Tampilkan postingan dengan label Gatot Sanyoto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gatot Sanyoto. Tampilkan semua postingan

2013/09/05

Cerpen Lingkungan



WONOGIRI 27 MEI 2006

Terdengar riuh suara sahutan ayam yang berkokok bangunkan tidurku pagi itu. Ketika aku mulai terbangun, lekas ku langkahkan kaki perlahan menuju kamar mandi, dengan suara yang masih terasa berat di tenggorokan dan juga mata yang belum sepenuhnya terbuka lebar, ku bertanya pada ayah ku yang tampak pagi-pagi sudah terlihat rapi dan sangat harum itu  “ayah mau kemana pagi-pagi begini??” tanyaku lirih. Dengan sibuk ayahku yang masih membenarkan ikat pinggangnya pun lekas menjawab pertanyaanku “ayah disuruh nganterin bos ayah yang di kantor ke bandara, nanti siang mau ada rapat katanya” dengan serius ku perhatikan tiap detail yang ayah katakan padaku dan hanya singkat aku jawab “ouwh gitu ya yah...” “karena juga tak begitu penting bagiku si bos mau kemana, hehehe gumam ku dalam hati”.
Belum ada 5 menit aku berada di dalam kamar mandi, terdengar suara yang terasa sedikit lantang yang di tunjukkan untukku, ya... suara itu dari ayahku, nampaknya ia sudah siap dan hendak lekas berangkat “jangan lama-lama di kamar mandinya, cepat antarkan ayah ke kantor ! soalnya ke bandara pakai mobil kantor” ingin sekali rasanya aku menutup telingaku sekencang mungkin agar ku tak mendengarnya dan aku masih bisa berlama-lama di kamar mandi, tapi sepertinya jika hal itu benar-benar aku lakukan juga percuma saja, karena ayah mengatakannya tepat di depan pintu kamar mandiku. Dan aku pun cepat-cepat segera keluar dari kamar mandi, terdengar suara mama ku yang sedang mencuci baju di belakang sedang mengomel kepada ayahku, karena ayahku yang jahil, baru jam 5 pagi dia sudah sibuk mengganggu adikku yang sedaang terlelap tidur hingga terbangaun. Pantas saja jika mama ku mengomel pada si ayah, karena kalau pagi adikku sudah bangun itu pasti akan sangat merepotkan, apalagi aku sedang di suruh mengantarkannya ke kantor. Mengapa bisa ku katakan hal yang sangat merepotkan? Karena adikku saat iyu baru berusia sekitar 5 bulan, jarak kami memang cukup jauh, terpaut 10 tahun dengan umurku.
            Tak lama kemudian, melihat aku yang sudah keluar dari pintu kamar mandi, ayahku lalu cepat-cepat menggendong adikku keluar kamar dan menidurkannya di depan televisi, kebetulan di rumahku di depan televisi ada kasurnya, jadi bisa untuk tidur adikku sambil di awasi mamaku dari tempatnya mencuci baju lagi pula kasur di depan televisi hanya di letakkan di lantai saja, tak seperti yang di kamar. Waktu menunjukkan pukul  05:00 ayahku segera berpamitan dengan mamaku dan juga adikku. Aku pun mengantarkan ayahku ke kantor, sekitar pukul 05:45 aku sampai di rumah. Jarak dari kantor ayahku dengan rumahku memang lumayan agak jauh. Samapai di rumah aku lalu ganti baju dan menyanding adikku yang sedang asyik di ajak bermainan dengan anak  tetanggaku yang masih TK. Tak lama kemudian terdengar begitu keras suara cendela kaca yang seakan mau pecah, begitu terasa liyukan demi liyukkan tubuh ini, tersadar dari semua itu bahwa yang ku rasakan pagi iitu adalah gempa, gempa yang sungguh sangat dahsyatnya bagiku yang merasakan baru pertama kali itu, terbesit dalam benakku bahwa kiamat sudah datang. “mama.....mama......lari..............” dengan suara sangat kencang ku katakan itu pada mama ku yang masih mencuci baju di belakang, “risa lari.......bawa adikmu keluar” tak kalah dengan suaraku yang sangat kencang mama ku juga meneriakkan hal yang sama, lalu dengan sangat sigap aku menggendong adikku yang berada di kasur, dengan tangan ku yang satunya menarik anak tetanggaku tadi agar cepat keluar dari rumah, di jalan depan rumahku sudah di penuhi banyak orang yang juga keluar rumah bersama anak-anaknya, mamaku berlari lewat pintu saamping rumah sementara aku lewat pintu depan. Di luar sambil menggendong erat adikku yang sedang menangis kencang, mungkin karena ia ketakutan langsung ku angkat tadi dari tempat tidur tanpa perlahan seperti biasanya dan juga karena mendengar aku dan orang-orang yang lain berteriak “ALLAH HU AKBAR ALLAH HU AKBAR ALLAH HU AKBAR....!!!!!” tetesan air mata tak terbendung lagi merasakan goncangan gempa yang sangat dahsyat dan juga menyaksikan bangunan rumahku yang perlahan ambruk, pohon-pohon yang tumbang di dekat rumah, sungguh tak pernah ku bayangkan hal ini terjadi sebelumnya.
            Setelah gempa yang sangat besar tadi perlahan berhenti, kami semua masih berada di luar rumah karena masih takut jika ada gempa susulan yang mungkin juga skalanya masih besar. Cepat-cepat aku menelpon ayah ku yang mungkin masih ada di perjalanan “ayah.....ayah dimana?? Ayah baik-baik sajakan?? Ada gempa yang kencang sekali yah barusan, aku takut... ayah pulang aja ya sekareng” dengan suara terbata-bata kerena isak tangis ku yang semakin membuat ku sulit untuk berkata, sengaja mama ku tak langsung berbicara dengan ayah ku karena saat adikku menangis kencang tadi ia ku lepas dari gendonganku dan ku berikan pada mama, hingga saat itu mama ku masih sangat shock dan mencoba menenangkan adikku. “ayah tidak apa-apa ris, gimana kamu, mama, sama adik?? Semua baik-baik saja kan??? Tidak kena apa-apa kan??” pertanyaan ayah ku dengan nada yang begitu cepat dan juga penuh rasa khawatir, “nggak yah.. kami semua baik-baik saja, aku mohon ayah pulang saja sekarang” dengan lirih ku tegaskan pada ayahku “iyaa nak, ayah pulang, ayah pulang sekarang, tunggu ayah di rumah” mungkin bos ayah ku juga sedang di telpon anak atau istrinya dan segera membatalkan untuk berangakat ke bandara, makanya ayah langsung menjawab dengan tegas dan juga tanpa pikir panjang lagi.. “iya yah..  hati- hati di jalan” lalu ku tutup telpon dan aku mendekat lagi pada mama ku. “gimana ris?? Ayah mu tidak apa-apa kan?? Dimana dia sekarang?? Apakah kamu menyuruhnya pulang??” pertanyaan mama yang penuh rasa cemas dan khawatir menghampiriku tanpa menanyakannya satu persatu. “nggak mah, ayah nggak kenapa-kenapa, dia ttadi sedang di jalan, belum jauh dari rumah katanya, sekarang ayah akan segera pulang, kita tunggu saja”.
            Satu jam berlalu dan ayah ku tiba di rumah, yang saat itu jalanan masih dipenuhi warga karena tak ada satu pun yang berani masuk ke rumah masing-masing, mengingat daritadi banyak sekali gempa susulan yang kami rasakan. Ayah datang dengan membawa mobil kantornya, karena ia tadi berangkat aku yang mengantarkan ke kantor, sementara bos nya sudah di antarkan kerumahnya sendiri. Begitu ayah keluar dari mobil sontak aku, mam dan adikku datang menghampiri dan memeluknya, seolah meumpahkan semua rasa ketakutan yang kami rasakan sedari tadi. Kami pun segera menceritakan kronologi yang terjadi di rumah saat gempa tadi pagi. Ternayata sebelum aku menelpon dan juga sebelum istri dari bos ayahku tadi menelpon dan memberi tahu bahwa terjadi gempa, ayah dan juga bos nya sama sekali tidak tahu bahwa saat mereka di jalan tadi sedang ada gempa. Mereka hanya kebingungan mengapa banyak orang di sekitar jalan yang berhamburan keluar rumah.
            Beberapa jam kemudian ayah ku memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah yang beberapa bagian mungjkin hanya tersisa puing-puing nya saja, tak heran jika rumah yang ku tempati mudah roboh tak seperti beberapa rumah tetanggaku yang masih kokoh berdiri, karena rumah yang ku tempati adalah rumah kontrakan yang sudah ccukup lama juga bangunannya, tentu kami tidak berani merenovsi sendiri karena juga bukan hak kami.
Ironisnya saat memasuki kamar tidur, semua barang-barang sudah berjatuhan berserakan entah kemana, apalagi di atas tempat tidur tepatnya di bantal adikku saat tertidur sebelum di pindahkan ke kasur depan televisi terlihat reruntuhan batu bata yang jatuh dari atas, dan di rumahku, kerusakan yang sangat parah hanya di dalam kamar saja. Tempat yang lain tidak sampai ambruk, hanya saja barang-barang yang di letakkan di atas semuanya jatuh. Tak lama kemudian ayahku keluar dari rumah dan menceritakan apa yang sudah di lihatnya baru saja kepada kami, isak tangis pun semakin kencang terdengar dari mama sambil memeluk adikku sekencang mungkin mengingat tadi ia marah-marah karena ayah ku membangunkan si kecil saat mama masih kerepotan, tak bisa terbayangkan apa yang akan terjadi jika tadi ayahku tak menggoda adikku yang sedang tidur, mungkin sepulang aku mengantarkan ayah aku akan membantu mama di dapur terlebih dahulu tanpa mengganggu adikku yang sedang tidur pulas sebelum semuanya sudah selesai.
            Karena rumah kami yang sangat rawan sekali rubuh, aku dan keluargaku tidur di emperan masjid dekat rumah dengan membawa perlengkapan seadanaya. Namun kami tidur di masjid hanya hingga sebelum maghrib, setelah itu kami semua mengungsi tidur di rumah nenekku yang hanya berjarak dekat dari rumah kami, disana kami melihat tayangan telavisi yang menyiarkan gempa besar yang ku alami pagi tadi, ternyata gempa itu berpusat di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berkekuatan 5,9 skala richter yang terjadi selama 57 detik. Aku dan keluarga ku tinggal di rumah nenek hingga akhirnya rumah kontrakan ku selesai di renovasi dan nyaman untuk di tempati lagi.

2013/06/29

CERPEN CINTA



Suka Duka Cerita Cinta
Siang itu selesai ganti baju dan lepas sepatu, dan  melakukan kebiasaan yang hampir setiap hari di lakukan, tiduran sambil lihat TV, yaaahh... hal yang biasa dilakukan oleh anak sekolah setelah selesai sekolah. Sebut saja Megha. Saat berbaring di atas kasur depan TV sambil chattingan lewat HP, Megha melihat ada satu pesan masuk di akun Facebook nya. Lalu Megha membuka pesan itu dan ternayata itu sebuah pesan dari seorang cowok, sebut saja Ghandy. Ternyata cowok itu mengomentari status yang baru saja di tulis oleh Megha, sejenak Megha pun berpikir “kalau coment status, kenapa gag langsung di status aja ku yaa, kayak yang lainnya??” . Karena penasaran, Megha pun membalas pesan yang di kirim Ghandy lewat Facebook, dan ternyata ada maksud tersendiri kenapa Ghandy mengomentari status lewat pesan, yaa.... seperti kebanyakkan cowok lainnya, disitu Ghandy mengajak Megha kenalan. Entah kenapa bukan bermaksud munafik, tapi itulah Megha, dari sebelum-sebelumnya setiap kali ada cowok yang ngajakin Megha kenalan, apalagi lewat dunia maya pasti nggak akan ada yang dapet respon dari Megha, tapi saat si Ghandy ngajakin Megha kenalan, dengan penuh basa basi Megha mau berkenalan dengannya.
Beberapa hari Megha berkenalan dengan Ghandy, lewat dunia maya, akhirnya si cowok Ghandy pun memberanikan diri untuk meminta nomor HP si Megha. Awalnya Megha berpikir “aduuuhh... kasiih nggak ya?? Kalau di kasih takut nantinya tambah ada masalah sama cowok aku, tapi kalau nggak di kasih, dia nya lumayan asyik sih buat di ajakin ngobrol, apalagi saat ini aku lagi butuh banget temen cowok buat ngehibur aku.. haduhh....” dengan berpikir panjang, Megha pun tidak langsung membalas pesan dari Ghandy. Namun tidak sampai situ saja Ghandy meminta nomor HP Megha, hingga beberapa kali Ghandy meminta nomor HP Megha, akhirnya Megha pun jera juga dan memberikan nomor HP nya.
Kenalan pun berlanjut lewat sms dan juga telepon, tentunya Ghandy yang telepon Megha. Namun sempat Megha risi dengan sikap Ghandy yang baru awal berkenalan saja sudah bilang sayang dan juga cinta. Tetapi semua itu tidak di respon oleh Megha, karena ia mengingat bahwa ia berstatus masih menjadi kekasih dari cowok lain, beda dengan Ghandy yang mungkin sudah tak menghiraukan lagi bahwa ia juga mempunyai seorang pacar. “yaa.. tampang-tampang playboy cap kadal yaa kayak gini nih sob” ucap Megha kepada sahabat-sahabatnya yang kebetulan saat Ghandy telepon Megha, ia sedang bersama teman-temannya.
Beberapa hari kemudian dengan penuh rasa percaya diri Ghandy menyatakan cinta pada Megha, baik lewat sms atau bahkan lewat telepon sekali pun, saat telepon Ghandy pun berkata “deg.. mau nggak jadi pacar aku??” hal itu tentu sangat membuat Megha risi lebih dari yang sebelumnya pada Ghandy, meskipun Ghandy baik dan juga sudah bisa menghibur hati Megha yang sedang terluka karena saat itu Megha ada masalah dengan pacarnya. Namun seharusnya Ghandy juga harus bisa berpikir secara lebih dewasa bahwa situasi saat dia mengatakan cinta itu adalah di situasi yang tidak tepat. Karena Megha juga bukan tipe cewek yang mau jika diminta untuk mendua. Dan akhirnya Megha pun juga menjawab dengan rasa penuh percaya diri bahwa “maaf mas aku nggak bisa jadi cewek kamu” dan langsung Megha menutup telepon dari Ghandy.
Pada awalnya memang Ghandy terlihat berbeda tidak seperti biasanya, dia terlihat cuek, dan bahkan udah nggak asyik lagi. Megha pun juga tidak mau ambil pusing dengan perubahan sikap Ghandy, karena dia juga menyadari kenapa Ghandy bisa sampai seperti itu. Namun hal itu tidak berlangsung lama, kira-kira dua minggu kemudian, Ghandy menghubungi Megha kemali sambil dia berkata “deg.. kamu kok gag hubungin aku duluan kalau aku nggak hubungin kamu??” pesan singkat lewat HP itu tidak di gubris oleh Megha, dan tak lama kemudian Ghandy pun telepon Megha, setelah lama telepon itu berdering, Megha pun akhirnya mau menjawab telepon dari Ghandy. Disitu Ghandy sama sekali tidak membicarakan atau bahkan mempermasalahkan masalah perasaannya yang pada saat itu di tolak mentah-mentah oleh Megha. Saat mereka berbicara melalui telepon, Ghandy hanya mengutarakan bahwa ia sangat merindukan Megha, dengan jawaban yang sama, Megha pun tidak menanggapi perasaan rindu yang di utarakan oleh Ghandy. Dan akhirnya saat mereka berdua ngobrol, Ghandy menceritakan bahwa ia sedang ada masalah dengan pacarnya. Layaknya seperti seorang sahabat dekat, Megha pun menanggapi masalah yang sedang di alami oleh Ghandy tersebut dan juga memberika sedikit solusi yang baik supaya Ghandy bisa baikkan lagi dengan pacarnya.
Megha mungkin berbeda dengan wanita yang lainnya, Ghandy pun semakin penasaran dengan satu cewek ini. Semakin besar pula keinginan Ghandy untuk mendapatkan hati Megha, dengan penuh perlahan Ghandy terus mendekati Megha, Ghandy juga pernah mengatakan bahwa “anggap saja aku ini kakak mu yang bisa buat tempat curhat mu dimana kamu lagi sedih, tapi juga jangan lupain aku kalau kamu lagi seneng yaa dek” begitu terharu Megha mendengarkan kata-kata yang terlihat begitu tulus itu untuknya.
Dan hingga pada suatu saat, Ghandy pun pulang ke Kampung nya, karena dia sebelumnya Kuliah di Jakarta. Sebenarnya Megha mengetahui jika Ghandy pulang ke kampungnya yang dimana itu adalah satu daerah dengan rumahnya, akan tetapi Megha sama sekali tidak pernah mengajak atau bahkan ingin bertemu dengan Ghandy. Hingga samapai tiba waktunya saat itu sedang bulan puasa, sekitar pukul 15.00 WIB Ghandy mengirim pesan untuk Megha yang isinya “deg.. lagi dimana?? Ketemuan yuukk J” saat itu kebetulan megha juga sedang keluar dengan salah satu sahabatnya Wulan. Dan akhirnya Megha mau diajak ketemuan, setelah menentukkan tempatnya dan juga memberikan ciri-cirinya, Megha dan temannya Wulan bermaksud datang menghampiri Ghandy yang katanya dia disana denngan seorang temannya. Namun, sesampainya di tempat yang sudah di sepakati, disana Ghandy malah tidak hanya berdua dengan temannya, namun dengan banyak orang teman-temannya. Langsung Megha dan Wulan tancap gas putar balik ke arah pulang ke rumah. Rupanya dijalan Ghandy banyak sekali mengirim pesan untuk Megha yang isinya menjelaskan bahwa memang tadi Ghandy hanya berdua tetapi tiba-tiba banyak teman-temannya yang datang menghampiri, dan Ghandy bermaksud mengajak Megha ketemu lagi saat itu. Namun Megha tidak mau karena ia sudah dalam perjalanan pulang ke rumah, Ghandy pun mengatakan “kamu dimana deg?? Aku kesana sekarang, kamu jangan pulang dulu please... L” akhirnya Megha menunggu Ghandy yang katanya akan datang menemuinya. Waktu pun menunjukkan bahwa sudah saatnya berbuka puasa, sambil menunggu Ghandy datang, Megha pun membeli segelas es teh untuk berbuka puasa. Sekitar 15 menit kemudian Ghandy pun datang dan berjalan menghampiri Megha yang sedang duduk sambil minum es teh, Megha bersalaman dengan Ghandy dengan wajah memerah dan juga malu-malu karena ini merupakan hal yang pertama kai di lakukan, yaitu ketemuan dengan cowok saat ia sudah mempunyai pacar. Pertemuan itu pun tidak berlangsung lama, karena Megha juga sudah disuruh ibu nya pulang untuk segera berbuka puasa. Sesamapainay di rumah Megha menanti sms dari Ghandy karena ia tidak mau sms duluan dengan pemikiran Megah yang lugu, ia berpikir “kalau Ghandy nggak sms aku berarti aku jelek” dengan wajah cengar cengir sendiri. Namun ternyata Ghandy sms Megha, begiu bahagianya Megha menerima sms itu layaknya ia lupa jika ia tak mempunyai kekasih.
Saat Ghandy dan juga Megha sedang PDKT tak sering banyak masalah yang menghampiri salah satu dari mereka karena hubungannya dengan pacar masing-masing. Megha terutama yang sering ada konflik dengan pacarnya, dalam hati Ghandy pun sedikit munafik, ia memberikan saran kepada Megha aar Megha dengan pacarnya bisa baikkan seperti dulu lagi yang padahal Ghandy ingin bisa sepenuhnya memiliki Megha. Hingga akhirnya masalah yang dihadapi Megha dengan kekasihnya tak kunjung usai, sebenarnya Megha ingin menyudahi semua masalah yang sedang di hadapinya, namun entah apa yang membuat ia berat meninggalkan kkekasihnya saat itu. Hal itu membuat Ghandy merasa sangat kesal hingga mereka tak lagi berhubungan hingga 2 minggu lamanya. Kembali lagi seperi sebelumnya saat Ghandy sedang kuliah di Jakarta, selama tidak berhubungan dengan Megha, Ghandy merindukan Megha, entah hal apa yang membuatnya selalu rindu dengan Megha, hingga akhirnya Ghandy menghubungi Megha dan mereka ketemuan lagi. Hingga sampai akhirnya tiba waktunya jika Ghandy harus kembali kuliah ke Jakarta.
Selang beberapa waktu kemudian saat Ghandy sudah berada di Jakarta, dia merelakan pulang lagi ke kampung halamannya dengan menggendarai sepeda motor melawan teriknya sang mentari, dinginnya malam, dan juga tetesan air hujan, itu semua dilakukan Ghandy untuk membuktikan cintaya kepada Megha yang dimana saat itu Ghandy mengetahui bahwa Megha sudah tidak lagi bersama kekasihnya yang dulu. Namun saat pulang ke kampung halamannya, sayang sekali Ghandy hanya bisa bertemu dengan Megha sebanyak satu kali. Itu juga hanya sekitar satu jam, saat Ghandy menjemput Megha yang sedang pulang sekolah, dan hanya mamipir warung sebentar untuk membeli segelas es degan, saat itu merka hanya mengobrol-ngobrol tetapi Ghandy juga sama sekali tidak menyatakan cintanya lagi, tak lama kemudian Ghandy mengantarkan Megha pulang kerumah. Hanya beberapa hari pulang, Ghandy pun berangkat lagi ke Jakarta.
Disana Ghandy hampir setiap hari menelpon Megha saat ia sudah pulang dari sekolah, Ghandy juga selalu menemani Megha meskipun hanya bisa lewat dunia maya saja, namun hal itu sungguh sangat membuat Megha simpati dan juga sedikit demi sedikit rasa sayang itu tumbuh di hati Megha, namun Megha juga menyadari “siapa aku??? Dia kan punya kekasih, nggak mungkin aku berharap lebih yang nantinya hanya akan buat aku sakit, apalagi dia nggak pernah lagi bilang sayang sama aku” dengan perasaan bahagia bercampur sedih Megha selalu memikirkannya. Hingga pada suatu hari Ghandy pun sudah tidak bisa membohongi perasaannya sendiri bahwa ia sangat mencintai Megha dan tidak mau kehilangannya untuk kesekian kalinya lagi. Ghandy mengutarakan rasa sayang dan cintanya yang tulus kepada Megha, sebenarnay Megha masih juga bingung dengan pengakuan Ghandy yang untuk kesekian kalinya ini karena Ghandy masih memiliki seorang kekasih. Yang akhirnya Megha meminta bukti dan berkata “jika sungguh perasaan itu ada, aku minta bukti atas perasaan mu untukku” Ghandy pun menjawab “aku akan membuktikannya, kamu minta apa dek??” dengan tegas Megha menjawab ”putus pacarmu lewat telpon lalu sambungin ke aku, kamu mau??” tanpa berpikir panjang Ghandy menelpon pacarkan mengucapkan kata-kata putus seperti bukti yang aku ingainkan, meskipun dengan alasan Ghandy yang hanya singkat yaitu karena sudah merasa tidak nyaman. Akhirnya mereka berdua putus dan Megha dan Ghandy akhirnya merajut cinta hingga sekarang dan mereka sangat bahagia, karena mereka berdua bisa saling melengkapi satu sama lain.

2013/06/22

CERPEN



SENI TRADISIONAL REOG
Di tanah air kita ini tentunya banyak sekali keanekaragaman kebudayaan, bahasa, dan juga adat istiadat. Hal ini bisa terjadi dikarenakan secara geografis Negara Indonesia adalah Negara kepulauan, dimana antara satu pulau dengan pulau yang lain jaraknya terpisahkan dengan lautan atau samudera. Salah satu dari keanekaragaman budaya Indonesia itu sendiri adalah Seni dari Jawa Timur tepatnya di Ponorogo, yaitu Seni Reog atau yang sering di sebut dengan Reog Ponorogo.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai Singa Barong. Singa Barong adalah raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng Singa Barong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya. Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng Kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.
Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.
Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar.
Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.
Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.
Beberapa karakter pemain dalam pementasan seni Reog :
-         Singo Barong
Topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singo Barong“, raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya.
-         Jatilan
yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit
-         Bujangganong
Pujangganong atau Bujangganong adalah penari dan tarian yang menggambarkan sosok patih muda ( Patihnya Klana Sewandana) yang cekatan, cerdik, jenaka, dan sakti. Sosok ini digambarkan dengan topeng yang mirip dengan wajah raksasa, hidung panjang, mata melotot, mulut terbuka dengan gigi yang besar tanpa taring, wajah merah darah dan rambut yang lebat warna hitam menutup pelipis kiri dan kanan.
-         Klana Sewandana atau Klono
Penari dan tarian yang menggambarkan sosok raja dari kerajaan Bantarangin ( kerajaan yang dipercaya berada di wilayah Ponorogo zaman dahulu. Sosok ini digambarkan dengan topeng bermahkota, wajah berwarna merah, mata besar melotot, dan kumis tipis. Selain itu ia membawa Pecut Samandiman; berbentuk tongkat lurus dari rotan berhias jebug dari sayet warna merah diseling kuning sebanyak 5 atau 7 jebug.
-         Warok Suromenggolo
Dalam pentas, sosok warok lebih terlihat sebagai pengawal/punggawa raja Klana Sewandana (warok muda) atau sesepuh dan guru (warok tua). Dalam pentas, sosok warok muda digambarkan tengah berlatih mengolah ilmu kanuragan, digambarkan berbadan gempal dengan bulu dada, kumis dan jambang lebat serta mata yang tajam. Sementara warok tua digambarkan sebagai pelatih atau pengawas warok muda yang digambarkan berbadan kurus, berjanggut putih panjang, dan berjalan dengan bantuan tongkat.
            Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku.

2013/05/05

DESKRIPSI DENGAN PENGEMBANGAN OBSERVASI MENURUT SPASI DAN WAKTU


Hiruk Pikuk di Pasar Bukit

Setiap pagi selalu terlihat begitu riuh suasana di Pasar bukit. Banyak para pedagang dan juga pembeli yang berlalu-lalang. Mulai sekitar empat dini hari, Pasar Bukit tlah nampak banyak lautan manusia di dalamnya. Hembusan angin malam yg merasuk hingga ke tulang dan setiap tetesan embun pagi yang begitu dingin terasa, namun tak di hiraukan atau di rasakan lagi oleh mereka-mereka yang bekerja keras untuk mengais rezeki untuk keluarga tercinta tentunya.
Setiap hari Pasar Bukit tak pernah nampak lengang, karena  merupakan suatu pasar tradisonal dan harganya juga cukup terjangkau. Jika pada dini hari hingga pagi hari pada umumnya banyak pedagang-pedagang pasar yang menjual sayuran, kebutuhan dapur, dan juga aneka makanan dan minuman hangat untuk para pembeli.
            Berbeda jika siang hari, pada umumnya beberapa kios yang pada dini hari belum membuka lapaknya, apabila siang hari terlihat kios- kios tlah membuka lapaknya, biasanya sekitar pukul delapan hingga pukul empat sore. Sangat terlihat semakin ramai saja Pasar Bukit di siang hari. Jika embun pagi tak lagi menetes dan tlah digantikan hangatnya sang mentari, banyak pedagang-pedagang pasar yang terlihat berjualan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari seperti kelontong, baju, sandal, alat elektronik, buah-buahan, makanan ringan, dan juga banyak yang menjual makanan siap saji dan juga aneka macam minuman dingin.
            Dan jika sore hingga malam hari pada umumnya pukul empat hingga sepuluh malam para pedangang menjual dagangan yang tidak jauh berbeda dengan pada saat dini hingga pagi hari. Ketika sang mentari tlah tenggelam dan kan ada rembulan yang siap tuk gantikan tuk pancarkan sinarnya, nampak terlihat banyak pedagang yang berkemas untuk kembali ke rumah mereka masing- masing yang tlah selesai mengais  rezeki dari pagi hingga sore hari. Dan saatnya bergantian dengan para pedanga yang akan menjual barang dagangan yang siap di pasarkannya pada saat malam hari. Banyak pedagang yang menjual dagangan seperti masakan yang masih hangat dan siap saji.