Kundang ingin menikah dengan kekasih pilihannya di negara Singapura. Sang ibu pun merestuinya tetapi wanita itu pun harus di bawa terlebih dahulu ke desa tempat Kundang tinggal.

  Kemudian Kundang pun membawa sang kekasih ke desanya, setelah sampai di desa wanita itu pun terkejut melihat tempat tinggal Kundang dan sang ibu, di rumah sederhana dekat pantai. Wanita itu pun merasa kecewa dengan keadaan Kundang dan sang ibu yang di pandang nya miskin. Wanita itu pun marah dan tidak ingin menikahi si Kundang. Akhirnya Kundang pun bercerita kepada ibunya tentang wanita itu yang bernama Leli dia adalah seorang anak dari pengusaha kaya raya di negara Singapura, sang ibu pun merasa sedih bahwa anaknya telah memandang kekayaan adalah segalanya. Meskipun begitu sang ibu terus menasehatinya bahwa jodoh itu tidak kemana.

  Satu bulan kemudian Leli pun menemui Kundang dan masih menyatakan cintanya kepada Kundang, lalu merekapun menikah dan tidak memberi tahu kepada sang ibu di desa. Kundang pun menjadi seorang yang kaya raya dan dia pun lupa akan keadaan ibu dan adiknya di desa. Setelah mereka menjalani kehidupan bersama sebagai suami dan istri, Kundang pun ingin sekali membuat rumah di pulau Sumatra. Dan akhirnya rumah mewah besar dan megah menghadap ke pantai terwujud di buatnya. Warga di sekitar desa pun di buatnya kagum akan bangunan  megah yang ditempati oleh Kundang dan Leli. Leli pun sebagai seorang istri memberi syarat agar Kundang tidak mengakui ibu dan adik miskinnya itu. Karena Kundang merasa berhutang budi dan mimpi-mimpi nya dapat diwujudkan oleh Leli, dengan berat hati Kundang pun tidak mengakui sang ibu dan adiknya. Padahal ibu dan adiknya tinggal tidak jauh dari rumah megah yang ditempati Kundang dan istrinya di pulau Sumatra tersebut. Ibunya pun merasa kecewa dan malu atas apa yang telah diperbuat anaknya Kundang yang seolah-olah memamerkan kekayaan di desa sendiri.

  Kemudian sang ibu pun menemui Kundang di rumah megah miliknya. Tetapi dengan sombong Kundang menyuruhnya pergi dan bersumpah tidak ingin mengakui bahwa dia adalah ibunya. Sang ibu pun menangis karena sakit hati mengapa si Kundang yang dahulu ramah dan penurut sekarang menjadi anak yang durhaka dan sombong. Kemudian Leli sang istri membuat rencana agar desa tersebut dimusnahkan dan dijadikan taman wisata pinggir pantai. Kundang pun setuju dan mengusir semua warga desa untuk pergi dan membongkar rumah-rumahnya secara paksa. Meskipun mendapatkan perlawanan dari warga desa yang tidak ingin rumahnya di gusur, tetapi tetap saja Kundang menang karena uang yang dimilikinya dapat membantu proses penggusuran tersebut berjalan lancar.

  Sang ibu pun merasa marah atas tingkah laku Kundang yang semaunya dengan kekayaan yang dimilikinya sekarang. Di depan para warga desa sang ibu pun berteriak-teriak memohon agar Kundang dapat menjadi yang seperti dahulu lagi dan apabila dia tetap sombong dan durhaka kepada ku maka jadikanlah dia batu beserta istrinya yang menuntunnya berbuat tidak baik, tidak lama kemudia kundang Kundang dan istrinya pun pulang ke rumah mewahnya. Tiba-tiba terjadi gempa bumi dan rumah itu pun hancur menimpah Kundang dan Leli istrinya. Warga desa pun yang rumahnya telah di gusur sebelumnya oleh Kundang selamat atas kejadian gempa bumi tersebut. Rumah megah milik Kundang hancur, warga pun segera melihatnya dan ternyata Kundang bersama Leli telah menjadi batu akibat reruntuhan rumah megah miliknya sendiri. Dan warga desa di sekitarpun tidak ada yang membersihkan dan menguburkan kedua orang sombong tersebut. Sang ibu pun merasah kecewa kepada Kundang meskipun demikian sang ibu telah memaafkan Kundang di depan reruntuhan rumah nya tersebut. 
Dan sekarang sang ibu hidup bersama Suning di pulau jawa. Selesai  

3 komentar:

Ruang Kata-kata mengatakan...

kilas baliknya belum terlihat dgn jelas. Perhatikan penggunaan kata "fikir" yang benar fikir/pikir?

Friyansyah mengatakan...

Iya bu pikir yang benar.

Unknown mengatakan...

Ga ada dialognya nih