2014/01/28

Soft News Review Buku


Burhan Nurgiyantoro Ramaikan Dunia Fiksi

Ditulis oleh seorang staf pengajar FBS dan PPs Universitas Yogyakarta (UNY). Buku ini membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan keteorisastraan.

OLEH NOVIA INDRIYANI

Buku yang membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan keteorisastraan relatif banyak, apalagi yang berbahasa Inggris. Namun, buku-buku itu tak mudah untuk sampai ke “tangan” mahasiswa, atau peminat buku  kesastraan pada umumnya, yang disebabkan oleh bahasa yang digunakannya yaitu bahasa Inggris. Karena tidak semua mahasiswa memahami buku dalam bahasa inggris.

Unsur-unsur karya fiksi
Buku Teori Kajian Fiksi ini sengaja ditulis untuk ikut “meramaikan” dunia penulisan buku-buku keteorisastraan, sekaligus untuk menambah buku bacaan perkuliahan mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra. Dan bisa gunakan sebagai buku panduan dalam menganalisis karya-karya sastra baik dalam unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik.

Sebagai sebuah karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan yang mengandung kebenaran serta masuk  akal dalam mendramatisirkan karya sastra tersebut. Mahasiswa  tidak akan dipersulit dalam memahami buku ini.

Ambil saja contoh tentang “fiksi” merupakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Namun demikian karya fiksi tetap sebuah cerita yang bertujuan memberikan hiburan kepada pembaca di samping adanya tujuan estetik” (hlm 3). Dengan begitu mahasiswa akan lebih mudah memahami apa itu karya fiksi.
Demikian pula dengan hakikat kajian fiksi. Kegiatan analisis karya fiksi dalam hal ini tampil dengan mencoba  menerangkan, misalnya, apa peranan masing-masing unsur, bagaimana kaitan antara unsur yang satu  dengan lainnya. Seperti, unsur penokohan, pelataran, penyudut pandangan , dan lain-lain (hlm 31).

Dalam hal tersebut, penulis juga menjelaskan kerja analisis yang tak jarang dianggap sebagai ciri khas kelompok akademikus itu, bukan merupakan tujuan, melainkan sekedar sarana, sarana untuk memahami karya-karya kesastraan itu sebagai satu kesatuan yang padu dan bermakna, bukan sekedar bagian per bagian yang terkesan sebagai suatu pencincangan karya fiksi (hlm 32).


Buku pedoman menulis cerita
Selain itu penulis juga menjelaskan mengenai perkembangan semiotik hingga dewasa ini dapat dibedakan kedalam jenis, yaitu semiotik komunikasi dan semiotik signifikasi. Semiotik komunikasi menekankan diri pada teori produksi tanda, sedangkan semiotik signifikasi menekankan pemahaman dan pemberian makna suatu tanda (hlm 40).

Penulis mengemukakan berbagai hal  tentang fiksi yang tergolong elementer. Ia mengandaikan pembacanya adalah para peminat kesastraan tingkat awal. Ia memberikan berbagai pengetahuan dasar tentang fiksi, khususnya yang berkaitan dengan unsur-unsur intrinsiknya, yaitu yang meliputi tema, cerita, plot, tokoh, latar, sudut pandang, latar, bahasa dan moral, yang ditempatkan mulai Bab 3-10.

Buku setebal 346 halaman ini “berciri akademis”, yang melihat sesuatu tidak hanya dari  segi keseluruhannya, melainkan juga secara analitis. Agar mahasiswa atau pun penikmat sastra lainnya lebih mudah dalam menganalisis karya sastra setelah membaca buku ini. Selain itu, buku ini juga bisa dipakai untuk menilai cerita. Apakah cerita itu baik atau tidak baik.



Tidak ada komentar: