2013/09/18

Tugas akhir Cerpen



Nama               :  Ari Purwoko
NIM                :  2011070054

Cinta Tak Mengenal Berat Badan

Selalu tujuh putaran. Setiap hari, hanya tujuh putaran berlari mengelilingi kampus pada pukul enam lewat empat puluh lima pagi. Kalo kurang dari itu saya malu, kalo lebih pun saya tak mampu. Terus terang aja, saya bukan tipikal pria yang suka olahraga, tapi bukannya tidak suka. Saya juga suka main bola semasa sekolah, dan sering mencoba voli dan juga basket.
Namun saya hanya duduk dibangku cadangan dan hanya menonton aksi teman-teman sekelas sambil memberi semangat bersama anak perempuan. Kala itu saya selalu mencoba, namun saya selalu lebih rendah dari temen-teman saya yang lebih dari saya. Saya pun sudah mulai kehilangan rasa percaya diri jika berada pada semua bidang yang saya tidak kuasai.
Akan tetapi saya selalu mencoba untuk berbaur dan menunjukan kemampuan diri, ya walaupun selalu hasil yang saya dapat tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Selalu tersingkir, tersisih ke belakang, dikarenakan ada yang lebih dari saya atau pun saya yang menarik diri. Entahlaah, mungkin aja saya tidak berbakat dibidang olahraga.
Saya iri dengan mereka.
Saya tidak merokok, saya juga benci asap rokok, tapi bukan saya tidak pernah mencoba, saya juga pernah mencicipi yang namanya rokok pada saat kelas enam SD. Waktu itu saya sedang bermain bersama di salah satu rumah teman. Total kami berlima, dua orang kelas 2 SMP, 2 orang lainnya duduk dikelas 2 SMA. Orang tua teman saya sedang pergi keluar kota, Lalu mulailah kami “berpesta”. Kami hanya merokok saja. Hanya saya sendiri aja yang tidak ikut menghisap.
Mereka tampak asik menghisap batang-batang tembakau itu, akan tetapi saya sama tidak tertarik, walaupun agak sedikit penasaran bagaimana cara dan rasa dari rokok itu. Tau sendiri kan rasa penasaran anak itu kaya apa ??  Lalu salah satu teman saya yang udah SMA menawari saya untuk menghisap rokok, “eh sini, ayo ikut cobain, enak tau...” ucapnya. Saya menggeleng dengan cepat. Saya takut, takut ketauan ayah. Tapi dia terus membujuk dan merayu, lalu timbullah bisikan “ah, mungkin sedikit aja gak apa-apa kali yaa..”. Saya pun menggapai salah satu rokok dari tangan teman saya dan menghisapnya. Baru satu hisapan pendek aja dada saya langsung sesak dan napas seakan tersangkut di leher. Saya batuk-batuk dan mau muntah.
Mulai sejak saat itu saya semakin tidak suka rokok dan tidak pernah mau lagi mencoba lagi. Meski saya tidak merokok, entah kenapa saya tidak kuat berlari. Kalo kata orang yang tidak merokok itu lebih kuat daripada yang merokok. Tapi kenyataannya itu tidak terbukti pada saya. Selam SD, SMP, bahkan sampai saya lulus SMA saya selalu kalah berlari dengan teman-teman. Mulai dari stamina, teknik saya kalah segalanya. Saya malu.
Beberapa bulan lalu ketika saya masih tenggelam dalam ketegangan Ujian Nasional, pesan singkat dari Ibu yang tinggal di kampungpun kembali menyadarkan saya akan hal tersebut.
“Mamas sehatkan ? jangan lupa shalat sama olahraga yaa.. jangan sampe gakk..”
 Pesan itu sangat memukul hati saya, karena syaya sadar akan pentingnya kesehatan dan memang berat badan saya semakin hari makin bertambah. Pergerakan saya pun semakin lamban, saya juga jarang sekali bergerak, ya walaupun itu untuk ke kamar mandi saja. Jika perut saya lapar barulah saya keluar kamar. Pergi keluar rumah juga saya sellu menggunakan sepeda motor, saya jarang sekali berjalan kaki, mungkin karena saya memiliki motor, jadi buat apa saya harus berjalan kaki ???
Sebenarnya isu kesehatan tidak akaan pernah membuat saya khawatir, karen saya tidak gemuk-gemuk amat, tinggi saya seratus enam puluh tiga senti berat badan saya enam puluh tujuh kilo. Memang stelah saya konsultasi dengan ahli gizi berat badan saya lebih berat daripada orang normal seharusnya. Hal ini lah yang memacu saya untuk berolahraga lagi, karena saya memiliki seorang teman yang sangat gemuk, hingga dia tidak memiliki leher. Dia tampak bahagia dan sangat baik keadaannya. Namun saat dia naik motor tak bisa berboncengan dengan orang lain, karena jok sudah penuh dengan tubuhnya sendiri. Mungkin saat berbelanja pakaian ia selalu kesulitan untuk mendapatkan pakaian yang sesuai dengan ukuran tubuhnya. Saya sering melihat dia susah untuk bernapas. Mungkin menurut saya lemak yang ada didalam tubuhnya berlebihan, sehingga menghambat jalur pernapasannya.
Saya tidak mau seperti dia...
Dan disinilah saya mulai terengah-engah ditengah komplek perumahan disekitar sekolah pada pukul enam lewat empat puluh lima pagi. Hanya mampu berlari tujuh putaran. Selalu tujuh putaran, lebih dari itu saya tidak mapu, kurang dari itu saya malu. Akan tetapi saya bertemu dengan seorang wanita. Dia menghampiri saya sambil tersenyum, dia berkata
“Cuma tujuh putaran ?”

“Aku saja yang perempuan bisa berlari lebih jauh daripada pria manapun disekolah ini”. Tidak pernah sampai tujuh putaran, itu merupakan suatu hal yang sangat memalukan. Belakangan ini aku sering melihat pria itu berlari di area sekolah. Pada awalnya sih aku tidak terlalu memperhatikan si dia, namun iseng-iseng aku mengikuti jalur larinya, aku baru sadar ternyata dia hanya mampu berlari tujuh putaran saja.
Selalu tujuh putaran.
Aku tidak suka berlari hanya tujuh putaran, karena tujuh putaran tidak cukup bagiku untuk berlari dari apa yang ingin aku tinggalkan.
Masa lalu...
“Pengkhianatan adalah hal yang sangat menyakitkan daripada maraton bertelanjang kaki, kau tau itu” ??
Aku masih belum bisa percaya dengan apa yang aku lihat saat suatu pagi yang segar aku menemukan dia yang sedang lari pagi santai di taman kota dengan seorang perempuan. Aku pun mengikuti mereka dari belakang dan mereka tidak meyadari kehadiranku. Mereka berhenti beberapa kali, lalu mereka lanjut berlari santai sambil berpegangan tangan. Ketika aku memicingkan mata dan berusaha menyingkirkan rasa curiga  justru mengejutkanku, ternyata perempuan yang sedang bersama sepatu kesayanganku itu adalah sahabatku sendiri.. “Katakan padaku, apa yang lebih buruk dari seorang sahabat yang merebut kekasihmu” ?? maka aku menghampiri mereka saat itu juga dan menampar keras keduanya.
Sejak saat itu, aku butuh lebih dari tujuh putaran di sekolah untuk berlari dari sakit hati. Semakin hari aku berlari semakin jauh dan napasku semakin panjang. Kedua kakiku seolah tidak pernah mengenal lelah. Jika setiap tujuh putaran aku membutuhkan tujuh ptuaran lagi, begitu seterusnya. Jadwal sekolahku setiap pagi yang mampu membantuku menahan diri.
Aku belum pernah ngeliat pria yang cuma mampu berlari tujuh putaran , sepertinya baru seminggu belakangan ini dia berlari disini. Ia payah, tubuhnya gemuk tapi sebenarnya tidak begitu gemuk juga. Dari tampangnya sii dia bukan seorang perokok, tapi bekas sepatu kesayanganku itu seorang perokok berat, tapi dia bahkan bisa lari lebih lama dari pada pria tujuh putaran. Jadi kesimpulan yang aku dapat adalah pria tujuh putaran ini memang jarang olahraga.
Pagi hari ini dia sangat payah, pada putaran pertama aku melihat dia sudah terengah-engah. Pada putaran ketujuh, dia tampak hampir pingsan, tapi entah kenapa tiba-tiba aku khawatir makaa aku menghampirinya.

“Cuma tujuh putaran ?” kataku
Tak ada maksud untuk menyinggungnya, aku hanya bermaksud baik, aku ingin dia berlari lebih jauh lagi. Lebih jauh dari yang aku tempuh, aku melihat ada semangat yang besar dari matanya, aku tak pernah melihat mata seperti itu lagi sejak aku patah hati. “itu dulu”
Dulu sebelum sepatu kesayanganku direbut sama sahabatku, aku masih punya sorot mata penuh semangat itu. Namun sekarang yang ku punya hanya sepasang kaki yang ingin berlari lebih jauh dan napas yang membuang lebih banyak. Aku ingin meninggalkan kenangan pait itu sejauh mungkinyang aku mampu.
Kujulurkan tangan kepadanya dia menyambutku.
“Terima kasih” katanya. “Iya, saya tidak bisa lari lebih jauh lagi, aku capek”. Aku menepuk lengannya, “ayo dong, masa kalah sama cewek ?”
Dia mengangkat pundaknya, seperti pasrah dan tidak mau melawan pernyataanku. Untung dia tidak tersinggung. “Kamu sering lari pagi disini yaa ?”, btanyanya sembari mengatur napas. “Kamu baru kali ini ya lari dsini ?” aku membalas pertanyaannya.
Dia hanya tersenyum mendengarku, ia mengusap muka dan lehernya yang basah. Baru tujuh putaran, tapi keringatnya sudah seperti air bah, banyak sekali, sedangkan aku butuh berbelas-belas putaran untuk mengeluarkan keringat, itu juga baru sedikit.
Lalu alih-alih menjawab pertanyaanku, dia malah memperkenalkan diri. Ia menyebutkan namanya, aku jugu aku memperkenalkan diriku. Kalo ku perhatikan kok wajahnya gak asing yaa, seakan-akan aku sudah mengenal dia bertahu-tahun. Raut wajahnya begitu akrab dan membuat sesuatu yang ada didalam dadaku terasa nyaman, kemudian setelah ia berhasil menguasai diri dan berhenti melamun dia menoleh kearahku dan menatap mataku dengan tajam.
Mata itu, seperti mataku yang dulu.
“Mulai hari ini mau menemani saya berlari pagi ?”
Begitu ucapnya, seperti permintaan saat melamar seorang perempuan saja, Cuma dia hanya mengajak aku berlari saja. Tapi entah kenapa, aku ngerasa senang sekali.
“Kenapa hanya tujuh putaran ?”tanyanya kepada saya, seperti orang yang penasaran. Ini merupakan minggu keempat sejak kami berkenalan pertama. Saat itu saya mampu berlari lebih jauh dari pada biasanya, mulai sejak itu saya menambah satu atau dua putaran, bahkan dalam tiga minggu terakhir saya mampu berlari hingga dua puluh putaran, sungguh mengejutkan untuk saya, mungkin akan masuk rekor pribadi...
Saya tidak percaya dengan kaki saya sendiri.
Kemudian saya tersenyum, “saya bisa berlari lebih jauh dari ini, tapi tapi hanya butuh tujuh putaran untuk membuat kamu tertarik dan terpesona kepada saya. Benar bukan ?”. Lalu perempuan itu tersipu malu dan memukul bahu saya, saya nekat untuk menggenggam dan meraih tangannya, untunglah dia tidak menghindar, malah dia merespon dan mengggenggam tangan saya dengan erat. Setelah kejadian itu, kami berdua hanya berjalan kaki dan tidak sampai satu putaran. Kami begitu capek memikirkan dimana dan bagaimana setelah ini waktu hendak kami habiskan.

Tidak ada komentar: