2014/05/01

Review Novel dan Film

NOVEL DAN FILM
BAB 1
PENDAHULUAN
1.      Pengarang Tidak Puas
Pengarang Amerika, Ernest Heminyway, sering dikutip orang berbagai pengarang yang sering kecewa jika novel-novelnya diangkat ke layar putih. Malahan pemenang Hadiah Nobel ini bersedia membayar biaya yang dikeluarkan produser film, asalkan salah satu film yang didasarkan pada novelnya tidak diedarkan.
Nama pengarang yang kurang puas atau kecewa pada film yang didasarkan pada novel atau karyanya ini tentu masih bisa kita perpanjang. Misalnya dengan Hilman Hariwijaya (pengarang serial Lupus), Saut Poltak Tambunan, dan lain-lain. Namun nama-nama pengarang yang sudah disebut tadi agaknya sudah cukup untuk menunjukkan adanya persoalan jika sebuah novel dipindahkan ke film.
2.      Penonton Kecewa
Penonton film pun sering kecewa menonton film yang didasarkan pada novel-novel tertentu. Seprang kawan penulis misalnya, menyatakan kekecewaannya atas film Doctor Zhivago yang disutradarai David Lean. Ketika penulis tanyakan “mengapa kecewa”, kawan itu menjawab: “Filmnya tidak seindah Dokter Zhivagonya Boris Pasternak. Dalam novel kita dapat membaca bagian-bagian yang sangat halus, sedangkan dalam film kita tidak jumpai hal itu.
3.      Tentang Buku Ini
Bab lll mencoba membicarakan hal-hal yang menyangkut pemindahan novel ke film, yang dalam buku ini disebut ekranisasi. Perubahan apa saja yang terjadi bila sebuah novel di filmkan? Ini akan dijawab dalam bab ini.
Bab lV berisi kesimpulan dan saran. Disamping itu, dilampirkan pula wawancara dengan Sjuman Djaya, seorang sutradara film Indonesia terkemuka dan pernah memfilmkan novel Atheis.
4.      Istilah dan Ejaan
Untuk kepentingan buku ini, penulis tidak merasa perlu mempertentangkan istilah roman dan novel. Oleh sebab itu, guna keseragaman istilah, dalam buku ini penulis menggunakan istilah novel. Dengan demikian, atheis karangan Achdiat K. Mihardja akan disebut novel dan bukan roman sebagaimana lazimnya. Meskipun demikian,  dalam hal-hal tertentu, mungkin saja pemakaian istilah ini tidak konsekuen. Misalnya ada kutipan yang memakai istilah roman, penulis akan tetap mempertahankannya. Dengan catatan: penulis menafsirkannya sama dengan istilah novel dalam buku ini.
Pemindahan atau pengankatan novel ke film dalam buku ini disebut ekranisasi. Istilah yang berasal dari bahasa Prancis ini, menurut hemat penulis, lebih tajam daripada istilah adaptasi. Sebab adaptasi bisa berarti hanya mengankat cerita atau tokoh-tokoh novel, sedangkan ekranisasi berarti pemindahan novel ke layar putih atau dengan kata lain: memfilmkan novel.
BAB II
NOVEL DAN FILM
1.      Cerita
Menurut Forster, cerita adalah “pengisahan kejadian dalam waktu” dan “cerita adalah basis sebuah novel”. Tanpa kehadiran cerita, sia-sialah usaha seorang pengarang untuk berkomunikasi dengan orang lain (pembaca), sebab orang tidak menemukan apa-apa dalam novel bersangkutan. Lebih jauh lagi, seseorang tak mungkin menulis novel dengan mengabaikan unsure cerita: cerita adalah hakikat novel. Misalkan Revolusi Oktober tidak meletus di Rusia.
Lazimnya, cerita dalam novel berkonotasi pada “kelampauan”. Artinya, kejadian-kejadian yang dikisahkan biasanya sudah lewat di belakang pembaca. Dengan demikian, orang (pembaca) hanya bisa membayangkan apa yang dikisahkan pengarang, sebagai sesuatu yang terjadi pada masa lampau. Revolusi Oktober yang dikisahkan dalam novel Dokter Zhivago dibaca orang jauh setelah revolusi itu usai. Demikian pula dengan penjajahan Jepang dalam novel-novel Pramoedya Ananta Toer (Perburuan), Achdiat K. Mihardja (Atheis), Idrus (Hati Nurani Manusia), dan Harijadi S. Hartowardojo (Perjanjian dengan Maut); dibaca orang setelah kejadian itu berlaku.
Pada hakikatnya, film juga merupakan pengisahan kejadian dalam waktu. Tetapi kejadian dalam film tidak berkonotasi pada “kelampauan”, melainkan berkonotasi pada “kekinian”, pada sesuatu yang “sedang” terjadi.  
Film merupakan medium audio-visual, suara pun ikut mengambil peranan di dalamnya. Film juga merupakan gabungan dari berbagai ragam kesenian: music, seni rupa, drama, sastra ditambah dengan unsure fotografi. Itulah yang menyebabkan film menjadi kesenian yang kompleks, seperti tercermin dalam istilah total art ataupun collective art.
2.      Alur
Cerita adalah pengisahan kejadian dalam waktu. Alur pun merupakan pengisahan kejadian dalam waktu. Hanya saja, pada yang belakangan ini harus ditambahkan unsur sebab akibat. Dengan demikian, alur adalah pengisahan kejadian dengan tekanan pda sebab musabab. Yang penting bukan kejadian itu sendiri, melainkan alasan (motif) kejadian itu: Mengapa sampai terjadi? Apa sebabnya?.
Dari segi kuantitatif, alur dalam novel dapat dibagi dua, ylakni alur tunggal hanya terdapat satu jalinan cerita, sedangkan pada alur ganda terdapat lebih dari satu jalinan cerita. Lazimnya alur mempunyai bagian-bagian yang secara konvensional dikenal sebagai permulaan (beginning), pertikaian/perumitan (rising action), puncak (climax), peleraian (falling action), dan akhir (end).
Pada permulaan, biasanya pengarang memperkenalkan tokoh-tokohnya. Tokoh yang satu dihuungkan dengan tokoh lainnya. Dari perhungan ini akan terjadi pelbagi persoalan, yang makin lama makin memuncak. Kemudian cerita melaju pada pelarian. Tokoh-tokoh dalam cerita menempuh jalan atau sikap-sikap sendiri-sendiri, sampai pada suatu akhir cerita.
Satu hal yang perlu diperhatikan seorang novelis adalah unsure tegangan (suspense). Unsure ini penting untuk memancing rasa ingin tahu pembaca akan kejadian-kejadian selanjutnya. Novelis yang baik tentu amat menyadari hal ini. Sebab kalau tidak, novelnya akan ditinggalkan orang (pembaca) sebelum habis dibaca.
Film mempunyai keterbatasan ruang dan keterbatasan teknis. Jangka putar film biasanya berkisar antara satu setengah hinggga dua jam. Oleh sebab itu, film lebih sering memakai alur tunggal saja. Walau demikian, bukan berarti film tidak bisa mengungkapkan persoalan-persoaln yang kompleks. Bisa saja, asal kekompleksan itu diabdikan pada satu jalan cerita atau tema-plot sebagai pusatnya.
Di samping itu, sebuah cerita beralur ganda juga mungkin difilmkan, dengan catatan: waktu putar film itu akan bertambah panjang. Meskipun begitu, hal ini tidak selalu bisa dilaksanakan, mengingat daya tahan mata penonton yang amat terbatas pula. Lebih dari dua jam duduk di kursi, biasanya penonton sudah mulai jemu, teruta bila filmya buruk atau jelek. 
3.      Penokohan
Biasanya tokoh-tokoh dalam novel adalah manusia. Tetapi kadang-kadang ada juga yang tokohnya binatang. Dalam novel Kappa (Ryunosuke Akutagawa) misalnya, tokohnya adalah sejenis hewan bernama kappa. Sedangkan dalam novel Perjanjian dengan Maut (Harijadi S. Hartowardojo) dijumpai adanya tokoh roh halus, yaitu Nyai Roro Kidul.
Menurut Rene Wellek dan Austin Werren, cara paling sederhana untuk mengenali tokoh-tokoh novel adalah dengan pemberian nama. Melalui sifat atau watak yang dimiliki tokoh-tokoh novel, pembaca dapat mengerti mengapa suatu tindakan atau kejadian terjadi. Watak yang dipunyai seseorang, juga merupakan motivasi untuk kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa selanjutnya yang terjalin dalam cerita dan alur.
Penokohan berfungsi untuk menunjang cerita dan alur. Atau dengan kata lain, “penokohan bertugas menyiapkan atau menyediakan alasan bagi tindakan-tindakan tertentu” yang terjadi dalam keseluruhan novel.
Filmpun mempunyai tokoh-tokoh, sebagai pelaku dalam sebuah film. Berlainan dengan cara penampilan tokoh-tokoh dalam novel, film menampilkan tokoh-tokohnya secara langsung dan secara visual. Dengan demikian, penokohan cara analitik (langsung) yang dikenal dalam novel, tidak dikenal dalam film. Sebab, tokoh-tokoh dalam film tidaklah dibangun dengan kata-kata, melainkan tokoh itu langsung hadir di hadapan penonton film, dengan pertolongan gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan di layar putih.
Dari penampilan tokoh-tokoh film secara langsung (visual) itulah penonton mengetahui sifat (watak), sikap-sikap, dan kecenderungan-kecenderungan sang tokoh.
4.      Latar
 latar dalam film ditampilkan secara visual melalui gambar-gambar yang bergerak berkelanjutan, sehingga apa yang kelihatan di layar putih seolah-olah sedang terjadi dalam kehidupan sesungguhnya (kehidupan nyata). Apabila dalam novel orang (pembaca) hanya bisa membayangkan tempat tinggal seseorang, keadaan satu keluarga, keadaan masyarakat, dalam film orang (penonton) menyaksikannya di depan mata.
Latar dalam film juga mempunyai fungsi dramatik. Dalam film The Passenger misalnya, sutradara Michelangelo Antonioni memperlihatkan sebuah adegan di gurun pasir, ketika mobil yang dikendarai David Licke (Jack Nicholson) tiba-tiba mogok.
5.      Suasana
Sebuah novel tentu mempunyai suasana tertentu. Tindakan tokoh-tokohnya akan memberikan petunjuk bagaimana suasananya pada saat itu. Latar pun dapat menunjukkan suasana tertentu, sehingga cerita terasa lebih hidup, perabotan rumah serba sederhana member petunjuk, penghuninya keluarga miskin, perabotan serba lux member petunjuk, penghuninya adalah keluarga kaya.
6.      Gaya
Gaya seorang pengarang bisa diketahui melalui karyanya. Karena seperti dikatakan Carlyle, “Gaya bukan hanya baju, melainkan kulit pengarang itu sendiri. Pernyataan ini diperkuat lagi dengan pendapat Buffon: “Gaya adalah orangnya sendiri”.
Ada juga anggapan mengatakan, gaya seorang pengarang menyangkut pemilihan tema, pemilihan tokoh-tokoh, pemilihan latar dan seterusnya. Akan tetapi, pengertian gaya dalam buku ini penulis pakai dalam arti sempit. Yakni hanya menyangkut cara khas seorang pengarang untuk mengutarakan/mengemukakan cerita, ide, maksud, dan pesannya. Gaya ini tak lepas dari pemakaian bahasa dan lebih khusus lagi menyangkut gaya bahasa dan cara pengisahan atau cara bercerita.

7.      Tema/Amanat
Amanat adalah sesuatu yang menjadi pendirian, sikap atau pendapat pengarang mengenai inti persoalan yang digarapnya. Dengan kata lain amanat adalah pesan pengarang atas persoalan yang dikemukakan.
Film pun mempunyai tema tertentu, yakni inti persoalan yang hendak diutarakan/disampaikan pembuat film kepada penontonnya. Tema itulah yang harus dituangkan dalam gambar-gambar, sehingga penonton dapat menangkap pesan atau ide pembuat film. Seperti dalam novel, besar kecilnya tema film bukanlah jaminan berhasil tidaknya sebuah film. Keberhasilan film tergantung pada beberapa factor: sekenario, pengambilan gambar, permainan para pelaku, penyusunan gambar, dan lain-lain.


Tidak ada komentar: