2013/07/31

spasi dan waktu


RUKO TOLBOULEVARD
Pukul dua belas siang terik matahari begitu panas mamancarkan sinarnya, terik matahari yang biasanya di pagi hari mengeluarkan sinar ultra violetnya, kini berubah menjadi panas seakan berada di tengah-tengah kobaran api.
Pada saat seperti sekarang ini, para karyawan dan pegawai kantor beristrhat untuk makan siang. Mereka berbondong-bondong menuju  ke rumah makan padang yang salah satu berada di kawasan ruko itu.
Portal di pintu masuk yang tadi pagi tak perna buka, kaalupanu buka hanya sesekali saja.  Karena begitu ramenya kendaraan roda dua maupun roda empat. Are parkiaranpun tampak penuh dan security tetap siaga di pintu masuk dan keluar.
Rumah makan padang mulai rameh, meja makan yang tadi kelihatan kosong kini mulai penuh.  Di depan meja kasir tampak ada seseorang berdiri untuk melakukan pembayaran.
Sebentar lgi pukul satu siang ruko akaan kembali sepih, patra pegawai harus melakuakan tugasnya lagi di kantornya masing-masing.  Security kembali sibuk membukakan portal, kendaraan satu persatu mulai keluar.
Tempat ini akan kemali rame pada pukul lima soreh, karena di soreh hari banyak karyawan yang hendak bermain futsal.  Penjaga ruko kembali sibuk  membukakan portal dan lebih hati-hati mengawasi kendaraan yang telah parkir di area itu.  Dan pukul lima nanti kendaraan lebih banyak dibandingkan dengan saat ini.
Pukul duabelas malam nanti ruko akan kembali sepih dan toko-toko yang ada di ruko itu akan tutup beserta oarang yang bermain futsalpun tidak ada lagi dan karyawan futsal mulai pulang satu-persatu.
Ruko akan kembali sepih dan tidur semalaman bersama dua orang penjaga ruko, yang bertugas jaga malam.

2013/07/01

cerpen cinta



KADO TERAKHIR UNTUK KU
            Du……….um….. du……….um Du…….um itu lah stom kapal ketika tiba di pelabuhan, semua oaring bersiap-siap untuk keluar. Kapal pun berhenti nakado dan awak kapal melemparkan tali ke darmaga dan tangga pun mulai diturunkan. Satu persatu mulai turun dari kapal termasuk aku, aku yang sudah lama meninggalkan kota kelahiran ku, dengan hangat mnnghirup udara di sekitar darmaga yaitu darmaga Ipi Ende salah satu darmaga yang ada di kotaEnde.
Di tengah-tengah keramaian aku meliahat seorang wanita yang sedang sibuk, mondar-mandir di pelabuhan itu. Pandangan ku selalu mengarahkannya, dalam hati kecil ku, aku berkata “kok dia mirip sekali dengan wanita yang aku cintai” namun aku berusaha untuk mendekatinya.  Tapi dengan kondisi yang begitu rame sehingga pandangan ku tertutup, wanita itu pun hilang di tengah-tengah keramaian.
Aku pun pergi menuju ke angkot, ternyata wanita tadi yang aku melihat di kerumunan orang banyak sedang duduk di sudut darmaga. Wanita yang mirip dengan kekasih ku membuat aku penasaran untuk menemuinya.
Ketika aku menghampirinya dan berdri di depannya, oh ternyata wanita ini adalah kekasihku. Begitu kagetnya dia melihat ku. Dengan tergesah-gesah dia pergi melarikan dariku, aku mengejarnya, di depan gerbang aku mendapatkannya.
Aku merangkulnya dan bertanya kenapa kamu lari dari ku? Apasalahku dan kenepa kamu melihatku seperti kamu melihat seorang penjahat yang mengaksiakan niat jahatnya.  Fitra sudah lima tahun kita pacaran tapi mengapa kamu begitu takut melihat ku. Tanya ku kepadanya.
Bibir yang penuh dengan air mata, bergemetar dia menceritakan “sayang maafkan aku, aku terpaksa menyembunyikan ini dari mu, aku tidak mau membuat kamu kecewa dan putus asa. Aku tau begitu sakitnya hati setelah lima tahun berpacaran.”  Fitra menambahkan.
Aku semakin penasaran, dalam hati aku bertanya sebenarnya ada apa dengan Fitra.  Dia pun melanjutkan ceritanya “sayang! Aku masih mencintai mu tapi apa boleh buat kalau cinta kita tak mungkin selamanya.  Mendengar perkataan itu aku langsung memotong omongannya “aku masih mencintai mu Fitra dan aku tidak peduli apa yang terjadi dengan ku.
Tapi Fitra adalah seorang gadis  yang selalu menuruti orang tuanya, dengan suaranya yang lembut dia berkata: “sayang! Kalau kamu saying sama aku minta tolong mengertilah dengan ku, saat ini aku benar-benar bingung, meninggalkan pria yang aku cintai demi keinginan orang tua ku.  Fitra menambahkannya.
Orang tua dan keluarga ku sudah menjodohkan ku dengan laki-laki lain, laki-laki itu adalah anaknya om aku sendiri.  Aku menolak perjodohan itu, karena aku masih memiliki mu, tapi orang tua ku memaksa dan berkata kami tidak akan merestui mu kalau kamu menikah dengan laki-laki lain.  Dan mereka mengancam ku bila aku menikah dengan laki-laki lain mereka tak menganggapa ku sebagai anaknya.  Fitra melanjutkan ceritanya.
Oh…….. dengan suara lembut aku bertanya: “keneapa orang tua kamu harus menjodohkan kamu denga anak om mu?” orang tua ku menginginkan agar hubungan darah anatra keluarga aku dan keluarga om ku tetep bersatu. JawabFitra
Hati ku begitu sakit mendengerkan cerita itu. Dengan terpaksa aku mengiklaskanya untuk mencintai laki-laki lain.  Oke lah Fit aku iklas, aku mengerti apa yang kamu rasakan, semoga kamu bahagia. Kata ku sambil menatap wajahnya.  Dan kami pun memutuskan agar di antara kami tetap saling berkomunikasi.  Dan mulai saat itu hubungan kami putus dan tidak lama dia menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya.


CERPEN CINTA

WITING TRESNO JALARAN SOKO KULINO
Oleh: Agus Ahmad Salim Zajar

s
elalu. Setiap pagi. Ucapan “selamat pagi” diucapkannya kepadaku. Fitri memanggilku dengan sebutan “Salim”, bagiku panggilan itu adalah sebutan teristimewa darinya. Panggilan itu sebenarnya nama tengahku sendiri, tetapi tidak ada satu orang pun yang memanggilku dengan sebutan itu. Setengah bulan sebelum hari ini, Fitri memanggilku dengan sebutan “mas kece”.
Sebelum panggilan itu muncul, banyak hal yang aku alami dengan kekasihku itu, Fitri. Awalnya kupikir ia hanya sekedar mengagumi parasku, tetapi seiring dengan berjalannya waktu aku mulai mengenalnya dalam diam.
            Entah siapa yang memulai, semua berawal dari ujaranku kepada Agung tentang ketidakmungkinan aku untuk berpacaran dengan teman sekelasku sendiri. Ketika itu kami sedang bercerita di dalam kamar kostku.
gue gak mungkin Gung pacaran sama teman satu kelas” jelas Salim tegas kepada Agung.
“Loh, kenapa nggak? Dia baik, dan kelihatannya dia benar-benar suka sama lo
nggak!”
“kenapa gak lo coba dulu aja buka hati buat dia?”
“Fitri itu terlalu mau instan, sedangkan gue maunya kenal dulu aja”
            Selalu saja perempuan itu mengganggu waktuku dengan terus mengirimkan bbm atau pun sms, tidak pernah kubalas. Tanpa jera terus ia lakukan sekedar mengingatkanku untuk makan, menjaga kesehatan dan sholat. Tetapi ketika di dalam kelas wajahnya tak pernah sesekali melihat wajahku. Seperti berpura-pura tidak kenal. Entah apa yang ia maksudkan berperilaku seperti itu.
            Senja menutup hari ketika aku terbaring lemas di tempat tidur dengan suhu badanku yang panas tak juga turun, kepalaku pening, pandanganku seakan berdimensi lebih untuk melihat benda di sekitarku. Berita ini sampai kepada Fitri, dia amat cemas. Menjelang adzan isya berkumandang, ia datang menjinjing beberapa kantong plastik berjalan tergesa masuk ke dalam kamarku bersama Jeje temannya. Wajahnya tampak letih, bajunya lusuh karena kehujanan, matanya seakan menjelaskan capeknya ia saat ini.
“Buka dong isinya!” paksanya.
“Ini apa? Kenapa banyak sekali?”
“Sudahlah.. jangan bawel! Ini air kelapa muda untuk penurun panas, minyak gosok untuk menghangatkan badan dan rawon untuk makan sebelum minum obat.”
            Fitri sangat memperhatikanku, tetapi aku tetap menganggapnya sebatas teman perempuan.  Bukan hanya dia yang ketika itu mengejar-ngejar cintaku, beberapa perempuan juga melakukan hal yang sama. Mereka mendekatiku, memberi perhatian namun aku cukup memberi sedikit harapan. Perlahan mereka mundur. Ada yang jadian dengan laki-laki lain, ada yang balikan dengan mantan pacarnya dan ada pula yang mundur tanpa alasan sekali pun. Tetapi tidak untuk Fitri hingga akhirnya Salim membuka hati untuknya. “Witing tresno jalaran soko kulino” karna sering bertemu dan lebih dekat maka cinta itu akan muncul dengan sendirinya.
             .