Tampilkan postingan dengan label Novia Indriyani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novia Indriyani. Tampilkan semua postingan

2014/01/28

Soft News Review Buku


Burhan Nurgiyantoro Ramaikan Dunia Fiksi

Ditulis oleh seorang staf pengajar FBS dan PPs Universitas Yogyakarta (UNY). Buku ini membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan keteorisastraan.

OLEH NOVIA INDRIYANI

Buku yang membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan keteorisastraan relatif banyak, apalagi yang berbahasa Inggris. Namun, buku-buku itu tak mudah untuk sampai ke “tangan” mahasiswa, atau peminat buku  kesastraan pada umumnya, yang disebabkan oleh bahasa yang digunakannya yaitu bahasa Inggris. Karena tidak semua mahasiswa memahami buku dalam bahasa inggris.

Unsur-unsur karya fiksi
Buku Teori Kajian Fiksi ini sengaja ditulis untuk ikut “meramaikan” dunia penulisan buku-buku keteorisastraan, sekaligus untuk menambah buku bacaan perkuliahan mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra. Dan bisa gunakan sebagai buku panduan dalam menganalisis karya-karya sastra baik dalam unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik.

Sebagai sebuah karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan yang mengandung kebenaran serta masuk  akal dalam mendramatisirkan karya sastra tersebut. Mahasiswa  tidak akan dipersulit dalam memahami buku ini.

Ambil saja contoh tentang “fiksi” merupakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan dan sesama interaksinya dengan diri sendiri, serta interaksinya dengan Tuhan. Namun demikian karya fiksi tetap sebuah cerita yang bertujuan memberikan hiburan kepada pembaca di samping adanya tujuan estetik” (hlm 3). Dengan begitu mahasiswa akan lebih mudah memahami apa itu karya fiksi.
Demikian pula dengan hakikat kajian fiksi. Kegiatan analisis karya fiksi dalam hal ini tampil dengan mencoba  menerangkan, misalnya, apa peranan masing-masing unsur, bagaimana kaitan antara unsur yang satu  dengan lainnya. Seperti, unsur penokohan, pelataran, penyudut pandangan , dan lain-lain (hlm 31).

Dalam hal tersebut, penulis juga menjelaskan kerja analisis yang tak jarang dianggap sebagai ciri khas kelompok akademikus itu, bukan merupakan tujuan, melainkan sekedar sarana, sarana untuk memahami karya-karya kesastraan itu sebagai satu kesatuan yang padu dan bermakna, bukan sekedar bagian per bagian yang terkesan sebagai suatu pencincangan karya fiksi (hlm 32).


Buku pedoman menulis cerita
Selain itu penulis juga menjelaskan mengenai perkembangan semiotik hingga dewasa ini dapat dibedakan kedalam jenis, yaitu semiotik komunikasi dan semiotik signifikasi. Semiotik komunikasi menekankan diri pada teori produksi tanda, sedangkan semiotik signifikasi menekankan pemahaman dan pemberian makna suatu tanda (hlm 40).

Penulis mengemukakan berbagai hal  tentang fiksi yang tergolong elementer. Ia mengandaikan pembacanya adalah para peminat kesastraan tingkat awal. Ia memberikan berbagai pengetahuan dasar tentang fiksi, khususnya yang berkaitan dengan unsur-unsur intrinsiknya, yaitu yang meliputi tema, cerita, plot, tokoh, latar, sudut pandang, latar, bahasa dan moral, yang ditempatkan mulai Bab 3-10.

Buku setebal 346 halaman ini “berciri akademis”, yang melihat sesuatu tidak hanya dari  segi keseluruhannya, melainkan juga secara analitis. Agar mahasiswa atau pun penikmat sastra lainnya lebih mudah dalam menganalisis karya sastra setelah membaca buku ini. Selain itu, buku ini juga bisa dipakai untuk menilai cerita. Apakah cerita itu baik atau tidak baik.



2014/01/23

Iklan Advertorial


Seminar Internasional Ajak Mahasiswa Mengenal Budaya


Tidak ada satu masyarakat pun yang tidak memiliki kebudayaan. Begitu pula sebaliknya tidak akan ada kebudayaan tanpa adanya masyarakat. Ini berarti begitu besar kaitan antara kebudayaan dengan masyarakat terutama dalam kalangan mahasiswa yang akan menjadi penerus bagi bangsa ini.

Kemajemukan di dalam masyarakat dapat terlihat dengan beragamnya kebudayaan di Indonesia. Tidak dapat di pungkiri bahwa kebudayaan merupakan hasil cipta dan rasa, karena manusia lah yang menjadi sumber kekayaan bagi bangsa Indonesia. Terlihat pula adanya berbagai suku bangsa di Indonesia. Tiap suku bangsa inilah yang kemudian mempunyai ciri khas kebudayaan yang berbeda- beda”. Ungkap bapak Suratmin (Dosen Sejarah Kebudayaan Indonesia di Universitas Pamulang).
“Berbagai faktor dapat mempengaruhi aspek-aspek budaya komunitas tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan wilayah tempat budaya tersebut berada, memiliki peran atas pembentukan budaya masyarakatnya. Yang dimana saat ini banyak sekali dominasi dari budaya luar yang mempengaruhi masyarakat Indonesia dalam hal pola pikir maupun kebiasaan sehari-hari. Ujar bapak Suratmin menambahkan. “Seiring berjalannya waktu dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, serta masuknya budaya-budaya barat  itu merupakan penyebab adanya perubahan budaya di Indonesia yang mempengaruhi setiap individu masing-masing untuk lebih cenderung mengikuti budaya ke barat-baratan”. Ujar Faqih yang merupakan ketua panitia Seminar Internasional
Banyak Universitas yang mengadakan Seminar, tapi jarang yang mengangkat tema Budaya Nusantara. Untuk itu Universitas Pamulang akan mengadakan Seminar Internasional yang mengangkat tema Lintas Budaya Nusantara. “saya bosan bila mengikuti seminar hanya bertemakan bedah novel atau bedah film, makanya saya mengadakan seminar Internasional yang mengangkat tema Lintas Budaya Nusantara. Agar para mahasiswa tidak hanya mengenal bahasa tetapi juga bisa mengenal budaya Indonesia dari zaman ke zaman melalui Seminar Internasional ini”. Ungkap Faqih ketika saya mewawancarainya kemarin malam setelah rapat Seminar tersebut.
Seminar yang akan di adakan pada tanggal 20 Februari ini,  mendapat sambutan hangat dari pihak kampus maupun para dosen. Karena dalam Seminar Internasional ini tidak hanya membicarakan mengenai dasar kebudayaan Indonesia tetapi juga dasar kebahasaan Indonesia dan perkembangan kebudayaan Indonesia. “Selain itu akan di adakan pula pelelangan barang-barang antik yang di miliki Indonesia seperti blangkon, angklung, bahkan sepeda ontel juga cincin batu permata”.  Ujar Faqih menambahkan.
Oleh karena itu, para panitia maupun pihak kampus sangat berharap agar para mahasisiwa Universitas Pamulang untuk mengikuti Seminar Internasional ini yang mengusung tema Lintas Budaya Nusantara. Dengan biaya 50 ribu kita bisa mengetahui bagaimana perkembangan budaya Indonesia sejak zaman dahulu hingga saat ini, yang akan disampaikan oleh para pembicara dalam seminar ini. Salah satunya yaitu Mayjen. Datuk Amirudin Guntur selaku Presiden IKMAL Malaysia”. Ujar Faqih di akhir wawancara kemarin malam.

2014/01/12

Profil Soft News


"Daud dan si kulit bundar"

Kegemarannya memainkan si kulit bundar yaitu futsal membawa Daud dan club-nya menjadi juara di tingkat Nasional.

“Futsal itu seperti bagian dalam jiwa saya” ujarnya sambil melepaskan sepatu futsal yang dipakainya seusai bertanding sore itu. Pria kelahiran Tangerang, 09 Mei 1991 ini menyukai futsal sejak kecil. Karena hobinya itu, ia pernah mengikuti kompetisi pertandingan antar daerah, sekolah, bahkan nasional. Kuliah dengan hobinya itu sangat berjalan selaras, hobinya bermain futsal sama sekali tidak mengganggu jadwal kuliahnya. Mengambil jurusan Teknik Kimia di Universitas Pamulang. Saat ini Daud menjadi wakil ketua Unit Kegiatan Mahasiswa yang dinamakan UFF ( Unpam Football Futsal Federation ).

Posisinya dalam bermain futsal itu sebagai Libero ( Back Tunggal ) dan juga sebagai gelandang bertahan. Karena kelihaiannya dalam memainkan si kulit
bundar, ia mendapat gelar pemain terbaik se-kota Tangerang tahun 2011. Daud dan club-nya Raihan FC banyak sekali mendapatkan penghargaan dari setiap pertandingan yang diikutinya. Seperti, juara 1 futsal tingkat kabupaten Tangerang, juara futsal U20 se-kota Tangerang dan juara 3 futsal pocari sweat champion chip tingkat Nasional. “masih banyak lagi sebenernya cuma saya lupa”. Ujarnya sambil merapikan rambutnya yang basah.

Namun itu semua tidak semulus yang kita bayangkan, Pria yang bernama lengkap Daud Sambas Purnama ini, yang juga sangat menyukai club favoritnya yaitu Barcelona. Dia juga pernah mengalami kegagalan pribadi dalam hobinya bermain futsal itu. “dulu saya pernah meninggalkan sekolah dan rumah selama satu bulan hanya untuk mengikuti seleksi pemilihan bakat club favorit saya yaitu  Barcelona nike changes di Senayan, tapi saya tidak lolos. Itu pengalaman yang tidak bisa saya lupakan”. Ujarnya.

Selain itu pengalaman yang tidak bisa di lupakannya itu adalah gagal memberikan piala untuk kampus tercintanya Universitas Pamulang “ yang paling gak bisa dilupain tuh, kalah di seperempat final competition futsal champion chip se-Indonesia, itu yang bikin saya gagal kasih piala buat kampus”.

Tetapi karena banyak pengalamannya itu teman-temannya memilih Daud sebagai wakil ketua UFF di Universitas Pamulang mendampingi sang ketua yaitu Masrin Chairuddin. Walaupun sebagai wakil ketua, Daud tetap menjadi pemain di club yang dibuat bersama teman-temannya yaitu Raihan FC. “walaupun saya menyandang jabatan sebagai wakil ketua, tapi saya bakalan terus jadi pemain di club saya, karena futsal atau pun sepak bola, itu adalah olahraga yang paling saya suka”. Ujarnya




2013/12/28

Berita Soft News


MAHASISWA PECINTA ALAM DI UNPAM

Pencinta Alam, seringkali diidentifikasikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan alam. Menjelajah gunung, menyusuri gua, mengarungi keajaiban ,dasar samudera, merambah belantara nan sunyi dan sederet kegiatan ‘alam’ lainnya. Saya akan mencoba menuliskan beberapa pendapat mahasiswa Universitas Pamulang mengenai gunung dan makna dari pecinta alam itu sendiri. Berikut wawancara saya dengan beberapa mahasiswa Universitas Pamulang.

Guntur mulai menyukai mendaki gunung semenjak sampai di rumah setelah pendakian pertamanya ke gunung MT. Gede Pangrango 2916mdpl. “Sejak saya sampai di rumah sepulang dari pendakian pertama saya ke satu gunung yaitu Pangrango, saya mulai cinta dengan gunung dan jalur pendakiannya, juga mulai merasakan rindu pada malam berbintang di atas gunung”.

 Namun ada pula yang berpendapat bahwa  tidak semua pendaki gunung itu dikatakan sebagai pecinta alam. Bukan berarti setiap pendaki gunung bisa dikatakan pencinta alam buktinya saya, saya tidak mau ikut komunitas-komunitas pencinta alam, saya bilang , saya pendaki gunung saya tidak mau dibilang “Pencinta alam” saya hanya “Penikmat Alam”. Ujar Fuad (Fakultas Ekonomi) sambil meneguk kopi yang ada di sampingnya. Kemudian saat saya bertanya gunug terjauh yang pernah didakinya dia hanya menjawab “MT. Merapi 2967mdpl , sebelum letusan”.

Berbeda dengan Fuad atau Guntur, Iqbal salah satu mahasiswa Unpam jurusan Sastra Indonesia dia memberikan pendapatnya sendiri mengenai makna atau tujuan dari pendakian gunung itu “Suasana kebersamaan , tahu siapa dirimu yang sebenarnya, dan yang paling penting di atas gunung kita bisa lebih dekat dan merasakan Sang Pencipta Alam itu. Sujud syukur dan berterimakasih kepada sang Maha Pencipta karena alam dapat saya gunakan , dapat saya manfaatkan untuk berolahraga di alam bebas. Serta menikmati udara sejuk yang tidak bisa saya dapatkan di kota-kota kelam”. Ujarnya dengan nada santai sambil menghirup udara di sore itu.

Namun mereka bertiga ternyata tidak pernah mengikuti komunitas pecinta alam yang ada di kampus, mereka hanya sekedar kumpul-kumpul bersama teman-temannya yang juga suka mendaki gunung. Bahkan bila diberi kesempatan untuk menjadi ketua MAPALA, mereka pun belum siap menerimanya . Karena menurut mereka masih banyak yang belum mereka pelajari tentang alam. “Tidak ada, paling hanya sekedar teman ngopi-ngopi dari sesama pendaki dan bertukar cerita tentang pendakiannya. Dan soal ketua MAPALA, masih banyak yang harus saya pelajari tentang alam, karena sangat sulit mempelajari alam yang tidak mungkin bisa diprediksi. Jadi saya belum siap kalau untuk menjadi ketua MAPALA”. Ujar Guntur (Fakultas Ekonomi). Senada dengan Guntur, Fuad dan Iqbal pun belum siap bila ditunjuk sebagai ketua MAPALA di kampus.

Bahkan kebanyakan para pendaki gunung tidak akan merasakan bosan bila harus kembali ke gunung yang sudah pernah ia daki. “  Tidak ada rasa bosan sama sekali, malah sebaliknya saya akan sangat rindu bila harus pulang ke rumah dan tidak balik lagi kesana”. Ujar Iqbal dengan nada menegaskan bahwa dia sangat mengagumi alam.

Kemudian saya bertanya kembali mengenai pecinta alam sejati itu seperti apa? dengan santai mahasiswa berjaket hitam yang menggunakan syal dilehernya itu  menjawab “Pencinta alam yang tidak hanya cinta alam saat bersama kelompoknya saja, dia harus bisa cinta alam secara individu atau pribadinya tanpa ada yang memperhatikannya sekalipun. Karena kebanyakan pecinta alam yang ecek-ecek itu hanya ingin action di depan kamera”. Ujar Fuad yang senada dengan jawaban Guntur waktu saya mewawancarainya.

“Pencinta alam kan kegiatannya bukan hanya mendaki gunung. Hanya saja kebanyakan pemikiran orang yang tidak tahu mengatakan “Pencinta Alam” sama dengan naik gunung”. Jawaban Iqbal itu yang mempertegas bahwa tidak selamanya pecinta alam itu berarti pendaki gunung. “Kita mencintai alam itu bukan hanya dengan cara mendaki gunung saja, tapi dengan cara hal kecil saja, seperti membuang sampah pada tempatnya itu juga sudah menandakan bahwa kita mencintai alam dan lingkungan sekitar”. Ujar Guntur menambahkan jawaban Iqbal.

Karena kesukaannya mendaki gunung, Guntur sering meninggalkan kuliahnya. Kegiatannya bukan hanya sebagai mahasiswa saja dia juga seorang karyawan di salah satu mall. Jadi, dalam satu tahun dia hanya bisa pergi mendaki lima kali, karena harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja. “saya tinggalkan kuliah saya, kebetulan di Universitas saya jam kuliah saya bisa dikejar dengan absen jalan, dan karena saya juga harus membagi waktu dengan kuliah dan bekerja, jadi saya bisa mendaki lima kali dalam setahun saja sudah bersyukur”.

Dan saya menyukai kata-kata yang dilontarkan oleh Guntur diakhir wawancara saya dengannya. “Masih banyak lagi yang saya tidak bisa ceritakan ketika saya ada di tengah alam , masih banyak pertanyaan yang saya sendiri pun bingung untuk menjawabnya. Tapi kalau memang kamu masih banyak ingin tahu tentang pendaki gunung, ikutlah dengan saya dan kamu akan mendapatkan jawaban yang tidak bisa saya jawab dengan lisan”.

Angle              : Mahasiswa Pendaki Gunung
Narasumber     : Guntur Nur S                        ( Manajemen )
                         Fuad                            ( Manajemen )
 Muhammad Iqbal Hikmatyar ( Sastra Indonesia )

2013/09/03

Cerpen Lingkungan



Terwujud Harmony
Oleh: Novia Indriyani

Bilal terlahir dari keluarga yang sangat kaya. Orang tuanya sangat protektif padanya. Setiap hari yang ia lakukan adalah belajar dan menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di rumahnya. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya, apapun yang Bilal inginkan selalu dipenuhi oleh mereka kecuali  urusan pertemanan dan percintaan Bilal. Dia diperbolehkan jatuh cinta setelah ia lulus kuliah. Orang tuanya juga melarang agar Bilal tidak terlalu akrab dalam berteman. Bilal tidak pernah bermain di luar rumah. Karena orang tua Bilal memang tidak menginginkan hal itu. Bagi bilal kebiasaannya selama ini tidak terlalu bermasalah untuknya. Seperti sepulang sekolah ia istirahat, belajar kemudian bermain games.

Karena Bilal rajin belajar nilai-nilainya di sekolah pun selalu membanggakan, ia juga selalu menjadi juara umum. Kebiasaannya bermain games dan menyendiri itu bukan tanpa alasan. Itu berlangsung setelah kejadian perkelahian Bilal dengan temannya sewaktu SD. Dari situlah orang tua Bilal mulai melarang Bilal untuk tidak bermain di luar dan dilarang untuk tidak terlalu bersosialisasi dengan teman sebayanya. Sampai orang tuanya membelikan Bilal gadget untuk menemani hari-hari Bilal.

Tahun ajaran baru masuk perguruan tinggi pun tiba. Bilal diterima di salah satu Universitas ternama di Jakarta. Saat perkuliahan tiba seperti biasa, bila sedang menunggu  dosen datang atau bila sedang istirahat, Bilal menghabiskan waktunya untuk duduk di sudut kelas sambil memainkan gadget-nya untuk bermain games. Kebiasaan ini memang mulai membosankan, tapi Bilal hanya bisa menikmatinya. Sampai suatu hari ada seorang gadis tomboy yang menghampirinya di sudut kelas sambil bertanya, “hey lo Bilal kan si anak orang kaya itu ?”. tanyanya sambil meledek. Anak satu kelas memang tahu Bilal adalah  anak orang kaya, bahkan dia dipanggil dengan sebutan “cowo gadget” karena kebiasaannya yang suka sekali bermain games yang ada di gadget-nya itu.

“Kamu anak baru itu kan ?” Bilal bertanya sinis. Gadis tomboy itu menjawab “yap” sambil berkata “eh lo gak bosen apa tiap kali ada waktu kosong yang lo lakuin cuma duduk dipojokan sambil main games”. Bilal pun hanya terdiam mendengar perkataan gadis tomboy itu. “ko diem ? kenalin gue Bunga”. Gadis tomboy itu menyebutkan namanya sambil mengulurkan tangan. Bilal pun meraih uluran tangan Bunga sambil menyebutkan namanya. Entah apa yang ada di hati Bilal saat ia berjabat tangan dengan Bunga. Yang pasti Bilal belum pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya.

Setelah perkenalan itu mereka pun berteman. Karena Bunga merasa risih dengan kebiasaan menyendiri dan permainan games yang ada di i-pad Bilal itu, Bunga pun memberikan tantangan kepada Bilal agar dia  bisa menghentikan kebiasaannya bermain games. Bila Bilal bisa melakuan itu, Bunga berjanji akan memberikan Bilal hadiah. Dengan tegasnya Bilal pun menerima tantangan dari Bunga.

Akhirnya Bilal pun berhasil menghentikan kebiasaannya itu, bahkan semua games yang ada di gadget-nya dihapus. Bunga pun mengakui kemenangan Bilal, dan Bunga menepati janjinya pada Bilal. Hadiahnya adalah Bilal diajak jalan-jalan ke puncak tepatnya ke kebun strawberry. Di sana Bilal diajak menanam pohon strawberry oleh Bunga. Setelah itu Bilal di ajak untuk melihat pemandangan yang indah dan merasakan udara yang sejuk juga melihat pohon-pohon yang rindang. Pemandangan dan suasana yang belum pernah dirasakan dan dilihat oleh Bilal sebelumnya.

Sambil memandangi bukit dan gunung-gunung yang kokoh berdiri, Bunga bercerita tentang alam kepada Bilal. Betapa indahnya semua ciptaan Tuhan, dan sayang sekali bila kita melewatkannya begitu saja. Tidak terasa langit pun mulai gelap, mereka pun pulang. Bilal sangat senang hari itu, ia menyesal mengapa baru sekarang ia dipertemukan oleh Bunga. Bunga yang memberikan warna pelangi Dalam hidup Bilal. Dan Bilal berpikir hidup itu bukan hanya dengan kemewahan dan kesendirian. Walaupun kita merasa nyaman saat sendiri dan tidak butuh orang lain, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa manusia hidup butuh sahabat dan juga lingkungan yang bersahabat seperti alam. Tiba-tiba Bunga mengatakan ia akan mengajak Bilal naik ke puncak gunung yang mereka pandangi tadi. Bilal pun tersenyum senang.

Setibanya di rumah, orang tua Bilal  sedang duduk di atas kursi dengan cemas. Dan Bilal pun dimarahi oleh orang tuanya, Bilal pun menceritakan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Sampai pada akhirnya orang tua Bilal melarangnya untuk tidak bermain lagi dengan Bunga. Karena semenjak perkenalannya dengan Bunga, Bilal jadi sering pulang ke rumah lewat dari jam yang sudah ditentukan oleh orang tuanya yaitu jam lima sore. Padahal berkat Bunga Bilal jadi terbuka pada lingkungan, entah itu dengan orang lain ataupun dengan lingkungan yang ada disekitarnya. Dan ayah berkata bila Bilal masih berhubungan dengan Bunga, maka kuliah Bilal akan dipindahkan ke Malang.

Keesokan harinya seperti biasa Bunga selalu mengejutkan Bilal bila Bilal sedang melamun. Melihat wajah temannya yang sangat suntuk, Bunga pun menghiburnya dengan cara menjelek-jelekkan wajah Bunga agar Bilal tersenyum. Bunga pun berhasil membuat Bilal tersenyum. Tapi Bilal tidak mau menceritakan apa yang terjadi padanya.

Jam kuliah pun telah usai, Bilal langsung bergegas keluar kelas tanpa berpamitan pada Bunga. Bilal langsung menuju mobilnya yang memang supirnya sudah menunggu dalam mobil itu. Malam harinya handphone Bilal berbunyi, ternyata Bunga yang menelpon. Bilal sangat senang mendengar suara Bunga walau hanya lewat telepon genggam. Bunga menelpon untuk menepati janjinya yaitu mengajak Bilal naik gunung bersama teman-teman Bunga yang lain. Mendengar ajakan Bunga, Bilal langsung menyetujuinya, tanpa memikirkan resiko yang akan ia terima bila orang tuanya tahu.

Malam itu juga Bilal langsung bergegas mempersiapkan segala sesuatunya dengan bantuan Bunga melalui telepon. Bunga memberi tahu apa saja yang harus dibawa. Keesokan harinya di pagi buta Bilal pergi dari rumah tanpa berpamitan pada kedua orang tuanya. Tanpa rasa bersalah Bilal melewati dinginnya pagi itu dengan berjalan kaki menuju rumah Bunga yang memang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sesampainya di rumah Bunga, semua teman-teman Bunga sudah berkumpul ada tujuh orang teman Bunga yang terdiri dari tiga wanita dan empat pria. Lagi-lagi Bunga membawa Bilal pada situasi dan suasana yang memang tidak pernah Bilal alami. Serunya perkumpulan seperti itu, tidak ada lagi rasa bosan karena permainan games yang itu-itu saja.

Perjalanan yang melelahkan, kini mereka berada di puncak gunung. Bunga senang bisa menepati janjinya pada Bilal. Setelah dua hari berada di atas gunung akhirnya mereka kembali ke rumah. Orang tua Bilal marah besar mengetahui hal itu, dan tidak segan-segan orang tua Bilal langsung mengurus surat kepindahan kuliah Bilal di Malang. Bilal sangat sedih, namun apa boleh buat dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bilal berangkat dua hari setelah orang tuanya mengurus semuanya. Tanpa berpamitan pada Bunga dan mengucapkan terima kasih karena telah memberikan warna pertemanan, lingkungan hidup juga mensyukuri indahnya semua ciptaan Tuhan. Semua itu tak sempat ia ucapkan pada Bunga.

Kini Bilal menjalani hari-harinya sendiri lagi dan ia mulai men-download kembali games yang sudah cukup lama tidak ia mainkan. Karena orang tuanya yang menginginkan Bilal agar fokus pada pendidikannya dan tidak bermain-main. Itu yang membuat Bilal sangat dilarang berhubungan dengan Bunga, sampai harus pindah kuliah. Semuanya terasa kosong dan sepi. Bilal tinggal bersama paman dan bibinya yang setiap saat bisa saja melaporkan kejadian yang Bilal lakukan pada orang tuanya. Sampai pada batas kesepiannya karena tidak ada lagi Bunga yang menemani hari-hari Bilal. Akhirnya Bilal memutuskan untuk mengurus kebun apel yang ada di belakang rumah pamannya setelah pulang kuliah. Berharap dengan begitu Bilal akan selalu merasa bahwa Bunga ada di sampingnya, seperti saat mereka menanam bibit di kebun strawberry waktu itu. Dan Bilal berjanji pada dirinya sendiri bila dia pulang ke Jakarta nanti, dia akan langsung menemui Bunga walaupun orang tuanya melarang. Karena Bilal merasa dia benar-benar menyayangi Bunga.